1 Komentar

Mengemban Kejujuran – Cerpen Ajen Angelina

MENGEMBAN KEJUJURAN

Cerpen Ajen Angelina

Ketika sampai di rumah pukul tujuh malam, saya mendapati ibu tengah duduk di ruang televisi. Tubuhnya tampak kuyu dan lemah terkuras habis oleh pedih yang terpancar dari auranya.  Mata ibu tak lepas dari kotak berukuran empat puluh satu inchi yang terus menayangkan berita-berita nasional. Saya segera pulang ke rumah begitu menyaksikan berita tak mengenakan di televisi. Untunglah teman-teman sekantor  mengerti dan menyuruh saya segera pulang dan mengambil alih tugas lembur yang menjadi jatah saya.

“Ibu..” Saya memanggil. Ibu tampak kaget melihat kedatangan saya.  Dia menatap saya lama dan penuh arti. Senyuman terukir di bibirnya, senyum paksaan yang tak tulus. Saya bisa melihat duka mendalam di mata ibu yang bengkak karena menangis.

“Kau sudah menonton berita, Pram?” Tanya Ibu lirih. Air mata tumpah di wajahnya. Saya mengangguk.

“Saya juga tidak menyangka, Bu” Saya mendekat ke arah Ibu dan duduk di sampingnya.

“Tidak mungkin Ayahmu melakukan itu, Pram! Tidak mungkin. Ibu mengenal beliau sudah tiga puluh tahun. Tidak mungkin dia melakukan itu.” Ibu terisak perlahan, segera saya membawa tubuh ibu ke dalam pelukan saya, Ibu menangis terisak lebih kuat. Saya memeluk ibu erat. Sama seperti ibu, saya juga tidak percaya ayah melakukan hal itu.

Duapuluh delapan tahun menjadi anak ayah, membuat saya mengenal sosoknya luar dalam. Ayah saya tipe orang yang “Talk Less, Do More” Lebih banyak bekerja daripada berbicara. Sejak kecil, beliau selau mengajarkan saya tentang kejujuran.

“Kejujuran paling penting dalam hidup, Pram. Selalu junjung tinggi kejujuran. Kau harus selalu berlaku Jujur, karena kejujuran adalah hal kedua setelah cinta yang tidak bisa di beli oleh uang.” Kata Ayah suatu waktu.

“Ada berapa hal yang tak bisa dibeli oleh uang, Ayah?” Tanya saya. Ayahnya tersenyum.

“Yang pertama cinta, yang ke dua kejujuran dan yang ketiga adalah kesempatan. Ketiga hal tersebut jika kau emban dengan benar maka kau akan menemukan harapan dan kebahagian. Jangan pernah melupakan ketiga hal itu karena uang, Pram” Kata Ayah lagi dan hal itulah yang selalu saya jaga selama hidup saya.

Dan selama  tigapuluh lima tahun menjadi polisi ayah selalu bekerja keras. Posisinya sekarang sebagai Kapolda Metro Jaya didapatnya dengan kerja keras dan tentu saja kejujuran. Semua anak buahnya menghormatinya, ayah juga dikenal sebagai Inspektur Jendral yang baik dan rendah hati.

“Irjen Joko itu salah satu Kapolda terbaik yang dimiliki Indonesia.” Begitulah tanggapan orang-orang tentang ayah. Ayah juga kerap menghiasi headline koran dengan prestasi-prestasi luar biasa yang dicapai Polda Metro Jaya, termasuk mengamankan bom di sebuah hotel mewah. Jadi tak heran jikalau orang-orang menganggap ayah adalah polisi keempat terjujur setalah patung polisi, polisi tidur dan polisi Hoegeng*. Sejak kecil ayah saya memang ingin menjadi polisi. Eyang, kakek saya  adalah  bekas prajurit jaman kemerdekaan. Beliau sungguh menginginkan anaknya  anaknya menjadi prajurit pembela negara yang mengabdikan diri untuk nusa dan bangsa. Dan keinginan Eyang, disambut baik oleh ayah.

“Sejak kecil Ayah sudah didoktrin untuk menjadi polisi.” Kata ayah suatu waktu ketika kami bercakap-cakap tentang masa depan. Waktu itu saya sedang menyiapkan diri untuk mengikuti UMPTN setelah lulus SMA. Sama sepeti ayah, saya juga anak laki-laki satu-satunya dan saya tahu di hati kecilnya ayah ingin saya mengikuti jejaknya. Tetapi berbeda dengan eyang saya yang keras ayah saya adalah pria yang lembut dan pengertian. Dia tetap mendukung waktu saya bilang tidak ingin menjadi polisi sama sepertinya dan eyang.

“Ayah juga sejak kecil ingin menjadi polisi, Pram. Ayah ingin membuat negara ini damai.” Sambung ayah lagi. “Tetapi Ayah tahu kau tidak ingin menjadi polisi dan ayah tidak ingin memaksa. Jadilah apapun yang kau inginkan.” Begitu kata ayah, kata-kata yang membuat saya makin mencintainya. Dia setuju ketika saya memilihjurusan hokum di bangku kuliah. Dia juga bangga ketika saya menjadi sarjana hukum dan menceritakan kepada teman dan anak buahnya bahwa saya adalah pengacara yang hebat. Selain sebagai ayah yang hebat, ayah saya juga merupakan suami yang hebat. Sejak kecil saya tidak pernah meliihat dia dan ibu bertengkar berlarut-larut. Ayah juga sangat mencintai ibu.

“Kau tahu, sebenarnya yang mengendalikan dunia adalah perempuan. Dibalik setiap lelaki sukses pasti ada perempuan hebat. Adolfh Hitler yang kejam itupun tunduk di bawah kaki perempuan. Eva brown adalah satu-satunya orang yang sanggup membuat Hitler Luluh. Coba liat biografi orang-orang sukses. Pasti kekasih dan istri mereka orang-orang hebat. Kelak kalau kau mencari istri, carilah wanita seperti ibumu.” Begitu kata ayah saat menasihati saya tentang pasangan hidup.

Sungguh saya tidak percaya tentang hal-hal yang diberitakan televisi. Ayah saya adalah polisi, suami dan ayah yang jujur. Berita itu adalah berita bohong. Para wartawan mungkin kehabisan berita sehingga akhirnya bergosip.

“Pemirsa, Inspektur Jendral Joko Kapolda Metro Jaya, diduga melakukan penggelapan dana pembangunan Polda senilai satu miliar ruiah. Sampai sekarang Humas Polda belum memberikan keterangan tentang hal ini. Begitupun Irjen Joko yang tidak dapat ditemui di kantor Polda. Berikut laporanya.” Suara pembaca berita di televisi tiba-tiba mengejutkan saya dan Ibu.

“Pram, apakah kau percaya ayah melakukan itu?” Kata ibu. Dia melepaskan diri dari pelukan saya dan menatap saya nanar. Ada kesedihan mendalam di mata itu, kesedihan yang tak pernah saya liat sepanjang hidup saya. Segera saya mematikan televisi.

“Tidak bu, saya yakin ayah tidak melakukan itu. Itu semua hanyalah salah paham. Sekarang memang lagi musim-musimnya fitnah di dunia politik tanah air.” Kata saya menenangkan diri dan juga Ibu.

“Ibu tak percaya ayah melakukan itu, Pram! Ibu tak percaya.” Ibu kembali terisak. Dan saya juga sama tak percaya seperti ibu.

Bersamaan dengan itu muncul pesan singkat  dari ayah di hand phone saya.

“Pram, jadilah kuasa hukum ayah. Tolong bantu ayah untuk keluar dari masalah ini. Maaf ayah membuat kau dan ibumu sedih, Pram. Maafkan ayah yang menjual kejujuran demi uang. Ayah melakukan itu untuk menyenangkan Lastri, perempuan lain yang ayah cintai. Maafkan Ayah.”

Saya membaca pesan singkat itu dengan gementar. Air mata jatuh di wajah saya. Hati saya hancur berkeping-keping. Tiba-tiba saya merasa begitu tidak berati.

“Kau percaya ayah tidak melakukannya kan?” Tanya ibu lagi. Kali ini saya menatap ibu nanar dan meraih ibu dalam pelukan saya. Saya menangis keras di pelukan ibu.

Tamat

*Kata terkenal Gusdur..

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

One comment on “Mengemban Kejujuran – Cerpen Ajen Angelina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: