Tinggalkan komentar

Perempuan Itu – Cerpen Armin Bell

PEREMPUAN ITU

Cerpen Armin Bell

16 Juni 1986 – Manggarai

Hari ini, lelaki kecil itu genap berusia enam tahun. Tepat di awal tahun ajaran baru. Seminggu yang lalu, Ibu sudah menyiapkan kado ulang tahun. Sepasang seragam sekolah dasar dengan merk Laila Purnama. Hari ini dikenakannya dengan bangga. Masuk kelas satu baru dengan seragam baru, tepat di usia yang baru tambah satu. Ibu menyiapkan semuanya dengan baik. Selama sekian tahun, tak ada yang terlihat aneh. Semua rapi, berjalan dengan baik, dan tahu apa dia tentang sulitnya mengatur uang gaji Ayah?

Yang dia tahu adalah memanggil kencang ibunya ketika ada yang dirasanya tak bisa diselesaikannya sendiri, “Ibuuuu… tali sepatuku manaaaa?” Dan ibu menyiapkannya dengan sabar. Perempuan itu…

***

17 tahun 3 bulan kemudian – Malang

“Terima kasih buat yang sudah gabung dan ikut ngobrol bareng saya di Rendezvous malam ini. Empat menit lagi kita sampai di jam 10 malam, tuntas sudah tugas saya malam ini, semoga kebersamaan kita menyenangkan, dan mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang mungkin kurang berkenan. Saya Alex pamit, selamat malam dan sampai jumpa…” Di belakang suaranya, I Don’t Wanna Miss A Thing-nya Aerosmith mengalun perlahan.

Selesai menyiapkan slot iklan untuk penyiar berikutnya dan merapikan call box, aku beranjak keluar.

“Ri, aku udah kelar, iklanmu udah aku siapin,” kataku pada Ari, penyiar setelahku.

Suwun… langsung pulang?” tanyanya dan lalu masuk call box tanpa menunggu jawaban. Sialan… Basa-basi yang basi, pikirku. Tetapi untunglah, dia segera masuk. Toh aku tak punya niat ngobrol, ada sesuatu yang menungguku.

Beberapa hari terakhir, lepas jam sepuluh malam adalah saat yang menyenangkan. Suasana Malang yang tak panas juga tak sangat dingin memberi peluang pada tiap penghuninya untuk tak terburu meringkuk di kamar. Pun aku  dan dua kawan. Mereka adalah teman sekampus, beda jurusan dan beda kesibukan. Aku nyambi sebagai penyiar dan mereka sibuk dengan kegiatan ekstra kampus. Dan adakah yang lebih menyenangkan buat para lelaki muda selain bicara tentang perempuan? Ya… perempuan selalu menarik, dan hari-hari terakhir obrolan warung gorengan kami, pasti tentang perempuan.

Yang satu namanya Vester, anak teknik sipil yang lebih senang dikenal sebagai aktivis komunitas seni. Pasti sudah menunggu di warung gorengan depan kampus, dengan bergelas-gelas kopi. Dia selalu datang lebih awal, paling semangat bicara, selalu berapi-api dan merasa benar. Senang berdiskusi tentang perempuan, menyebut diri sebagai satu dari sedikit feminis pria di bumi Indonesia. Sering membanggakan diri sebagai orang yang mampu melahirkan paradigma baru tentang perempuan. Ini paradigmanya: Perempuan pasti ingin dimanja, sehingga kalau mau mendapatkan perempuan, buatlah mereka merasa dimanja.

Kuatnya keyakinannya pada paradigma yang katanya benar itu, membuatnya ingin menulis skripsi tentang perempuan. Padahal dia anak teknik sipil dan masih semester delapan. Melihat jumlah SKS yang ditempuhnya setiap semester, Aku memprediksi paling cepat dia baru boleh memulai skripsinya di semester sepuluh atau lebih. Dan, apakah hubungan antara perempuan dengan tugas akhir teknik sipil?

Tetapi yang membuatnya semakin unik adalah bahwa, konsep yang dibangunnya tentang bagaimana memperlakukan perempuan, seperti bertemu bukti pada dirinya sendiri. Vester bukan tipe orang yang mau memanjakan perempuan bahkan tidak juga berniat pura-pura melakukannya. Dan dia tidak punya pacar sampai saat ini. Siapa yang tidak memanjakan perempuan, janganlah berharap bisa punya pacar perempuan; konklusinya menyata pada Vester.

Paradigma Vester sedang dia perjuangkan untuk orang lain sepertinya, mungkin untukku, atau untuk Zack, teman  yang lain, juga peserta diskusi tak jelas kami atas nama insomnia. Pemuda yang kalem, kharismatik dan menganut prinsip: harmoni di atas segalanya! Berdarah bangsawan dari daerah timur Indonesia, Zack membuat iklim diskusi menjadi selalu tenang, tak peduli siapa yang benar dan salah dalam sebuah perdebatan, tiap kalimatnya ditata dengan rapi, sehingga semua pihak merasa benar dan menang. Benar-benar bangsawan yang menyenangkan.

“Tak apa-apa diskusi kita tanpa hasil, yang penting jangan berantem,” katanya kalau diprotes karena sikapnya seperti plin-plan jika diriku  danVester berdebat seru karena jelas-jelas beda pendapat. Dan karena itulah kehadirannya penting, termasuk malam ini. Semoga dia lebih bersemangat dan tidak seperti kemarin, kami semua pulang dengan pikiran yang sama di kepala. Kotor! Tentang lubang! Gara-gara Zack sudah putus asa.

“Perempuan itu misteri. Well, saya akui manusia itu misteri terbesar Tuhan, tetapi perempuan lebih misterius karena hidup dengan lebih banyak lubang dalam dirinya dibandingkan kita laki-laki,” katanya setengah putus asa setelah bergelas-gelas kopi tandas dan gorengan hanya tersisa beberapa biji. Zack putus asa dan kami kecewa malam kemarin.

Zack tentang lubang, jelas menghalangi orgasme diskusi dan malam ini kami harus mulai membangunnya dari awal. Melelahkan. Ya, Zack kadang memancing emosi, tetapi selalu punya cara meredakan kembali. Semoga malam ini dia menjadi bijak seperti sebelumnya.

 “Dieng, Dieng…”

Suara parau sopir angkot membuyarkan lamunanku.

“Kiri pak…” kataku. Sudah hampir sampai.

Beberapa saat kemudian saya sudah terlibat obrolah santai dengan dua sahabat unikku. Di warung gorengan dekat kampus kami di kawasan Terusan Raya Dieng.

“Sebenarnya mau mereka apa sih?” Vester bicara dengan nada tinggi mendengar cerita saya tentang tuntutan beberapa aktivis perempuan yang berjuang untuk mendapatkan cukup banyak persen quota perempuan dalam parlemen. Hari ini, siaran Rendezvous yang kuasuh memang membahas topik itu.

Koq seperti memaksa? Padahal kan perimbangan jenis kelamin di parlemen sama sekali tidak mengurangi angka utang kita ke IMF!” lanjutnya gemas. Zack tersenyum, dan ini adalah bagian yang paling ku suka. Gejala seperti ini menunjukkan bahwa obrolan kami akan berlangsung seru, membingungkan dan keluar jalur. Benar saja, Zack angkat bicara.

“Mungkin memang perempuan Indonesia benar-benar ingin dimanja,” ujarnya masih dengan senyum.

“Tapi nggak kayak gitu dong caranya.” Merasa diserang balik oleh isi otaknya sendiri melalui Zack, Vester terus bicara. Nadanya agak aneh, keras tapi tak terlampau tegas, saya tersenyum. Nada-nadanya, Vester akan sedikit ngawur.

“Paradigma saya tidak bisa diterapkan dalam konteks politik. Yang ada di parlemen kan harus berkualitas. Nggak peduli dia laki, perempuan, bencong atau yang punya dua-duanya sekaligus, silahkan duduk di sana yang penting bisa buat bangsa ini baik!”

Hening sejenak.

“Sekarang saya tanya. Kalau quota perempuan di parleman terpenuhi, apa nanti harga sembako bisa langsung turun dan bangsa ini lantas sejahtera?” Vester kembali bicara, lalu mengakhir pertanyaannya ke pemilik warung yang terkantuk-kantuk.

“Kopinya satu lagi, Pak”

Nggih… tapi bener lho Mas Zack. Mas Vester tadi omongan e seratus persen klop sama sing tak pikirno. Sing penting iku, gimana caranya biar harga sembako nggak terus-terusan naik. Ya gak mas Alek?… Iki kopine Mas,” Pak Warung berkomentar.

Dia selalu konsisten berkomentar, bukan pada tema atau konsep berpikir tetapi pada gaya menyampaikan pendapat. Dia selalu berusaha melibatkan perhatian kami bertiga dalam satu kesempatan bicara. Lihatlah. Pertama dia bicara pada Zack tentang pendapat Vester, lalu mengakhiri dengan meminta saya mendukung pendapatnya. Malam yang menyenangkan dan suasana dengan cepat menjadi hangat.

Kopi diseruput melalui lepek, piring ceper kecil yang punya dua fungsi; tatakan gelas dan pendingin. Zack kali ini mencoba bicara, dengan nada rendah, seperti berusaha menurunkan tensi Vester dan mengabaikan komentar Pak Warung.

“Saya pikir ada benarnya juga sih tuntutan aktivis perempuan itu. Selama ini, perempuan di negara kita memang seperti termarginalkan.”

“Jangan salah Zack. Presiden kita sekarang perempuan. Kalau toh kamu pikir mereka termarginalkan, sebenarnya itu karena mereka memarginalkan diri mereka sendiri,” Vester sedang semangat berdebat.

“Maksud kamu?”

It’s easy. Selama ini mereka berjuang atas nama emansipasi. Termasuk mematok jumlah per jenis kelamin di parlemen. Saya melihatnya sebagai perjuangan yang berangkat dari rasa termarginalkan yang ada dalam pikiran mereka sendiri. Artinya, mereka termarginalkan oleh pemikiran mereka sendiri, bukan oleh situasi nyata.”

“Ada penjelasan lebih sederhana?” Zack kebingungan. Dia anak ekonomi dengan IP pas-pasan, penjelasan Vester terasa terlalu rumit, terutama karena disampaikan dengan cepat dan berapi-api.

Sejauh ini aku tetap bertahan menjadi peserta diskusi pasif. Bukan karena tak peduli, tetapi siaran Rendezvous selama satu jam membuat otot rahang sedikit lelah. Program ini memang sialan, memaksa  untuk terus bicara, interaksi dengan pendengar yang bergabung via telefon, membaca bahan siaran dan baru berhenti pada jeda iklan. Artinya, empat puluhan menit  bicara, dua puluh menit lainnya dipakai untuk tiga kali break. Dan lagi, pandangan Silver tadi juga sempat ku dengar dari seorang penelpon.

“Sederhananya begini Zack,” Vester mulai lagi. “Dalam kepala sebagian aktivis perempuan, emansipasi itu lebih dari sekedar penyetaraan jender. Mereka ingin setara dalam segala hal dengan laki-laki. Kalau laki-laki jadi anggota dewan, perempuan juga harus jadi anggota dewan, tak peduli pertimbangan kualitas dan kapabilitas.”

“Maksud kamu, ada gejala perempuan, maksud saya aktivisnya berusaha mengalahkan laki-laki?”

“Sempurna! Dan itu, berawal dari pemikiran bahwa laki-laki adalah mahkluk keji yang selalu mengalahkan mereka.”

Kopi diseruput. Tangan menggapai gorengan tersisa. Satu tahu berontak sukses masuk ke kerongkongan. Tamu warung gorengan hanya kami bertiga. Yang lain telah pulang, mungkin tak betah dengan diskusi kami. Tak banyak yang senang diskusi sambil makan. Sebagian menyukai diskusi tentang makanan. Biarlah.

Entah mengapa, aku masih berusaha konsisten untuk tidak ikut bersuara. Tetapi kali ini  aktif. Ya, aktif berpikir tentang obrolan yang semakin lama semakin terlihat idealis.

Aku khawatir, obrolan santai ini berubah menjadi lebih parah dari proyek idealisme perempuan dalam quota jenis kelamin di parlemen. Aku takut, kalau-kalau kami bertiga terjebak pada konsep perjuangan maskulin yang memaksa kami mencari formula terbaik untuk bertahan pada status quo: Lelaki Mendominasi!

Sejenak  melarutkan diri dalam kopi gelas ke sekian, kali ini pisang goreng dingin punya giliran bertemu gigi, masih dengan kepala yang berpikir.

Ketakutan  wajar. Obrolan warung kopi sebenarnya berawal dari niat baik untuk menyibak sedikit rahasia perempuan. Hanya untuk menyelami mengapa perempuan itu menarik? Secara pribadi Aku juga ingin sedikit mengetahui, mengapa  tak pernah melihat Ibu mengeluh, meski sekali sempat  mendengar Ayah pernah cerita soal potongan gajinya yang lumayan besar. Hanya itu motivasi obrolan tengan malam ini, namun kemudian berubah menjadi pertentangan jenis kelamin.

Hening.

Tiga pasang mata bertemu di satu titik entah di mana. Titik khayal itu kemudian mengembalikan energi ke mata, lalu menstimulasi otak sehingga kami bertiga sama-sama sadar telah jauh meninggalkan indahnya perempuan lalu melihat mereka sebagai soal. Diskusi malam itu, seperti juga malam-malam sebelumnya berakhir menggantung. Siapakah perempuan? Tiga kepala terpekur, setelah membayar kopi dan gorengan, pulang dan siapakah kami? Ah… malam itu,  jenis kelamin serentak menjelma menjadi agama.

* * *

Manggarai – Menjelang Akhir 2011

Di televisi ada berita, seorang bendahara minta dipenjara, asal keluarga yaitu istri dan anaknya selamat, tak diganggu. Dia menulis surat kepada Presiden. Istrinya berpenampilan mewah dan kaya.

Kasus korupsi di parlemen belum selesai. Beberapa perempuan kabarnya memegang peranan penting dalam penyalahgunaan uang negara.

Seorang perempuan tak memberi ijin pada anak suaminya dari istri pertama untuk menjenguk ayahnya yang sakit. Dia istri kedua, dahulu dikenal sebagai aktivis perempuan.

Seorang pemuda tigapuluhan tahun membuka netbooknya, memasang modem, membuka facebook, menulis status.

Alex Lebb: Hoi… Vester Jabrique dan Zack Coolie, Bangsa itu bukan soal kelamin!

Di saat yang sama, seorang ibu datang menghampiri. Membawa segelas kopi dan bilang, “Jangan main komputer terus, sesekali olahragalah!”

“Terima kasih kopinya mama. Iya, nanti saya olahraga,” kataku. Mama tetap perempuan yang sama, perempuan itu.

Selesai

_________________

ilustrasi gambar diambil dari SINI

PS:

Armin Bell adalah penulis kumpulan cerpen TELINGA – Sebuah Antologi, saat ini bekerja sebagai penyiar radio di Ruteng Flores.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: