Tinggalkan komentar

Tersesat Menunggu Dalam Rindu – Cerita Atra Senudin

TERSESAT MENUNGGU DALAM RINDU

 Cerita Atra Senudin

Begitulah aku menunggunya berhari-hari, berminggu-minggu bahkan hampir setahun. Menunggu kabar darinya sekaligus menunggu kepulangannya. Setiap hari aku melewati  waktu dengan gelisah.

Lagu-lagu blues bergema memenuhi sudut kamar, dari sebuah speaker yang tergeletak diatas meja komputer.  Speaker tersebut dibiarkan  tak tertata rapih. Memang, aku lebih suka membiarkan barang-barang apa saja tergeletak bebas. Bukan karena malas untuk menata, tetapi  karena aku merasa  leluasa untuk melakukan apapun saat semua terlihat berantakan.  Sedangkan, lagu-lagu tetap  melantunkan syair-syair  seakan tak peduli pada penataan tak beraturan ini.

Sementara, senja mulai redup. Meninggalkan warna-warna keemasan. Lalu, malam menyapu  dan menggantinya dengan hitam pekat.  Serangga mulai bercakap-cakap, angin menyebarkan kedinginan dan awan mulai bergerak mengirim tanda. Segera akan turun hujan.

Seketika rintikan hujan jatuh memerciki genteng, membasahi jalanan dan menghanyutkan debu. Rintikan itu semakin lama semakin deras. Jalan kian basah. Lampu-lampu jalanan memantulkan cahaya pada hujan yang menjelma menjadi karpet bening. Mengalir dan bergelombang sehingga terlihat pucat. Dan satu persatu orang-orang berlarian meninggalkan kedinginan. Sedangkan aku tersesat di sudut kota sambil menunggu.

Lama aku berdiam. Menikmati butiran hujan yang terus berjatuhan digenteng rumah. Menunggu  handphone disisiku berdering. Menunggu dia mengabarkan tentang keberadaannya. Menunggu dia bercerita tentang perjalanannya. Atau sekedar menunggu ia menyapaku. Menanyakan apa yang aku lakukan sekarang. Bagaimana keadaanku. Apakah aku kedinginan malam ini. Atau tentang apapun.

Begitulah aku menunggunya berhari-hari, berminggu-minggu bahkan hampir setahun. Menunggu kabar darinya sekaligus menunggu kepulangannya. Setiap hari aku melewati  waktu dengan gelisah. Setiap saat aku selalu melirik handphone. Tentunya dengan harapan bahwa ia mengabariku. Seperti terdampar ditengah gelombang yang tenang, dan aku bergelora untuk berenang. Kemudian tenggelam.

Malam kian larut. Seperti malam sebelumnya, aku memejamkan mata setelah gelisah menumpuk dan tak tertampung. Dan aku pun berdoa. Memohon hal yang sama. Bahwa dia mengabariku dan berharap masih mengenang aku dan kisah . Dibalik sebaris doa lirih itu, tak lupa aku menyelipkan penyesalan atas kenangan. Tetapi, aku akan tetap memaksa Tuhan mengabulkan doaku. Karena itulah, aku terus berdoa dan yakin bahwa Dia mendengar doaku.

Hingga  cahaya mentari mendesak masuk melalui fentilasi. Menerobos gorden yang berjuntai lelah. Seakan juga lelah  menunggu sepertiku. Bosan. Tetapi terus menikmati ketidaknyamanan itu.  Dan beranda menjadi ruang favorite. Tempat aku menunggu. Menatap halaman dengan harapan. Kau datang dan kembali menitipkan jejak kaki dan bau tubuhmu. Hanya itu. Karena selanjutnya, kisah kita terekam jelas dalam ingatanku.

Waktu terus bergerak. Aku meringkuk dalam sepi ditemani harapan. Kenangan sekilas terlintas. Kemudian seketika kilat menyambar dan merebutnya. Petir bersuka cita, berteriak dalam riakan air hujan yang jatuh kian deras. Pada saat yang bersamaan kelopak mataku terasa sembab.  Sesuatu menggores dalam dihatiku. Sakit dan perih. Kembali doa lirih kulantunkan dibawah hujan, masihkah kau mengenangku?

Sembari doa-doa terlantun, handphone-ku berdering. Dada bergetar dan nafas tak karuan. Rasa takut meliputi sebagian diriku. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin meraih ponsel itu, tetapi sepertinya terlalu jauh. Ada yang menjengal tanganku. Lalu kubiarkan ponsel itu terus berdering. Dan aku menyiapkan hati untuk meraih..

Kini ponsel itu telah ada ditanganku. Terus berdering.  Pikiran semakin berkecamuk dan tak menentu. Aku gugup dan kikuk.  Mencari-cari kalimat yang tepat untuk mengucapkan semua yang kurasa. Tentang rindu yang memaksaku untuk terus menunggu. Tetapi, jika sekarang kau mengabariku itu artinya kau memberikan kejelasan tentang janjimu. Kau  kembali bersamaku atau tidak.  Dan setelahnya aku tak menunggu lagi. Sebab yang ditunggu akhirnya datang pada suatu hari atau malah tak akan datang.  Dan itu adalah akhir dari penungguanku. Menunggu akan berarti menunggu jika terus menunggu. Inilah puncak kecemasanku.

Hatiku tidak siap untuk menerimanya. Aku merasa nyaman dengan penungguanku yang begitu lama. Semakin lama menunggu kepulanganmu, semakin besar pula kerinduan. Rindu selalu hadir saat hujan mulai reda, seperti kini. Bahkan saat kemarau panjang, rindu menyejukanku. Dan rindu itu bagai setes air, menghilangkan sedikit dahaga walau pun tak sampai tuntas. Tetapi, rindu memang tak bisa diobati. Pertemuan pada dasarnya bukan untuk mengobati rindu. Sebaliknya malah memupuk kerinduan. Itulah yang kutakutkan.

Pemberani adalah orang yang bisa menghadapi dan menerima kenyataan. Sekalipun itu menyakitkan, katamu suatu ketika. Dan aku mengangkat telephonemu. Kuseka air mata dan..

“hallo”

Terputus.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: