Tinggalkan komentar

Puisi arrie boediman la ede: Lolong @3/4 On a Joerney

LOLONG #3/4 ON A JOURNEY

Puisi arrie boediman la ede

(prologue) “….pada sebuah perjalanan; tak pernah tahu kapan akan berakhir di satu titik. langkah, jarak tempuh. pun, tak pernah mampu terhitung. sesekali aku menoleh ke arah belakang; banyak jejak kelam yang tak sempat tercatat…..”

di sisa hidup;
rekaman berbagai pertarungan yang nyerempet-nyerempet bahaya
menjadi sebuah noktah yang tak terkirakan
di-buru, memburu, terburu saling memburu
ditikam, menikam, tertikam saling menikam

telah menipis telapak kaki
keringat yang mengering di tubuh berdebu semakin terasa asin
menternakkan berhala-berhala di kepala
menjilat air mata
memamahbiakkan kata-kata

aku pergi bersama angin
aku datang bersama badai

di-kejauhan;
aku malu menoleh ke arah belakangku
seluloid yang menggulung menghitamkan ragam episode-episode kelam
mungkin aku durhaka
mungkin akulah sang durjana

berpijak di lorong waktu;
sekadar mendengar, mencatat dengung fatwa-fatwa sang kiai
sekadar mendengar ratapan dari bilik-bilik pengampunan sebuah sinagoge
sekadar yang sekadar ala kadarnya
tak lebih syahdu dari nyanyi-nyanyi mesum sodom dan gomorah

debu dalam angin
angin berpusar, angin menggusar

kitab-kitab suci
kita-kita mencoba suci
suci dan menyucikan tidak lagi suci
; pun, semakin malu menoleh kiri-kanan, kanan-kiri
; pun, tak kuasa menatap ke atas
; pun, tak punya rasa, mengukur bayang-bayang tubuh
aku,
melayang

guratan jari;
terurai satu-satu menyatu dalam sebuah katup buka tutup
kaca jendela hati berkabut
dinding rumah hati menyuram
rajutan satu bilyun nadi terkusutmasaikan
; pun, aku berada dikepongahan mengukur detak jantung yang menggantung

di-selasar, moksa;
pedupaan di meja altar melambung-lambungkan tarian asap menjelaga
pun, serambi kalbu bersuara dari tempat yang ndak tentu
saling sapa, saling silang pertapa-pertapa pada para-para teratai-teratai

mimpi, khayal
berkhayal, bermimpi
menagih janji dewi aurora

(epilogue)
sejak kapan aku berada disini?
kapan aku tidak berada disini?
; “tak tahu aku siapa!”

serambi sentul,20/03/11

note; *para-para; anyaman bambu dsb tempat menaruh perkakas dapur

Penulis:

Arrie Boediman La Ede, lahir di Kendari-Sulawesi Tenggara. Ia adalah seorang yang serius. Ketika ia tertarik sesuatu, maka ia akan terjun mendalaminya. Gairah yang senantiasa dibangkitkan dalam pernyataannya: “Aku tak pernah merasa tua. Selalu merasa terlahir kembali pada 12 April disetiap tahunnya,” .

Telah menggeluti dunia kesenian khususnya penulisan puisi, naskah lakon, dan pertunjukan teater sejak awal 1980-an

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: