Tinggalkan komentar

Lelaki yang Menunggu Hujan dan Kabut – Cerpen Dhimas Widianto

LELAKI YANG MENUNGGU HUJAN DAN KABUT

Cerpen Dhimas Widianto

Bangau-bangau telah pulang menuju sarang di punggung bukit. Anak tupai kembali ke peraduan. Sudah tak tampak pula domba-domba yang menghiasi tanah lapang. “Malam ini hujan dan kabut akan datang..” Gumam lelaki sembari memandang awan yang berarak di langit sore. Lalu segera menuju beranda duduk di atas kursi tua. Menanti malam segera tiba.

Sudah berapa lama? Entahlah, yang jelas bunga-bunga cempaka dan kenanga yang dulu menghiasi halaman kini telah tertutup ilalang. Ranting dan daun-daun berserakan. Rumah kayu pun telah lapuk dimakan rayap karena tak terawat. Belum lagi sekelompok kelelawar yang bersarang di langit-langit ruang tamu. Dan hingga kini, setiap malam lelaki terus menunggu datangnya hujan dan kabut di sela rerimbunan bambu-bambu depan rumah kayunya.

Dia tinggal sendirian di rumahnya di ujung desa dekat kuburan tua. Uban-uban di rambut menampakkan usianya yang telah senja. Tubuh kurus terbungkus kain lusuh. wajah tirus dan sayu. Kaki pincangnya disangga tongkat dari ranting jati. Lelaki gila, begitu orang-orang biasa menyebutnya. Yang kegilaannya untuk merindu. Merindu kehadiran hujan dan kabut.

Rindu lelaki pada hujan dan kabut. Bukan hanya hujan, juga kabut. Tidak salah satu di antara keduanya. Jika hujan datang lalu kabut menghilang lelaki akan terus merindu. Jika kabut datang tanpa hujan maka hanya terdengar helaan nafasnya yang keluar satu-satu. Lalu terus menunggu datangnya hujan dan kabut di sela rerimbunan bambu-bambu depan rumah kayu.

Jangan tanya padanya tentang cinta, karena lapar yang menjejali tak dirasa, gigil pada malam di tiap inci tulang belulang pun telah dibunuh demi yang dicinta. Cinta akan datangnya hujan dan kabut. Jangan mengajarinya tentang rindu, karena lelaki hampir buta karena air mata yang keluar oleh rindu yang mendalam. Rindu pada hujan dan kabut di sela rerimbunan bambu-bambu depan rumah kayu.

Ditemani bulan yang bersinar keperakan di langit malam, lelaki masih duduk di beranda di atas kursi tua. Terus dia pandangi rerimbunan bambu-bambu depan rumah kayu. “Oh hujan dan kabut..” Gumamnya lirih sembari menangis tertahan sepanjang malam, setelah hingga pagi hujan dan kabut di sela rerimbunan bambu-bambu depan rumah kayunya tak kunjung datang.

***

Sepi.. Hanya terdengar gesekan daun-daun bambu. Lelaki diam dalam senja menunggu malam. Pandangi semburat merah mentari yang enggan untuk pulang. Lelaki telah berada di beranda, duduk di atas kursi tua. Menunggu hujan dan kabut yang mungkin malam nanti kan tiba.

Benar-benar gila kah lelaki? Entahlah. Sementara rumah kayu, rerimbunan bambu-bambu, dan kelelawar yang bersarang di langit-langit ruang tamu menjadi saksi rindunya. Lalu sampai kapan? sedang malam hanya diam? Lalu cempaka dan kenanga yang tumbuh di halaman tak mampu obati rindu lelaki? Ah, lagi-lagi hanya entah.

Tak ada yang tahu pasti apa yang akan dilakukannya jika hujan dan kabut benar-benar datang. Memeluk hujan dan mencumbu kabut kah? Menyetubuhi keduanya untuk hilangkan rindu? Atau mungkin akan bunuh diri lelaki sebagai penawar sepi. Pun tak ada yang tahu kenapa rindunya pada hujan dan kabut. Mereka kekasih lelaki kah? Ah..

***

Lelaki gamang mengeja malam, menunggu hujan dan kabut yang dirindukan. Resahnya pada bintang yang berserakan. Bersama cericit kelelawar di sela dedauanan dia masih menunggu di beranda, duduk di atas kursi tua. “Kapan hujan dan kabut akan datang?” Tanyanya pada waktu. Sementara rerimbunan bambu-bambu tak bosan temani lelaki merajut rindu.

Sesekali pandangannya pada awan yang bergelantungan di langit malam. Berharap segera turun hujan dan datang kabut sebelum reda. Nafasnya dihembuskan satu-satu tampakkan resah. Sementara tongkat dari ranting jati melukis serupa hujan dan kabut, digerakkannya perlahan di atas tanah. Mulutnya bergumam sendiri. “Hujan.. Kabut.. Hujan.. Kabut..”

Dan.. Lelaki masih di beranda, duduk di atas kursi tua. Hanya diam pada malam menahan kerinduan yang mendalam. Rindu hujan dan kabut di sela rerimbunan bambu-bambu depan rumah kayu.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: