Tinggalkan komentar

Remember (Bab 4) – Cerbung Loganue Saputra Jr

REMEMBER

Cerbung Loganue Saputra Jr

(Foto: Sumali Ibnu Chamid)

BAB 4

Hari itu hari sabtu, hujan turun deras mengguyur kota Dulbia, saat pelajaran Fisika berlangsung aku tidak terlalu memperhatikan, pikiranku melayang keluar dengan wajah melamun memandangi tetesan hujan dari jendela kelas, aku memikirkan Irma saat itu. Hari itu Irma tidak masuk sekolah, tidak ada kabar darinya, tidak ada yang tahu alasan dia tidak masuk sekolah, walau pun aku berasumsi Karer pasti tahu tentang ketidak hadiran Irma. Ada banyak kemungkinan yang muncul dalam kepalaku, mungkin dia sakit, mungkin dia keluar kota, mungkin dia ada acara keluarga, tapi tak satu pun dari kemungkinan itu yang bisa dibilang kuat, karena sehari yang lalu aku berjumpa dengan Irma dan Karer, saat itu dia tidak pernah membicarakan tentang rencanaya ingin melakukan sesuatu yang akan membuatnya tidak masuk sekolah. Jika pun sakit itu adalah kemungkinan terakhir yang bisa aku simpulkan, walau aku percaya dia tidak sakit, karena sehari yang lalu dia terlihat baik-baik saja.

Ketika jam istirahat aku mengajak Karer ke kantin, di sana aku menanyakan kenapa Irma tidak turun sekolah, aku berharap Karer memberitahuku, tapi ternyata dia hanya bilang. “Aku juga tidak tahu.” Kurasa dia berbohong, dari wajahnya ada sesuatu yang disembunyikannya dariku, aku sudah lama mengenal Karer dan ketika dia berbohong padaku aku bisa mengetahuinya. Lalu pertanyaanku mulai terdengar membosankan bagi Karer ketika aku banyak bertanya tentang Irma dan alasan mengapa dia dan Irma terlihat menjauhiku. Aku mencoba terbuka padanya tentang apa yang aku rasakan dengan tingkah mereka berdua tapi Karer selalu menyembunyikan segalanya.

“Aku bingung, mengapa Irma tiba-tiba baik pada kita, padahal beberapa hari setelah kejadian di pohon kelabu itu dia terlihat begitu marah dan selalu menghindari kita?.” Tanyaku pada Karer.

“Seperti yang aku bilang sebelumnya, dia tidak akan tahan jika harus menjauhi kita.” Jawaban Karer tidak seperti yang aku harapkan, aku berharap dia mengungkit masalah kedekatannya dengan Irma yang merupakan alasan mengapa Irma tidak marah lagi.

Dan karena aku penasaran aku pun langsung menanyakan tentang hubungan mereka berdua. “Kurasa kalian berdua terlihat lebih dekat daripada biasanya, dan kalian menutup-nutupinya dariku.”

Terlihat kerut diantara kening Karer. “Maksudmu apa?. Kurasa hal seperti itu bukanlah hal yang seharusnya kau permasalahkan, bukankah kita sudah lama berteman dan kedekatan kita tidak pernah ubah sejak dulu. Kau mulai terdengar menakutkan Alejandro, kau seperti sedang memata-matai aku dan Irma.” Saat dia berkata seperti itu dia sedikit tertawa, aku tahu dia bergurau denganku, walau aku tidak merasa ada hal yang lucu sedikit pun dari ucapannya.

“Aku tidak mempermasalahkan itu, aku hanya ingin tahu kebenarannya,” aku bersikeras, aku tidak ingin melemah dan akhirnya terjebak di dalam distorsi realitas lapangan yang menjadi senjata andalan Karer.

“Ayolah, Alejandro. Kau hanya berprasangka tanpa ada penjelasan yang jelas. Apa yang kau pikirkan tentang kami berdua bukanlah apa-apa, tidak ada hal seperti yang kau tanyakan tadi. Lagi pula jika pun benar untuk apa kami menutup-nutupi hal seperti ini padamu. Lagi pula kau tahu sendiri aku dan Irma bukanlah orang yang saling cocok, kami lebih sering berdebat.” Karer mencoba meyakinkanku tapi aku tidak mau langsung percaya dengan kata-katanya, aku pun mengeluarkan beberapa senjata yang mungkin akan membuat dia memberitahuku hal yang sebenarnya.

“Jika tidak benar, mengapa tempo hari saat pulang sekolah kalian berpegangan tangan dan saat aku muncul kalian berdua dengan cepat melepaskannya dan menyembunyikan tangan kalian. Dan tidak hanya sekali aku melihat kalian berdua mencoba menyembunyikan hal itu dariku, kalian melakukannya berulang-ulang.” Tak pernah sebelumnya aku seterbuka itu, tak biasanya aku begitu memaksa Karer untuk buka mulut tentang hubungan mereka berdua, aku sudah terjebak di dalam perasaan ingin tahuku dan aku membutuhkan jawaban yang bisa memuaskan perasaan ingin tahuku itu.

“Ada apa sebenarnya denganmu, kawan,” Karer memasang wajah heran dan sedikit mulai marah. “Kau terdengar seperti penguntit, dan itu terasa sangat membosankan.” Karer bangkit dari duduknya membayar minuman yang kami pesan lalu kembali mendekatiku. “Kurasa kau perlu sendiri dan merenungkan semua prasangka yang ada di kepalamu.” Kali ini dia terlihat marah dan kemudian pergi meninggalkanku.

Aku hanya terdiam ketika Karer memperlakukanku seperti itu, aku hanya memandanginya yang berjalan menjauh dariku sambil berpikir. Jika tidak benar mengapa harus marah. Dan pemikiranku itu menimbulkan kecurigaan bahwa apa yang aku rasakan akhir-kahir itu adalah sebuah kebenaran. Perginya Karer meninggalkanku di kantin seolah memberikanku jawaban bahwa memang ada sesuatu yang disembunyikannya dariku dan kemungkinan lainnya yang ada di kepalaku saat itu adalah, dia tahu alasan Irma tidak turun sekolah, hanya saja dia tidak mau ada satu orang pun yang tahu, entah karena alsan apa.

Saat pulang sekola Karer hanya melewatiku tanpa menyapa dan mengajakku untuk pulang bersama. Sikapnya itu menurutku adalah sikap yang seharusnya tidak dia lakukan jika memang ingin menyembunyikan segalanya dariku. Dan saat dia melewatiku dengan wajah masamnya aku malah jadi tidak enak hati padanya, mungkin aku sudah membuatnya tersinggung. Aku mulai memikirkan tindakanku di kantin dan menyimpulkan aku sudah keterlaluan pada Karer. Mungkin saja Karer benar, aku terlalu paranoid terhadap mereka berdua. Mengapa harus aku yang akhirnya merasa bersalah, sama seperti saat dia berdebat dengan Irma dan berujung dengan Irma menjauhi kami, mengapa aku selalu memposisikan diriku di tempat yang salah dan tidak mengenakkan.

Sepulang dari sekolah, aku memutuskan untuk mencari Karer, walau sebenarnya aku tidak berani untuk mendatanginya ke rumahnya langsung. Aku mencarinya di bawah pohon kelabu, kemudian di lapangan bermain, kemudian di pinggir sungai, tapi aku tidak menemukannya, aku juga sempat bertanya pada beberapa anak yang bermain di lapangan, tapi mereka tidak melihat Karer ada di lapangan. Dan karena merasa bosan tidak menemukan Karer aku pun memutuskan untuk pergi ke pantai sendirian, walau pantai berada cukup jauh aku tetap berjalan sendiri sambil bernyanyi-nyanyi santai dan ketika sampai di pantai aku hanya menghabiskan waktuku duduk di atas pasir sambil memperhatikan gelombang. Pantai benar-benar sepi, tak ada orang-orang, mungkin karena masih terlalu siang dan panas, tapi aku mencoba menikmati hal itu, aku melamunkan tentang tindakanku akhir-akhir itu yang akhirnya membuat persahabatan kami bertiga jadi merenggang.

Aku mulai berpikir untuk memperbaiki semua kesalahan yang terjadi, mungkin kami bertiga memang sering berselisih pendapat, tapi kami tidak pernah terjerumus di dalam lubang masalah yang berdampak separah ini, dan aku takut jika hal ini terus bertahan maka lambat laun persahabatan kami akan hancur. Kini semakin banyak hal yang aku resahkan, apakah ini yang memang harus dihadapi oleh setiap orang ketika usia semakin bertambah, beban pikiran semakin banyak. Aku mulai mengerti mengapa Kakek Francisko sering melamun, pastinya beban pikirannya sangatlah banyak, mungkin seperti ember yang terus diisi air hingga akhirnya melimpah tak terbendung lagi.

Aku bangkit dan melepas sandal yang kukenakan, kemudian berjalan di atas pasir yang terasa kasar di telapak kakiku, kedua mataku memandangi gelombang yang menyentuh bibir pantai, lalu aku mulai merasakan dinginnya air laut yang bergoyang menyentuh kedua kakiku, aku berdiri dengan kaki sedikit terendam air, membiarkan gelombang kecil menyentuhku, memberikanku perasaan tenang, kulepas bajuku kemudian kulempar ke atas pasir, aku berlari menerjang gelombang, berteriak sendiri melepas ketegangan yang ada di kepalaku. Kebebasan itu milik setiap manusia, hanya saja kebanyakan dari manusia tidak pernah bisa memaknai apa arti dari sebuah kebebasan itu, dan kadang manusia lebih banyak memilih untuk diam serta bersembunyi dari diri mereka sendiri, termasuk aku.

~

Celanaku basah, aku pulang dalam keadaan kedingin, tapi aku merasa puas dengan apa yang aku rasakan di pantai, walau aku sendirian aku merasa tenang, aku merasa bebas, dan aku merasa siap kembali untuk menghadapi kehidupan ini. Dan di perjalanan pulang aku mengambil jalur yang melewati rumah Irma, ketika sudah sangat dekat aku terkagetkan oleh pemandangan yang ada di hadapan rumah Irma, di samping sebuah mobil, Irma berdiri, dia bersama Karer di sana sedang berbincang-bincang, dari kejauhan pun aku bisa melihat kesedihan mereka berdua, dan saat aku melihat itu aku malah memilih untuk bersembunyi di balik pohon akasia yang tumbuh di sepanjang jalan itu.

Tidak lama mereka berbincang, muncul Ibu Irma lewat pintu pagar rumah, dia juga terlihat murung, tidak seperti biasanya. Aku bingung mengapa saat itu semua orang terlihat murung, ada apa sebenarnya, mengapa tak ada yang memberitahuku tentang hal yang membuat kemurungan itu terlihat mengherankan. Ibu Irma membawa sebuah tas yang cukup besar dan memasukkannya ke bagasi mobil dibantu oleh Karer. Sepertinya Irma akan pergi jauh, jika itu benar maka aku harus berjumpa dengannya juga. Keputusan itu membuat aku keluar dari persembunyianku, melangkah agak lamban agar mereka menyadari kedatanganku dengan perlahan, tapi ternyata setelah aku sudah sangat dekat barulah mereka menyadari hal itu, dan saat aku berdiri di antara mereka Irma langsung melepaskan jabatan tangannya pada Karer, dia terlihat menyembunyikan kesedihannya dariku.

Ibu Irma masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil lalu menjenguk keluar lewat jendela mobil, mengangguk kearah Irma pertanda mereka akan segera berangkat. Tanpa tahu apa yang terjadi aku hanya berdiri di samping Karer, tidak bertanya tidak berkata sepatah kata pun, lalu Irma menghampiriku, dan tiba-tiba dia memelukku sambil berucap. “Aku pasti akan merindukanmu,” ucapnya lirih, kemudian dia memeluk Karer dengan sangat erat, dan menjabat tangan Karer sambil bergerak maju dan perlahan jemari mereka semakin menjauh hingga terlepas. Irma masuk ke dalam mobil sambil menatap kearah kami lewat jendela belakang mobil, dia melambaikan tangannya sambil menangis. Aku kebingungan apakah aku juga harus menangis, tapi aku tak tahu mengapa harus menangis, dan aku hanya diam sembari membalas lambaian tangan Irma. Sedangkan Karer yang ada di sebelahku, dia menangis, berkali-kali menyapu air matanya. Setelah sekian lama baru hari itu aku melihat Karer terlihat cengeng, sebelumnya dia tidak pernah menangis di depan kami, dia selalu menyembunyikan segala masalahnya dari kami, tapi hari itu dia terlihat berbeda, dia terbawa oleh suasana perasaannya yang tidak aku mengerti. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?.

Aku bukanlah pembaca situasi yang baik, begitu juga halnya dengan pengambil tindakan terbaik yang harus aku lakukan ketika situasi terlihat keruh. Aku selalu dikelabui oleh rasa ingin tahuku sehingga aku sering kali melupakan akibat dari tindakan yang aku lakukan. Dan setelah itu yang tersisa hanyalah penyesalan belaka. Saat mobil yang dinaiki oleh Irma sudah tidak terlihat lagi, aku perlahan berucap pada Karer dengan nada heran. “Apa sebenarnya yang terjadi?.”

Kali ini Karer tidak berada di dalam situasi yang baik, dia mulai kasar dan menakutkan. “Mengapa kau selalu ingin tahu apa yang terjadi,” ucapnya padaku dengan tatapan menuduh.

“Tidak, aku hanya merasa perlu tahu saja. Irma kan juga temanku.” Ucapku mencoba bersikap lunak tapi tetap terlihat tegas.

“Jika dia juga temanmu kenapa kau tidak tanyakan saja langsung padanya, begitu juga prasangkamu tentang aku dan dia!,” Karer memang terlihat masih marah denganku, seakan kepergian Irma adalah kesalahanku, tapi saat itu aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan aku membutuhkan penjelasan.

Lalu aku pun mencoba mendesaknya lagi. “Bagaimana aku bisa bertanya dengannya jika dia sudah pergi. Kurasa kau tahu dan bisa memberitahuku,” aku tak takut kali ini Karer malah tambah marah, yang aku takutkan adalah aku tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dan hal itu bisa membuat nilai perhatianku pada Irma berkurang jika dia akhirnya membicarakan sesuatu tentang masalah itu.

Wajah Karer cemberut, tanpa memberikan jawaban dia berpaling dan pergi meninggalkanku. Tapi aku yang merasa diacuhkan olehnya langsung berteriak padanya dengan kata-kata kasar. “Aku tahu kau dan Irma memang berpacaran kan?!. Dan kau selalu menyembunyikannya dariku, aku tahu kau takut aku merebut Irma darimu. Asal kau tahu saja ya, sedikit pun aku tidak pernah bermaksud untuk melakukan itu, aku hanya merasa menjadi teman kalian berdua sejak lama dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Aku berdiri dengan tubuh menghadap kearah Karer yang berjalan membelakangiku dan setelah aku meneriakkan kata-kataku tadi dia pun berpaling dengan wajah yang masih kesal.

“Kenapa tidak kau tanyakan saja pada Irma, mengapa kau selalu takut melakukannya. Jika kau berani berprasangka mengapa kau tidak berani untuk menanyakannya langsung padanya. Kau laki-laki kan, laki-laki  itu bukanlah tipe seorang pengecut.”

Aku terdiam tak lagi berbicara,aku tahu dia begitu marah, tapi aku juga mempunyai hak untuk marah atas semua ucapannya yang sangat merendahkanku. Dan dia seharusnya tidak berlaku seperti itu padaku, jika ingin berhenti aku tanya seharusnya dia memberikan jawaban yang bisa menjelaskan keadaan yang terjadi, tapi nyatanya dia tidak melakukan itu. Aku tidak lagi membalas ucapannya pun bukan berarti aku seorang pengecut seperti yang dia katakana, tapi aku hanya mencoba menjaga persahabatan kami, aku tak ingin hal seperti ini bisa merubah persahabatan kami menjadi sebuah permusuhan yang menyakiti hati kami masing-masing. Ketika Karer sudah tidak terlihat lagi, aku pun kembali melangkah melanjutkan perjalanan pulangku. (BERSAMBUNG)

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: