6 Komentar

Sastra Bulan Purnama ke 7: Mbah Penyair Yogya Reunian Baca Puisi

Sastra Bulan Purnama ke 7:

MBAH PENYAIR YOGYA REUNIAN BACA PUISI

Catatan Odi Shalahuddin 

Para Penyair PSK usai baca puisi (Dok. Tegoeh Ranusastra)

Persada Studi Klub (PSK), suatu komunitas para seniman pada periode 1969-1977, tidak akan bisa terlupakan dalam sejarah perkembangan sastra khususnya kepenyairan di Yogyakarta danIndonesia.

PSK berdiri pada tanggal 5 Maret 1969 oleh tujuh proklamatornya yakni  Umbu Landu Paranggi, Iman Budhi Santosa, Teguh Ranusastra Asmara, Ragil Suwarno Pragolopati, Suparno S Adhy, Ipan Sugiyanto Sugito, Mugiyono Gitowarsono.

Proses kreatif para penyair di bawah bimbingan Umbu Landu Paranggi yang dikenal pula dengan julukan sebagai Presiden Malioboro, pencapaiannya dapat terlihat dari pemuatan karya di lembaran budaya Mingguan Pelopor Yogya.  Umbu Landu Paranggi membuat 3 klasifikasi untuk pemuatan puisi :

  • Pawai : puisi yang sepenuhnya belum sanggup berbicara sebagai karya puisi, tapi tulisan ini sudah jalan.
  • Kompetisi : puisi yang sudah jalan, tapi belum hadir sebagai puisi yang matang, imajinasi belum menemukan kata yang tepat, intuisi belum penuh, dan belum otentik.
  • Sabana : puisi yang sudah matang, sudah dapat bicara sebagai karya puisi. (lihat di SINI)

Komunitas ini telah melahirkan banyak penyair yang dikenal tidak saja di tingkat Yogya, melainkan juga di tingkat nasional dan internasional. Sebutlah diantaranya, Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, dan Korrie Layun Rampan.

Para penyair PSK, yang kini tidak hanya tinggal di Yogyakarta, masih banyak yang menjalankan proses kreatifnya untuk tetap berkarya.

Nah, pada acara Sastra Bulan Purnama edisi ke Tujuh yang berlangsung pada tanggal 7 April 2012 di Rumah Budaya Tembi, Bantul Yogyakarta, menghadirkan para penyair angkatan tahun 1970-an di era Persada Studi Klub (PSK).

”Saya sebenarnya sudah mengontak banyak para penyair pada masa itu, tapi memang hanya sebagian kecil yang meresponnya,” demikian dikatakan oleh Ons Untoro, penggagas yang senantiasa membawakan acara ini. Lebih lanjut dikatakan ”Termasuk Umbu Landu Paranggi, kita harapkan pada kesempatan-kesempatan mendatang bisa berhasil dihadirkan,”

Para penyair yang membacakan puisi-puisinya adalah Adjie Sudarmadji Mukshin, Munawar Syamsudin, Mustofa W. Hasyim, Wadie Maharied, Sutirman Eka Ardana, Atas S Danusubroto, Genthong HSA, Iman Budi Santoso, Jabrohim, Soekoso DM dan Landung Simatupang.

Sebagai pembuka, dihadirkan seorang penyair pelajar perempuan, yang berhasil memukau para penonton. Acara ini juga dimeriahkan oleh Dancing Poetry oleh Mila Rosita yang menafsirkan puisi Mustofa W. Hasyim berjudul ”Mendung Tak Mendung, Tak Mendung” dan musikalisasi puisi oleh Kelompok Koon’nDang dan Kelompok Musik Tembi.

”Malam ini bisa dikatakan merupakan klimaks, karena hadir para mbah penyair Yogya, yang telah berproses sejak tahun 1970-an, pada masa Persada Studi Klub (PSK),” demikian dikatakan oleh Slamet Ryadi Sabrawi, penyair yang baru saja menghimpun 150 puisi terbarunya yang dibuat pada periode 2011-2012, dalam buku antologi ”TOPENG” saat menyampaikan review atas perjalanan Sastra Bulan Purnama.

Sabrawi menyampaikan apresiasi positifnya terhadap acara ini. ”“Saya sangat salut karena acara ini didesain bukan secara ilmiah dengan teori macam-macam, tetapi mengalir begitu saja dengan kerja keras dan mendapat respon yang baik dari para penyair,”

Perkembangan yang menarik adalah dari penyelenggaraan Sastra Bulan Purnama edisi pertama hingga edisi ke enam telah terhimpun 218 puisi. ”Puisi-puisinya adalah puisi yang hebat. Berbeda dengan masa PSK, puisi sangat ketat sekali, lebih bergolak pada diam dan mengolah kedalaman. (Penyair) Sekarang lebih mengolah pada alam, keadaan sekelilingnya dan percakapan sehari-hari yang bisa muncul pada pusi. Pada masa PSK ada pencapaian tahapan, misalnya masuk pada rubrik ”Sabana” dulu, baru selanjutnya bisa masuk ke ”Persada”.

Kendati proses kreatif dan pengucapan yang berbeda, para penyair muda dinilainya memiliki pengucapan yang berbeda. Dari puisi yang masuk, banyak puisi bagus, dan itu juga diakui oleh Landung Simatupang. Ini bisa dianggap sebagai satu keberhasilan.

Hal paling mengesankan bagi Sabrawi adalah pada edisi ke enam, hadir Ibu Mien Projo, usianya sudah 80 tahunan, namun masih menulis puisi yang bukan asal-asalan. “Saya sangat salut, walau sudah sangat senior sebagai aktor, tapi masih menulis puisi. Ini bisa merangsang kaum muda, untuk terus menulis sampai mati. Jangan sampai menulis puisi, setelah dimuat di koran lalu berhenti,”.

Mengenai puisi yang berhasil dihimpun, ada gagasan untuk dijadikan buku. Hal ini dinyatakan oleh Ons Untoro ” Tentu saja dibutuhkan beberapa orang sebagai tim untuk menyeleksi, jangan saya sendiri,” katanya.

_

About Odi Shalahuddin

Bekerja pada isu (hak-hak) anak yang telah digeluti sejak tahun 1990. Sejak tahun 1994 hingga sekarang aktif di Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN). Banyak menulis tentang masalah anak-anak, fiksi (cerpen dan puisi) dan masalah sosial-budaya. Berharap tulisannya dapat memberi arti, setidaknya untuk diri sendiri, walau berharap orang lain bisa juga menikmati.

6 comments on “Sastra Bulan Purnama ke 7: Mbah Penyair Yogya Reunian Baca Puisi

  1. Reportase yang sangat apik mas Odi Shalahuddin Mahdami, bisa menjadi rujukan bagi yang ingin tahu sedikit mengenai perkembangan dunia puisi/sastra di Yogyakarta, dimana keberadaan PSK adalah satu tonggak sejarah cukup penting yang telah memberikan kontribusinya bagi dunia puisi/sastra di Yogyakarta khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Terima kasih mas Odi Shalahuddin Mahdami…!

  2. MUNAWAR SYAMSUDIN JUGA PENDIRI PSK, TAPI ORANGNYA TIDAK SUKA MENON-JOL-NONJOLKAN DIRI SEPERTI YANG LAIN. YANG PASTI UMBU LANDU PARANGGI, IMAN BUDI SANTOSO ITU LALU PERGI KE AMPEL-BOYOLALI, YANG AMBISIUS YAH MEMANG SUWARNO PRAGOLAPATI, SERING TABRAKAN DENGAN UMBU LANDU

  3. trims apresiasi anda mas Odi, bersastra memang sangat nisbi, taou sakunbf gasak-gesek-gosok yakun bisa mempertajam kreasi, imajinasi, dan estetuka bersastra itu sendiri. (soekoso dm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: