Tinggalkan komentar

Rinduku Seperti Sepasang Merpati – Cerita Fitri Y. Yeye

RINDUKU SEPERTI SEPASANG MERPATI

Cerita Fitri Y. Yeye

Sepasang merpati berkicau bersahut-sahutan. Mereka berdendang riang di ujung dahan pohon jambu di depan rumahku. Nyanyiannya membuatku enggan beranjak dari tempat duduk. Riuh suaranya berhasil juga memancing senyumku yang lenyap sejak beberapa hari ini.

Mereka merpati piaraan papa, terkadang aku heran mengapa papa menyukai merpati-merpati itu. Hanya membuat berisik tiap pagi dan sore. Karena di waktu-waktu itu mereka berlarian di atap rumah dengan cicit-cicit suaranya.

Aku tak pernah tahu kalau apa yang mereka perdengarkan itu merdu adanya.

Kata papa, “coba dengarkan baik-baik. Simak dan nikmati nyanyiannya, lamat laun kamu akan sangat menyukainya.”

Aku hanya mengangguk kala papa bicara begitu, dan hingga waktu yang lama aku tak pernah benar-benar serius ingin mendengarkan merdunya suara merpati-merpati itu.

Hingga sore ini aku terkesima, saat mereka berhamburan entah datang darimana. Kemudian hinggap di ranting-ranting pohon jambu. Seolah sedang bercengkerama, berloncatan dari satu dahan ke dahan lain. Begitu ringan, melayang dan kemudian terbang. Aku mengamati laku mereka. Inilah untuk pertama kalinya aku menyaksikan merpati-merpati yang sebenarnya sudah sejak dulu bersarang di bawah atap rumahku.

Mereka merpati-merpati yang tak pernah ingkar janji. Setiap pagi mereka menghilang, menghirup udara kebebasan di angkasa luas. Mungkin mereka sedang berkunjung ke suatu tempat yang lama tak pernah mereka singgahi. Atau mungkin mereka memenuhi undangan burung-burung lain untuk sekedar berbagi cerita. Entahlah..satu yang pasti ketika sore mereka pasti kembali. Beriringan sampai lagi di rumah, di tempat sang tuannya selalu menunggu kepulangan mereka.

Merpati itu bukanlah aku, juga bukan kamu. Mereka hanyalah seekor burung yang mempertontonkan dengan manis keseharian mereka yang menyenangkan. Sementara aku dan kamu, dua hati yang kini sedang mempertontonkan kebisuan yang tak tahu sebabnya.

Kita dua hati yang tak sama, meskipun seringkali kita memaksakan agar bisa selalu bersama. Egomu terlalu berlebihan untuk sekedar mau memahamiku dengan sabar. Dan aku terlalu angkuh, untuk mengakui dengan jujur keberadaanmu penting bagi hidupku.

Kita sedang tak serupa dengan merpati-merpati itu. Tak ada kicaumu lagi yang membuatku riang setiap waktu. Juga tak adalagi tawamu seperti bunyi cicit-cicit sang merpati yang memerdukan pendengaranku di sepanjang pagi. Aku memilih bersembunyi, dan diam-diam mengintipmu dari balik tirai jendela hati.

Kadang aku tersenyum, ketika kulihat kau ada dan sedang bercengkerama dengan seseorang di luar sana. Namun kadang aku cemberut, menyalahkan kenapa bukan denganku kau berbagi tawa. Saat itu mataku mulai berkabut, dan aku menelan perihnya menyimpan rindu ini terlalu lama.

“Cicit,cicit,cicit…” Siulan merpati itu kembali nyaring di gendang telingaku. Lalu aku mendongak ke atas pohon jambu, tempat dimana mereka sedari tadi menabur ceria. Namun aku tak lagi menemukan mereka di sana. Tanpa kusadari rupanya mereka telah kembali mengepak sayap, kemudian hening di sangkar perak di bawah atap. Barangkali mereka terlelap, kelelahan setelah seharian mengembara.

“Cicit,cicit.cicit…” Merpati-merpati itu telah berada dalam sangkarnya. Namun suara itu masih saja terus kudengar. Semakin jelas, dan merdu sekali di telingaku. Aku terbuai, dan ingin menari-nari mengikuti kicauannya.

Tak sabar, kusibak lagi jendela hatiku. Kembali kulihat kau di luar sana, sedang berkata-kata bahagia. Aku hanya bisa bertanya

“apakah kau sedang menyapaku?. Apa kau ingin bicara denganku?”

Kulihat kini kau yang melongok ke arahku, senyummu sudah cukup untuk menjawab semuanya. Lirih kubisikkan dari balik hatiku.

“Aku sedang merindukanmu”

aku yakin kau takkan mendengar gumamanku. Kututup kembali jendela hatiku, namun tanganmu menghentikannya. Kali ini dengan tatapan teduhmu sembari berkata

“ucapkan sekali lagi!!” Aku membisu, dan kau mengulanginya

“sekaliiiiii lagiiiiii…” Dengan senyum khasmu yang menawan hati.

Aku merasa tak sanggup lagi untuk terus bersembunyi. Aku membuka jendela hatiku lebih lebar lagi. Membiarkan kau masuk dan melihat seluruh rindu yang kutumpuk rapi di dalamnya.

Dan hatiku menghambur kepelukan hatimu, untuk kesekian kalinya dengan jelas aku kembai mengakui

“aku merindukanmu”

Aku dan kau dua hati yang berbeda, namun kita berusaha untuk tetap bisa bersama. Seperti sepasang merpati yang selalu berbagi ceria. Berusaha memegang janji untuk setia. Tentu saja setia bersabar menanti waktu menjadi milik kita. Dan di altarnya rindu kita akan bersua.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: