Tinggalkan komentar

Mencari Nurani – Cerpen Ajen Angelina

MENCARI NURANI

Cerpen:  Ajen Angelina

Hari belum terik benar ketika saya melangkah ke luar dari stasiun Gambir. Langit Jakarta membiru dihiasi awan putih serupa bercak bercak yang sebentar lagi hilang seiring tingginya mentari. Di kejauhan saya dapat melihat puncak Monas, monumen kebanggan orang Indonesia yang terbuat dari emas entah berapa karat. Sementara itu orang-orang mulai keluar masuk stasiun. Seorang perempuan berdadan seronok berpapasan dengan saya di pintu stasiun. Perempuan itu menarik sebuah koper besar. Saya risih melihat rok mini perempuan itu, akhir-akhir ini saya sering mendengar berita pemerkosaan di Angkot semoga saja masanis kereta tak sebejat sopir angkot. Dari kejauhan saya dapat mendengar bunyi klakson dan kendaraan bersahutan, saya menghela napas dalam semoga ibu kota tidak sekejam ibu tiri. Nama Saya Joko, saya masih muda belumlah seperempat abad umur saya. Ini pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Ibu kota. Saya datang ke Jakarta mencari Nurani.

Nurani adalah anak kepala kampung kami. Dia berwajah cantik, berbadan bagus dan yang paling penting memiliki hati yang bersih. Semua penduduk kampung kami sagat mencintai Nurani. Perempuan itu membawa kecerian dan kedamaian di kampung kami. Akan tetapi sudah dua bulan ini, Nurani menghilang. Dia pergi dari kampung kami dan dari surat yang ditinggalkannya dia pergi ke ibu kota. Hilangnya Nurani membawa kemurungan di Kampung kami. Semua penduduk kampung mendadak saling membenci dan tidak menghormati satu sama lain. Kepergian Nurani membawa serta kedamaian yang telah mengakar di kampung kami. Maka karena sebuah musyawarah, penduduk kampung menyuruh saya yang datang mencari Nurani di Jakarta. Mula-mula saya tolak permintaan mereka, karena saya sendiri sebetulnya ragu. Ini pertama kalinya saya datang ke Jakarta, saya takut tersesat di kota terbesar di Indonesia ini. Tetapi hanya saya sajalah laki-laki yang bisa diandalakan dan lagi pula saya dekat dengan Nurani. Maka akhirnya saya pun berangkat ke Jakata menggunakan kereta eksekutif paling pagi dari kampung saya.

“Mas mau kemana? Biar saya antar!” Seorang pria berbaju biru dan bercelana hitam mencegat saya di pintu masuk stasiun. Saya menatap pria itu dengan penuh kecurigaan.

“Tenang, Mas. Saya ini sopir taksi. Saya akan ngantar Mas kemana saja.” Kata pria itu. Saya terdiam berpikir sebentar. Saya dengar taksi adalah kendaraan dengan biaya termahal tetapi juga teraman. Saya melontarkan senyum kepada pria itu.

“Baiklah kalau begitu antarkan saya ke tempat Nurani.” Kata saya. Sopir taksi itu mengerutkan dahi.

“Nurani yang wajahnya cantik, badannya bagus dan berperangi baik bukan?” Sopir taksi bertanya. Saya mengangguk senang.

“Bapak mengenalnya?” Tanya saya.

“Iya, beberapa waktu yang lalu saya melihatnya di istana Presiden.” Kata sopir taksi.

“Antarkan saya ke istana Presiden sekarang juga.” Kata saya. Sopir taksi mengangguk dan saya masuk ke dalam taksinya.

Beberapa menit kemudian saya sampai di istana Presiden, setelah membayar uang taksi saya melangkah turun dan mendapati sebuah istana besar yang sangat indah. Pantaslah orang-orang ingin menjadi Presiden, siapa yang tak ingin tinggal di istana semewah ini.

“Apa yang Anda lakukan di sini?” Seorang penjaga berseragam menghampiri saya. Mukanya terlihat seram dan angker. Saya tersenyum.

“Saya ingin mencari Nurani, Pak. Saya dengar dia ada di sini?” Kata saya. Penjaga itu menatap saya sebentar dengan seksama. Lalu dia tertawa terbahak-bahak.

“Ngapain kamu cari Nurani di sini? Di sini tak ada Nurani. Yang ada di sini hanyalah Presiden yang bertugas memerintah rakyat.” Kata petugas itu masih tertawa. Tentu saja saya bingung dibuatnya.

“Tetapi kata sopir taksi, dia melihat Nurani ada di sini beberapa waktu yang lalu.” Kata saya lagi. Penjaga berhenti tertawa dia menatap saya penuh kasihan.

“Kasihan sekali Anda ini, tidak pernah menonton berita rupanya. Kerjaan Presiden itu memimpin negara, rapat dengan mentri-mentrinya dan sesekali waktu berkumpul bersama keluarganya. Dan yang paling anyar, sekarang presiden sedang mengurus surat ijin mengemudi pesawat. Mana punya waktu dia mikirin Nurani. Kamu telah dibohongi sopir taksi, pria malang” Kata penjaga membuat saya terperangah.

“Jadi tidak ada Nurani di sini?” Kata saya kecewa. Penjaga istana mengangguk.

“Coba kamu cari saja Nurani di kantor DPR, beberapa waktu lalu saya liat gadis cantik, berbadan bagus nongkrong di situ.” Kata penjaga istana presiden.

“Bagaimana saya harus ke sana?” Tanya saya.

“Naik bus yang berwarna hijau itu, dia akan mengantarkan kau ke gedung DPR.”Kata penjaga Lalu pergi meninggalkan saya. Sayapun berjalan gontai meninggalkan istana Presiden.

Beberapa menit kemudian saya sampai di depan gedung DPR. Lagi saya disambut oleh seorang penjaga berseragam.

“Maaf Anda siapa? Apa yang Anda lakukan di sini?” Kata penjaga itu.

“Saya ke sini mencari Nurani, Pak.” Kata saya. Penjaga itu menatap saya dengan seksama.

“Mengapa Anda mencari Nurani di gedung DPR?“ Tanya Penjaga.

“Kata penjaga di istana presiden, Nurani ada di sini.” Jawab saya. Penjaga gedung DPR tertawa.

“Silahkan cari sendiri saja di dalam gedung luas itu. Siapa tahu kau menemukan Nurani. Kebetulan mereka sedang mengadakan rapat.” Kata Penjaga gedung DPR. Saya mengucapkan terima kasih lalu beranjak masuk ke dalam gedung luas itu.

Sampai disebuah gedung bertuliskan ruang rapat, saya memberanikan diri untuk masuk. Ada ratusan orang sedang asyik berbicara.

“Intrupsi pak ketua, saya tadi tidak bisa konsentrasi saat buang hajat, toilet DPR jelek sekali. Apakah ada anggaran untuk itu?” Sebuah suara terdengar.

“Intrupsi ketua, saya sering cape dan lemah saat rapat terlalu lama. Apakah tidak ada anggaran untuk suplemen?” Sebuah suara juga terdengar

“Intrupsi ketua, karena terlalu sering mewakili rakyat saya jarang berolahraga, adakah anggaran untuk gym?” Suara lain terdengar.

“Intrupsi ketua, saya merasa pekerjaan paling berat di Indonesia itu adalah wakil rakyat. Tetapi kenapa uang snack hanya duapuluh ribu. Saya minta naikan uang snack.” Kata seseorang dari antara mereka lagi. Lalu saya memberanikan diri untuk berbicara.

“Intrupsi ketua,” kata saya. Semua mata memandang ke arah saya yang berdiri di depan pintu. “Apakah Ketua tahu di mana Nurani?” Kata saya. Spontan tawa mengemuruh memenuhi ruangan itu.

Ngapain kau cari Nurani di sini anak muda?” Sebuah suara menimpali.

“Tak ada Nurani di sini. Ngapain kami ngurus Nurani, kami sedang sibuk mewakili rakyat.” Kata suara lainnya

“Kami ini anggota dewan terhormat mana ada urus Nurani.” Kata suara lagi

“Nurani tak ada di sini” Kata mereka serempak. Saya terkejut

“Jadi di mana saya harus mencari Nurani?” Tanya saya.

“Kami tidak tahu, kami tidak peduli dengan Nurani. Dan pergilah kami masih ada urusan lebih penting daripada Nurani. Ngapain mikirin Nurani mending mirkirin toilet yang tidak enak itu. Sana jangan kau ganggu kami.” Kata seseraong dari antara anggota DPR itu.

“Masa Nurani sama sekali tak ada di tempat ini?” Tanya saya bersikeras.

“Pergilah, anak muda. Kami sedang sibuk. Nutani tak ada di sini. Pergilah.” Lalu pintu ruang rapat di tutup dari dalam. Dengan langkah gontai saya pergi dari gedung DPR itu.

“Gimana ketemu Nuraninya?” Tanya penjaga ketika saya keluar. Saya menggeleng lesu.

“Coba tanyakan saja kepada polisi, mungkin mereka tahu” Usul penjaga dan kembali semangat saya muncul lagi.

“Dimana saya bisa bertemu Polisi?” Tanya Saya. Penjaga itu tersenyum.

“Coba kau jalan lurus saja nanti kau akan melihat kantor polisi.” Saya mengucapkan terima kasih dan berlalu mencari kantor polisi. Saya sampai di kantor polisi beberapa menit kemudian, seorang polisi menghampiri saya di pintu gerbang.

“Anda cari siapa di sini?” Tanyanya

“Saya mencari Nurani.” Kata saya. Polisi itu memandang saya dan tertawa terbahak-bahak.

“Ngapain mencari Nurani di kantor polisi? Nurani tak ada di sini. Yang ada di sini hanyalah polisi yang bertugas melindungin negara dan warganya. Ngapain ngurusin Nurani, kami terlalu sibuk dengan kecelakaan, terlalu sibuk dengan kasus korupsi dan tentu saja terlalu sibuk dengan pembunuhan.” Kata polisi itu.

“Jadi di mana saya harus mencari Nurani, Pak?” Kata saya.

“Kami bisa mencarikan Anda Nurani, tetapi syaratnya Anda harus menyiapkan uang.” Kata Polisi itu dan saya tertegun.

“Jadi harus pake uang untuk mencari Nurani?”

“Tentu saja uang lebih penting dari Nurani. Kalau Anda tak punya uang jangan harap Anda akan menemukan Nurani.” Kata polisi itu dan tiba-tiba saya muak.

“Terima kasih, Pak. Saya rasa saya harus pergi. Nurani tidak ada di sini.” Kata saya lalu berlalu dengan perasan kecewa. Ah Nurani! Dimana kau? Kenapa kau tak ada di Jakarta ini? Saya menjerit dalam hati.

“Mas, tahu di mana Nurani?” Saya bertanya pada seorang pria yang berjalan. Pria itu tersenyum mengejek dan berlalu.

“Mbak, tahu dimana Nurani?” tanya saya pada seorang Wanita yang lewat. Wanita itu menatap saya dengan tatapan heran.

“Dek, tahu di mana Nurani? Saya bertanya kepada seorang anak berseragam SMA. Anak itu menatap saya sebentar dan tertawa terbahak.

“Ngapain urus nurani, Om. Mending dengar smash.” Katanya lalu pergi begitu saja. Hampir tiga jam saya berjalan menyusuri Jakarta yang mulai memanas menanyai orang satu persatu dimana nurani? Tetapi mereka mereka hanya tersenyum mengejek. Saya terus berjalan hingga tanpa sadar saya sudah berada di bawah sebuah kolong jembatan. Rumah-rumah dari kardus berjejeran di bawah kolong jembatan itu, ada banyak sekali jumlahnya.

“Om, belum makan Om.” Seorang anak kecil tiba-tiba menghampiri saya. Saya menatap anak kecil itu iba. Tubuhnya kurus badanya tak terurus. Saya rogoh duit dari saku baju dan memberikan kepada anak itu.

“Terima kasih, Om” Kata anak itu senang.

“Nak, Kau tahu di mana Nurani?” Tanya saya. Anak itu terdiam kemudian menangis.

“Kenapa kau menangis?” Tanya saya. Dia tidak menjawab malah menarik saya untuk mengikutinya saya mengikut anak itu. Anak itu membawa saya ke sebuah tempat pembungan sampah dia menunjukan sesuatu air mata terus mengalir di pipinya. Saya terkaget melihat pemandangan yang dia tunjukan, sosok Nurani tergeletak tak berdaya di tempat sampah.

“lariii lariii lariii, Ada polisi PP” Tiba-tiba suasana menjadi gaduh. Bersamaan dengan itu muncul sebuah mobil patroli berisi pria-pria berseragam. Mereka tampak berusaha menangkap dan menciduk beberapa gelandangan.

“Membersihkan Jakarta” kata salah seorang pria berseragam itu. Saya memutuskan ikut lari dan bersembunyi di tempat yang jauh. Bila suasana tenang saya akan membawa Nurani pergi dari tempat sampah. Akan tetapi rupanya pria berseragam itu melihat Nurani yang tergolek tak berdaya di tempat sampah.

“Angkat dia. Saya tidak suka dia ada di Jakarta.” Kata seorang petugas berseragam. Petugas berseragam lain mengangkat Nurani dan menaruhnya di mobil patroli, Saya menatap mobil patroli yang pergi itu dengan hati gamang. Dimana Nurani akan dibawa?. Entahlah mungkin sama seperti Ebit G Ad., Saya akan bertanya pada rumput yang bergoyang.

________

Ilustrasi diambil dari SINI

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: