Tinggalkan komentar

Puisi Susan Gui: Saat Nanti Kita Tiada Cahya

SAAT NANTI KITA TIADA CAHYA

Puisi Susan Gui

Ada tapak waktu dari guratan jemarimu
Dalam setiap inchi ranum tubuhku
Diikat dari masa hingga tenggat rasa
Itu aku teggelam dalam harap jutaan kata

Kerap aku lunglai dan berkali kalah
Sekali pun perang belum merupa wajah

Tubuh wadag beribu pasrah
Rebah begitu di tindih marah

Malam,  membawa rupa kelam
Biar lenganmu menggaris takdir

di atas tubuhku tanpa jeda;

aku ribuan kali pasrah menunggu masa

saat nanti kita tiada cahya

diburu disemenanjung usia

Juli, 2012

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: