Tinggalkan komentar

Sepedaku di Mata Keluarga – Catatan Martin Siregar

“Jati.. Kemarin kami jumpa bapakmu, naik sepeda tua celana pendek”. “Ada goni diikat karet ban dalam” : Kata Belisia di sekolah SMP Immnanuel Medan. Ditengah anak anak yang sedang berkerumun pada istirahat pertama.

Jam setengah enam sore aku baru pulang dari kerja, melihat Jati murung.”Pak… tadi Jati malu sekali di sekolah “. Lantas dengan wajah pahit sedih  diceritakan si Jatilah kisah sedih yang dialaminya di sekolah. Aku belai rambut anakku membesarkan jiwanya ”Pasti hancur luluh hati anakku”. Pasti merasa martabatnya turun drastis  gara gara ucapan Belisia.

Tiga bulan yang lalu Jati dan kawan kawan sekelasnya berkumpul Kelompok Belajar dirumah kami. Naomi, Deborah, Winda,  Crist, Raymon dan Abimayu bergotong royong membuat gambar peta pakai kertas koran yang ditumbuk campur lem kanji.

Sebelum pulang gerombolan anak anak itu kumpul di teras depan dekat sepedaku. Crist pencet pencet terompet sepedaku sambil teriak: “Roti…Roti..”,. Semunya tertawa tawa gembira. Apalagi waktu si Winda dorong sepeda itu ke jalan umum sambil bunyikan lonceng sepeda : Kring..Kring.. KORAN .. KORAN !!! ”. Semuanya berebut membunyikan 2 lonceng sepedaku sambil mendorong. Mereka tak berhasil menaiki sepedaku yang besar itu.

Sambil nunggu jemputan orang tuanya masing masing, aku ajak anak anak diskusi. “Slank itu hebat kali ya…”.  Semua lagunya mantap — bikin anak muda tergila gila”. Dengan penuh semangat  mereka keberatan: “Woi … Slank itu macam orang narkoba kalau nyanyi”. “Tak sopan buka baju teriak teriak”. Aku senang karena mereka berhasil kupancing marah.”Jadi ..kalian suka siapa “ ?. Dengan penuh keyakinan mereka sebut:”AFGAN – lah”. Suaranya lembut merdu gaya sopan selalu senyum”.

Matilh kita ini, anak anak  kok begini cita-rasanya ???. Maka kukatakan:”Afgan…Uh !! Macam kakek kakek kampungan gayanya”. Cocoknya dimasukan ke tong sampah dia itu”. Mendengar bahasaku yang ekstrim serentak mereka teriak;”Ooooo..Tak ada itu!!.”. Masak, Om ini suka sama band narkoba”. Hua…ha…ha…Kuberi sedikit interval waktu,  kemudian aku pura pura bertobat :”Iya…ya..Betul juga ya..” Kalau anak anak  suka penampilan yang “hancur” macam Slank mana mungkin masa depan cerah dapat diraih”. Mereka gembira sekali : “Makanya …Om ini mungkin suka narkoba”. Hua…ha..ha..mereka semua tertawa lepas  gembira.

Sejak itu aku disapa dengan sebutan “Om Gaul”. Dan, sama sekali martabat  si Jati tidak dinilai rendah oleh kawan kawannya. Sepedaku itu justru (secara tidak langsung) menaikan martabat si Jati karena punya bapak antik yang dekat dengan  anak anak. Berhasil memahami dan memfasilitasi selera anak-anak.

Entah kenapa, siang tadi nasib buruk menimpa anakku Jati Theresia Moranca Siregar. Belisia nampaknya sengaja mengucapkan kalimat pedas merendahkan anakku di hadapan kawan kawannya.

Sebulan yang lalu pada acara doa lingkungan, dengan penuh hormat Mama Eka menyapa istriku ;”Bu… Sebenarnya bapak bawa belanjaan apa ke pasar”. Hampir setiap hari saya jumpa dia bawa ransel besar naik sepeda, celana pendek”. Istriku mengaku martabatnya turun akibat ucapan Mama Eka. Naik darahku mendengar ucapan itu, katanya. Supaya martabatnya tak direndahkan istriku berkata:” Oh..Isi ransel itu lap top”.”Dia itu kerja di pengembangan masyarakat”. “Ngurus anak jalanan supaya bisa hidup tertib dan punya masa depan”. “Disamping itu dia itu sudah terbitkan dua buku”.

Mak !!! Gawat !! Sudah berkelebihan ucapan istriku demi untuk menjaga martabat harga dirinya.”Dan, memang setelah ucapkan itu, Mama Eka jadi kagum sama kau”: Inilah yang dituturkan istriku.

Mendengar keterangan istriku diatas tempat tidur, membuat aku lemas dan sulit tidur. Terasa, ada beban berat yang harus kupikul sebagai pekerja sosail yang (seolah-olah) punya rasa kemanusian diatas rata rata manusia. Ketika rakyat sibuk mengurus harta benda kekayaan keluarga, aku dituduh masih sempatkan diri mengurus anak jalanan. Betapa beradabnya ??? — Matilah aku ini —.

Tadi pagi waktu kubawa sepeda ke kantor, terdengar suara : Ngek..Ngok..Ngek ..Ngok kalau di dayung. Aku yakin  butir mimis pedal sepeda perlu diganti. Pasti sepedaku bathinnya sangat tersiksa. Memang sepeda benda mati. Tapi, dia adalah kawan dialog yang baik budi selama 2 tahun menjadi kenderaanku kemana mana.

Tapi, pasti ditolak permintaan duit membetulkan sepedaku.

Karena istri dan anakku (mungkin) tekun berdoa :”Semoga ada penghasiln tambahan setiap bulan”. “Supaya ada duit beli kreta (motor) satu lagi.” Supaya sepeda tua dapat segera DIBUANG”

“Oooaaalllaaaahhhhh … Sedihnya nasib ini” : Kuucapkan kepada bulan purnama yang sedang cerah ceria.

Tapi, mendadak aku sadar. Kenapa penjualan sepedaku seakan akan persoalan yang jauh lebih besar dari persoalan kemiskinan struktural yang menimpa puluhan juta jiwa rakyat Indonesia.

Betapa romantisnya kehidupan ini. Hua…ha…ha..

kawan kentalmu

bason

akhir juli 09

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: