Tinggalkan komentar

Bukan Romeo dan Juliet – Cerpen Dhimas Widianto

BUKAN ROMEO DAN JULIET

Cerpen Dhimas Widianto

Hey perkenalkan, namaku Romeo. Nama yang keren kan? Yup, itu karena aku suka sekali lo film Romeo dan Juliet. Kisah yang romantis bukan? Hmm.. Seandainya kisah cintaku dan Mawar bisa seromantis mereka. Aih.. Kok malah jadi berkhayal ya. Hehe.. Dan aku sendiri adalah seekor capung muda paling keren di antara capung-capung yang lain, bahkan tertampan di antara semua capung yang pernah ada. Eit, jangan protes dulu, itu cuma pendapatku kok. So, tenang saja lah..

Oh iya, kamu belum tahu Mawar kan? Dia adalah bunga mawar yang tumbuh di sebuah kebun tempat biasa aku bermain. Cantik sekali. Secantik mentari yang terbit esok pagi dengan sinarnya yang gerah menggoda. Dan satu hal, Mawar telah membuatku jatuh cinta. Sampai-sampai tak bisa tidur sebelum kubayangkan keelokan Mawar di kala mekar, atau sekedar mengenang aromanya yang harum, sembari berharap suatu saat dapat berbaring sejenak melepaskan lelah dalam kelopak-kelopak Mawar.

Perkenalanku dengan Mawar berawal saat kami, para capung-capung muda bermain petak umpet di kebun. Dan tanpa sengaja aku bersembunyi di balik dedaunan Mawar. Waktu itulah aku merasakan getaran yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Getaran cinta. Ah, lagi-lagi cinta.

Tapi teman, aku terlalu pengecut untuk mengutarakan perasaanku pada Mawar. Aneh memang untuk seukuran capung muda setampan aku, yang membuat capung-capung betina jatuh cinta pada setiap pandangan pertama, yang membuat capung-capung jantan takut jika istri-istri mereka jatuh cinta padaku. Entahlah, mungkin suatu saat aku punya keberanian untuk itu.

***

Pagi ini sungguh indah teman.. Burung camar dan gelatik berlarian di ranting-ranting jati, anak-anak domba bercengkerama di sela ilalang lalu tersenyum riang pada rerumputan. Seperti biasa, pagi ini aku pun bermain di kebun tempat Mawar tinggal. Dan satu-satunya hal yang membuat aku bahagia adalah ketika berada di dekat Mawar dan bicara tentang banyak hal.

“Mawar, kamu tahu apa itu cinta?”. Kataku di sela obrolan.

“Cinta? Apa itu?”.

“Kamu lihat sepasang kupu-kupu itu?”.

“Lalu?”.

“Seperti itulah cinta. Mereka akan selalu ingin bersama, merasakan kerinduan yang mendalam jika lama tidak bertemu satu sama lain”. Kataku berusaha menjelaskan definisi cinta.

“Apakah itu sama dengan perasaanku pada Edelweiss?”.

“Maksudmu?”.

“Aku mendengar kabar dari bunga-bunga lain tentang adanya bunga edelweiss. Bunga abadi. Aku belum pernah bertemu dengannya memang, tapi aku merasakan kerinduan yang mendalam untuk segera bertemu dengannya Romeo..”. Jawab Mawar.

Deg! Perkataan Mawar seolah membuat jantungku berhenti untuk sejenak. Ternyata aku salah tentang dugaanku bahwa cinta berada di hati kami masing-masing. Apakah ini namanya cinta bertepuk sebelah tangan, teman? Apakah begini rasanya jika yang kita cintai tidak mencintai kita? Kamu tahu rasanya? Satu kata: Remuk.

“Romeo, apakah ini yang dinamakan cinta?”. Tanyanya lagi.

“Mung.. Mungkin saja..”. Jawabku tergagap.

“Romeo, aku ingin terbang agar dapat menemuinya. Ajari aku terbang Romeo..!”. Pintanya.

Aku hanya mampu terdiam sembari menatap kosong ke arah pinggiran kebun. Entahlah, aku patah hati teman.. Tapi itulah cinta, karena tidak bisa kubohongi diriku sendiri untuk tidak mencintai Mawar, karena aku akan tetap mencintainya. Dan seandainya cinta perlu bukti, maka satu hal yang akan aku lakukan, yaitu membuktikan cintaku pada Mawar.

***

Bangsa capung gempar dikejutkan oleh kedekatanku dengan Mawar. Capung kecil, capung remaja, maupun capung tua, semua membicarakan tentang hubungan kami. Tentu saja mereka tidak setuju. Merupakan aib bagi bangsa kami jika ada yang berhubungan dengan bangsa lain.

“Sungguh memalukan”. Kata salah seorang kepala adat capung geram.

“Kita harus segera bertindak”. Seru yang lain.

“Ya! Kita harus beri Romeo pelajaran”. Seru yang lain lagi.

Mereka akhirnya mengadakan konferensi yang dihadiri oleh semua suku dan dipimpin langsung oleh raja capung. Karena ini merupakan masalah besar. Masalah harga diri bangsa capung.

“Usul raja, bagaimana kalau kita bunuh saja Romeo”. Kata salah satu capung yang tidak lain adalah teman mainku sendiri.

Semua hening. Mungkin mereka berpikir hal itu sangat tidak berperikecapungan. Raja tampak berpikir sejenak.

“Bagaimana dengan yang lain?”. Tanya raja capung.

“Bagaimana kalau kita masukkan saja Romeo ke penjara agar dia tidak bisa lagi bertemu dengan Mawar?”. Usul salah satu capung dari bangsa capung hitam.

“Betul betuul..”. Semua yang hadir berteriak serempak mengiyakan. Dan celakanya, itulah keputusan final yang diambil dari hasil musyawarah bangsa capung. Aku pun ditangkap, untuk kemudian dimasukkan ke dalam penjara besok paginya. Kaki-kakiku diiakat dengan kencang ke sebuah ranting pohon dan tidak mungkin terlepas.

Aku sangat takut. Bukan penjara yang penuh dengan perampok dan pencuri dari capung-capung nakal yang aku takutkan, tapi aku takut tidak bisa lagi bertemu dengan Mawar. Aku lebih memilih untuk dibunuh oleh bangsa capung. Dan akhirnya kuputuskan untuk memotong semua kaki-kakiku, dan dengan susah payah pergi menemui Mawar. Karena satu hal, yaitu membuktikan cintaku padanya.

“Kamu kenapa Romeoo..?”. Mawar tampak bingung dan panik melihat keadaanku.

“Mawar.. Kamu ingat ceritaku tentang sepasang kupu-kupu? Tentang cinta?”.

“Iya Romeo, aku ingat. Lalu?”.

“Karena aku juga mencintaimu Mawar.. Dan aku, Romeo, akan membuktikan cintaku padamu”.

Tiba-tiba saja..

“Apa yang kamu lakukan Romeo?”. Mawar terhenyak.

“Bukankah kamu ingin terbang? Mawar.. Telah kupotong sayap-sayapku untuk kamu gunakan terbang mencari Edelweiss yang kamu cintai. Pakailah..”.

“Romeo..”. Tangis Mawar pecah.

“Mawar.. Lihat, warna merah kelopak-kelopakmu semakin indah karena darahku bukan?”.

“Romeooo..”.

Aku hanya mampu terdiam sembari menatap Mawar penuh kerinduan.

Dan..
Merasakan kedamaian berbaring dalam kelopak-kelopak Mawar yang basah oleh air mata.

__________

ilustrasi foto diambil dari SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: