1 Komentar

Remember (Bab 3) – Cerbung Loganue Saputra JR

(Foto: Sumali Ibnu Chamid)

BAB 3

Di sekolah, Karer dan Irma jadi sering berduaan, dan aku  merasa kami mulai memiliki jarak yang senghaja mereka berdua buat terhadapku. Seharusnya aku tidak perotes dengan jarak yang terbentuk di antara kami, seharusnya aku bisa mengerti karena mereka memang membutuhkan waktu untuk berduaan. Mungkin saat itu yang aku butuhkan adalah penjelasan dan kepastian mereka padaku tentang hubungan mereka berdua, tapi kenyataannya mereka berdua tetap menyembunyikan hubungan mereka dariku, entah mengapa aku juga tidak tahu, perlakuan seperti itu menurutku malah lebih menyakitkan daripada mereka harus berterusterang tentang kebenaran yang ada. Hingga akhirnya aku pun mengutarakan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu aku tanyakan.

“Ku perhatikan akhir-akhir ini kalian selalu bersama dan selalu mencoba menghindariku?.” Pertanyaan itu membuat Irma dan Karer tersenyum seakan berucap bahwa aku terlihat aneh jika berprasangka seperti itu pada mereka.

“Kurasa kita memang selalu bersama sejak dulu?!,” jawaban yang diberikan oleh Karer membuat aku terlihat seperti seorang yang sangat bodoh dan paranoid.

Aku langsung salah tingkah dan langsung berucap. “Tak usah kalian pikirkan kata-kata ku tadi,” lalu memperlihatkan senyum yang serba tanggung. Dalam situasi seperti itu aku selalu dilanda oleh kepanikan yang luar biasa, awalnya aku berencana untuk melakukan serangan kepada mereka berdua dengan sebuah pertanyaan yang kemungkinan bisa mendesak mereka berdua berkata jujur padaku, tapi pada akhirnya aku terjebak di dalam distorsi realitas lapangan yang dilakukan oleh Karer kepadaku. Memang Karer adalah tipe orang yang selalu bisa mengambil kendali dengan cara memutar balikkan fakta terhadap apa yang sedang dihadainya, dia dengan sangat cerdas memberikan pengaruh dan penekanan pada ucapan kalimat yang dia katakana sehingga ketika aku mendapatkan jawaban darinya aku malah merasa diserang dan dibuat berada di dalam rasa yang tidak aman lalu memilih untuk mengalah sehingga melakukan tindakan yang sangat bodoh. Tapi meskipun demikian pada akhirnya Karer juga lah yang menyelamatkanku keluar dari situasi yang tidak mengenakkan itu.

Dengan tiba-tiba Karer merubah topic pembicaraan kearah lain yang langsung bisa menarik minat kami semua seperti yang dia lakukan waktu itu, dia langsung membahas tentang perang yang terjadi di Naugrelia, “Siapa teman Kakek Francisko yang berasal dari Naugrelia yang kau ceritakan pada kami tempo hari. Kemaren aku mendengar berita dari radio bahwa di Naugrelia memang sedang bergejolak perang besar?.”

Pertanyaan itu benar-benar menyelamatkanku dan membuat aku kembali angkat bicara. “Dia bernama Paloti, dia menceritakan tentang kerabatnya yang baru berusia 15 tahun dan dipaksa untuk mengikuti perang,” aku kembali terlihat bersemangat.

“Jika di Naugrelia terjadi perang kenapa Paloti malah datang ke sini, apakah dia lari dari perang?,” saat Irma menanyakan hal itu aku jadi semakin bersemangat, aku senang karena Irma akhirnya tertarik dengan topic pembicaraan itu dan bertanya kepadaku seakan aku mengetahui lebih banyak informasi tentang itu daripada dirinya dan Karer. Tapi seperti yang aku ceritakan sebelumnya bahwa Karer memegang kendali dengan distorsi realitas lapangan dalam perbincangan kami hari itu, dia terasa seperti pengganggu yang memotong ketika aku ingin menjelaskan dengan bangga pada Irma tentang Naugrelia.

“Neugrelia itu Negara yang besar walau pun aku sering mendengar di radio bahwa pemerintahnya sedang dibayang-bayangi oleh kasus korupsi yang beberapa tahun yang lalu terungkap, diawali dari satu kasus yang kemudian berlanjut kepada pengungkapan kasus lainnya. Dan saat ini mereka dijajah oleh Exona. Benar-benar situasi yang menyedihkan bukan.” Aku sedikit agak memurung ketika Karer menjelaskan hal itu pada Irma dan yang pasti hal itu sangat manarik minat Irma, bahkan lebih besar daripada sebelumnya ketika dia mendengarkan cerita tentang Paloti.

“Wah, kau banyak tahu tentang Neugrelia!,” pujian dari Irma pada Karer itu bagaikan petir di siang bolong, membuat aku semakin terpojokkan. “Lalu apa yang akan Exona lakukan jika mereka sudah menguasai Neugrelia?,” pertanyaan itu seakan memberi harapan untukku memberikan jawaban.

Untuk yang kedua kalinya Karer menciptakan situasi penyelamatan bagiku, di saat aku merasa diabaikan dia lagi-lagi memberikan ruang padaku untuk menjawab pertanyaan Irma, walau aku masih merasa cemas bahwa bisa saja setelah itu dia mengulangi tindakannya dengan memotong kesempatanku sehingga aku berkali-kali terlihat bodoh di depan Irma. Dan saat itu dia pun berucap pada Irma dengan senyum isyarat kearahku. “Ku rasa Alejandro pasti mengetahui apa yang terjadi jika Neugrelia direbut oleh Exona, teman kakek Francisko juga pasti sudah membertahukan kemungkinan yang terjadi nantinya!.”

“Iya,” aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Kata Paloti kemungkinan tentara Exona akan sampai ke Galibian dan perang akan mendatangi kita.”

“Perlu waktu yang lama untuk mencapai Galibian—,” Karer memotong lagi. Aku langsung diam dan tidak berencana untuk melanjutkan lagi. Jika kulanjutkan pun pastinya akan dipotong olehnya lagi, jadi lebih baik aku membiarkannya untuk bicara sesukanya. Aku sudah tidak perduli lagi, bahkan kata-kata Karer pun tidak terlalu aku dengarkan. Dan akhirnya percakapan itu pun hanya terjadi diantara Karer dan Irma, sedangkan aku hanya menjadi pendengar seperti biasanya. Apabila situasi sudah seperti itu aku selalu berharap lebih baik Karer tidak bersama kami, jika ada dia semuanya jadi di dominasi olehnya. Sifatnya yang merendahkan orang lain dengan cara memotong kesempatan orang lain itu yang sangat tidak aku sukai, sifatnya itu adalah sifat kejam yang dilakukan dengan cara halus tapi sangat menyakitkan bagiku. Hingga pembicaraan berakhir dan kami berpisah sore itu aku benar-benar sangat kesal dengan kelakuan Karer.

Malam ketika di rumah aku terus memikirkan kemungkinan hubungan Karer dan Irma, hal itu membuat aku gelisah dan sulit untuk tidur, padahal kami sudah lama berteman dan kenapa baru kali ini aku merasa sangat gelisah. Cemburu itulah penyakit yang akhir-akhir ini melanda diriku, yang aku butuhkan adalah keberanian untuk mengutarakan perasaanku pada Irma, tapi aku gelisah takut hal itu malah membuat jarak kami semakin renggang, dan hal lain lagi yang aku takutkan adalah kemungkinan Irma dan karer sudah berpacaran bisa membuat aku merasa tidak enak pada mereka berdua. Aku terjebak di dalam perasaan serba salah.

Suara batuk Kakek Francisko terdengar beberapa kali di luar kamar, suara batuk itu memang setiap malamnya selalu terdengar sudah cukup lama, aku tahu dia memang sering terbangun ditengah malam dan terjaga hingga pagi di ruang tengah, entah apa yang dipikirkannya, aku tidak pernah berani menanyakannya dan dia juga tidak pernah membicarakannya padaku. Aku hanya bisa berharap semoga hal itu hanyalah kebiasaan belaka bukan karena ada factor lain yang menjadi beban di kepalanya. Aku juga pernah berpikir mungkin itu adalah masalah kantor, sudah kurang lebih 30 tahun dia bekerja di Lembaga Pemeriksaan Air Minum Daerah—lembaga pemerintah daerah yang bertugas memeriksa air minum yang dialirkan kepada penduduk kota—akan teapi tak pernah terdengar ditelingaku bahwa dia tidak cocok dengan para pekerja lainnya. Malah sepengetahuanku dia sangat di hormati karena sudah sangat lama bekerja di sana. Jadi tidak ada hal yang perlu aku khawatirkan pada dirinya karena semuanya terlihat baik-baik saja, mungkin yang saat itu terlihat berubah dari dirinya hanyalah kerut di wajahnya yang semakin hari semakin bertambah, aku tidak pernah tahu pasti berapa usia Kakek tapi aku berpendapat mungkin usianya itu berkisar antara 60-70 tahunan, dan menurutku semua kerut yang ada di wajahnya merupakan kerut yang muncul akibat dia sering tersenyum, bukan karena dia sering bersedih atau pun marah, karena dia tidak seperti itu.

Malam itu aku juga mendengar langkah Kakek Francisko mondar-mandir, tidak seperti biasanya dia melakukan itu, sepertinya dia memang sedang memikirkan sesuatu. Jika benar demikian apa yang sedang Kakek pikirkan. Pikirku heran. Aku bangkit dan dengan perasaan gugup bergerak menuju pintu kamar, jika aku keluar dan mencoba bertanya pada kakek pasti dia langsung menyuruhku kembali ke kamar dan tidur karena waktu itu sudah cukup larut, tapi aku memutuskan untuk tetap menemuinya dan menanyakan beberapa hal yang sedang dipikirkannya, dan ketika aku membuka pintu kamar dan berdiri sambil menatap kearahnya yang berdiri di belakang bangku dengan kepala agak menunduk dan kedua tangan terlipat kebelakang, langkahnya pun berhenti, dalam detik berikutnya kedua bola matanya sudah menatap kearahku.

“Kau belum tidur, ini sudah larut malam.” Katanya padaku dengan heran.

Aku bergerak mendekatinya dan kemudian duduk di bangku yang menghadap kearahnya. “Apa Kakek baik-baik saja,” aku bail bertanya tanpa menjawab pertanyaannya sebelumnya.

Dia pun duduk dan bersandar pada sandaran bangku. “Aku baik-baik saja,” jawabnya santai. “Memangnya ada apa?,” dia meminta alasan dariku.

“Tidak, aku hanya merasa sepertinya Kakek sedang memikirkan sesuatu,” aku memberikan jawaban yang jujur.

Dia tersenyum saat aku memberikan jawaban itu. “Kakek tidak memikirkan apa pun, kakek hanya suka malam seperti ini ada banyak suara yang bisa didengarkan, suara-suara yang tersembunyi di dalam kesunyian malam.” Aku langsung tertarik dengan alasan yang diberikannya, dan setelah itu aku mulai menanyakan tentang suara yang Kakek maksud. Ternyata suara itu adalah suara sekawanan serangga yang sering terlewatkan oleh pendengaran, begitu juga dengan suara ranting pohon meregang, suara tikus bergerak dan sebagainya, ternyata malam tidak benar-benar sunyi, melainkan sangat kaya dengan suara, hanya saja suara-suara itu terlewatkan begitu saja tanpa tersadari. Perbincangan kami tidak berjalan lama, karena Kakek langsung menyuruhku untuk kembali tidur dan malam itu sebelum aku tidur aku mendengarkan suara-suara yang sebelumnya Kakekku maksud, hingga akhirnya aku terlelap oleh nyanyian para jangkrik yang menenangkan. (Bersambung)

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

One comment on “Remember (Bab 3) – Cerbung Loganue Saputra JR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: