Tinggalkan komentar

Pelarangan Buku: Sebuah Pembodohan Massal (3) – Catatan Fauzan Mahdami

PELARANGAN BUKU: SEBUAH PEMBODOHAN MASSAL (3)

Catatan Fauzan Mahdami 

Pelarangan Di Jaman Orde Baru  

Tidak lama setelah kudeta yang menamakan dirinya Gerakan 30 September, Soeharto secara de facto kemudian memegang kekuasaan yang kemudian dikukuhkan sebagai presiden, rezim ini kemudian menamakan dirinya sebagai Orde Baru (oleh para pendukungnya hal ini merupakan sebuah antitesis dari kondisi Orde Lama Soekarno yang dianggap penuh kekacauan). Paska peristiwa tersebut PKI diposisikan sebagai satu-satunya pihak yang bersalah, yang kemudian dibubarkan beserta organisasi-organisasi masa lainnya yang berafiliasi atau dianggap mendukung Soekarno. Bukan hanya pembubaran saja yang dilakukan tetapi juga pembantaian, pemenjaraan tanpa pengadilan, dan pembuangan dalam skala yang besar (kurang lebih korban mencapai 3 Juta orang) dan massive terjadi di seluruh Indonesia terhadap pengurus partai, anggota PKI, anggota militer, para pendukung dan orang-orang yang setia terhadap Soekarno, serta orang-orang yang dianggap PKI.

Inilah titik awal dari kelahiran dan pembangunan kekuasaan Orde Baru, yang kemudian menerapkan strategi pengendalian di seluruh bidang kehidupan rakyat Indonesia untuk memperkuat dan mempertahankan kekuasaannya. Semua ditujukan untuk keberhasilan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan menjadi sebuah kata sakral yang dipenuhi simbol dan pemaknaan sesuai kepentingan penguasa. Untuk mencapai tujuan tersebut para pemimpin baru menciptakan suatu ideologi untuk membenarkan transformasi ekonomi, yaitu ideologi pembangunan, di mana Indonesia harus bebas dari politik dan ideologi (penyederhanaan partai politik), rakyat dijauhkan dari kehidupan politik. Hal ini dimanfaatkan pimpinan Angkatan Darat dengan memanipulasi  militer sebagai motor penggerak pembangunan melalui konsep Dwifungsi ABRI.  Jadi dua tujuan para pemimpin Orde Baru yang paling penting adalah pertumbuhan ekonomi dan ketertiban atau stabilitas politik, dan yang kedua adalah ketertiban, stabilitas dan keamanan nasional.

Falsafah tunggal resmi Pancasila yang memaknai negara sebagai entitas totaliter/korporat, setiap warga negara atau organisasi sosial yang mengabaikan Pancasila akan dicap sebagai pengkhianat/penghasut. Cap durhaka tersebut meluas tak hanya sekedar tuduhan subversif, seperti kerap dialamatkan pada komunisme atau ide negara Islam, tetapi mencakup segala hal yang berbeda pendapat dengan ideologi negara. Tema lama ancaman gerakan komunis dan relevansinya dengan kelahiran Orde baru dibangkitkan terus menerus, yang dilegitimasi melalui TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966, tentang pembubaran PKI dan penetapan sebagai organisasi terlarang serta pelarangan ajaran Marxisme, Leninis dan Komunisme, termasuk lewat tulisan. TAP ini akhirnya digunakan untuk mengontrol masyarakat secara keseluruhan. Sejak awal setiap pandangan yang berlawanan dengan pandangan pemerintah selalu dikaitkan dengan hal tersebut. Peringatan berkala dari segenap pimpinan institusi dalam sistem negara tentang bahya subversi komunis telah menjadi gambaran yang konsisten dalam artikulasi ideologi negara. Ketakutan akan ancaman akan komunis, bekerja ampuh mengingatkan kegelapan masa lalu sekaligus untuk pemaksaan kembali dimensi hukum dan ketertiban dalam hegemoni Negara Orde Baru. Target khusus adalah generasi baru yang tidak mengalami kejadian-kejadian tersebut seiring dengan pemapanan Orde Baru.

Pada 1973 Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) menyatakan bahwa “kurikulum pada setiap tingkatan pendidikan, mulai taman kanak-kanak sampai tingkat menengah ke atas –negeri maupun swasta – harus mengajarkan Pendidikan Moral Pancasila dan semua aspek terkait untuk mewariskan jiwa dan nilai-nilai 1945 kepada generasi muda. Dalam Tap MPRS No. XXVII/MPRS/1966, bab II “Tentang Pendidikan” pasal 11 dirumuskan bahwa “pendidikan sebagai rehabilitasi kesadaran berideologi Pancasila bagi mereka yang pernah menyeweleng terhadap Pancasila”.

Dalam bidang seni, Orde Baru secara terang-terangan mencetak cap “bau komunis” pada hampir setiap kesenian, terutama kesenian rakyat, yang sebagian besar, sebelum tahun 1966, memang pernah dikembangkan Lekra. Kampanye “bau komunis” itu mengimplikasikan merosotnya apresiasi seni secara drastis, di hampir semua komunitas seni rakyat di Indonesia (LIPI, 2001). Pembakuan bahasa pun dipakai oleh Orde Baru untuk mengukuhkan kekuasaannya. Beberapa istilah kunci menjadi penanda, seperti, Orde Baru, dwifungsi, bersih diri, bersih lingkungan, pembangunan dan Pancasila. Dalam pidato-pidato presiden, selalu terjadi repetisi dalam bagaimana melakukan pembangunan dan melihat ancaman terhadap pembangunan. Politik makna Orde Baru dalam hubungannya dengan PKI dikembangkan secara detil agar terbangun suatu jaringan pemaknaan yang menempatkan PKI sebagai ancaman yang paling nyata dan paling berbahaya. PKI tidak hanya dikonotasikan sebagai musuh Orde Baru, tetapi juga anti-Tuhan dan itu berarti juga musuh agama. PKI bagi Orde Baru adalah iblis di dunia (Orde Baru) dan iblis diakhirat (anti-Tuhan). Jadi, PKI dimitoskan sebagai sumber dari segala keburukan. Dengan penciptaan mitos itu, tersedia ruang gerak bagi Orde Baru untuk memanipulasinya sebagai materi labelisasi atau stigmatisasi. Taktik kebahasaan seperti ini diperlukan oleh Orde Baru untuk me-pki-kan kelompok-kelompok yang tidak sesuai atau bertentangan dengan kepentingan kekuasaan Orde Baru (LIPI, 2001)

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: