Tinggalkan komentar

Mengantar Pulang – Cerita Edy Priyatna

MENGANTAR PULANG

Cerita Mini Edy Priyatna

Beberapa menit berselang ada suara halus menegurku dari belakang, cukup mengagetkan. Namun seperti percaya tak percaya ternyata dia wanita muda putih dan cantik yang tadi duduk di sebelah kananku.

Seperti biasanya setelah pulang kuliah sore hari aku tidak langsung pulang ke rumah. Untuk menghilangkan stress setelah lelah bekerja paruh hari kemudian kuliah aku selalu mencari hiburan apa saja. Kadang-kadang nonton wayang golek atau pertunjukan layar tancap, aku pasti menikmatinya. Namun aku seringnya nonton bioskop, kebetulan letaknya tidak begitu jauh dari kampus.

Hari ini aku tertarik untuk menonton sebuah film horor yang luar biasa iklannya, sehingga aku berencana untuk menontonnya setelah pulang kuliah. Tetapi karena ada kuliah umum, aku terpaksa baru dapat menonton pada pertunjukan terakhir jam 21.45.

Ketika pertunjukan film sudah dimulai, aku baru sadar bahwa ternyata aku duduk dengan diapit oleh dua orang wanita yang sekilas cantik. Konsentrasiku sedikit terganggu untuk menikmati film tersebut. Sebentar-sebentar melirik kepada wanita-wanita itu. Kadang tak terasa tangan wanita yang sebelah kiri tersentuh tanganku. Aku langsung meminta maaf, namun dia hanya menjawabnya dengan senyum.

Pada waktu pertengahan tiba-tiba film tersebut sangat menegangkan dan tanpa disengaja wanita sebelah kiriku histeris sambil meremas tanganku. Akupun terkejut namun berusaha menahan diri.

“Maaf ya mas,” katanya dengan berbisik.

“Oh, tak apa-apa dik,” sahutku juga dengan suara perlahan.

Terus terang sudah buyar konsentrasiku saat menonton film tersebut. Hatiku justru menjadi tidak keruan. Anehnya aku malah menjadi salah tingkah sejak kejadian itu.

Selepas bubaran bioskop pun aku hanya diam membisu sepanjang jalan. Padahal wanita yang duduk dikiri-kananku tadi, ternyata tidak saling mengenal. Kedua wanita itu memang terlihat cantik dan kelihatannya mereka juga pendiam. Namun aku sendiripun menjadi tidak dapat berbicara untuk menyapanya.

Malam semakin larut ketika aku berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan kota. Waktu telah menunjukan jam 23.55. Hanya tinggal beberapa orang saja yang berseliweran di tepi jalan itu. Beberapa menit berselang ada suara halus menegurku dari belakang, cukup mengagetkan. Namun seperti percaya tak percaya ternyata dia wanita muda putih dan cantik yang tadi duduk disebelah kananku.

“Pulangnya kemana mas?” tanyanya lembut.

“Ke Manggarai,” jawabku dengan senang.

“Wah, searah dong mas…” katanya dengan senyum.

“Kamu sendiri kemana dik?” tanyaku kemudian.

“Aku ke Menteng, antar aku ya mas ” sahutnya masih dengan senyum.

“Boleh, kenapa tidak!” jawabku spontan karena aku berpikir searah, pasti takkan lama.

Tak lama kemudian mobil angkot jurusan Manggarai pun lewat dan berhenti persis didekat kami berdiri. Lalu kami langsung menaiki mobil tersebut yang ternyata kosong. Selama perjalanan kami tidak berkata apapun. Tiba-tiba wanita itu minta berhenti dan mengajakku turun, saat mobil angkot tersebut sudah sampai di ujung jalan Menteng Pulo.

Setelah berjalan sebentar kami berdua pun tiba di suatu tempat, dimana di sana ada gardu listrik yang besar dan disebelahnya ada pintu gerbang perkampungan yang sunyi, kamipun akhirnya tiba di rumah si cantik itu.

Rumah tersebut dalam keadaan gelap karena lampunya mati. Tak lama setelah kami masuk, wanita itu menyalakan lampu rumahnya. Aku terkejut melihat isi dalam rumah tersebut. Ruangannya begitu luas lantainya karpet permadani merah mewah. Lampu-lampu pada ruang tengah begitu indah. Warna dinding tiap ruangan begitu mencolok dan berbeda sehingga menimbulkan gradasi warna indah mempesona. Lalu aku dipersilahkan duduk di sofa. Wanita itupun berjalan menuju ruang belakang. Sementara pikiranku melayang entah kemana antara sadar dan tak sadar.

Ketika wanita tadi kembali menemuiku dengan membawa minuman dan makanan kecil, tiba-tiba terdengar suara halintar menggelegar bersamaan dengan turunnya hujan lebat di luar rumah. Setelah aku mereguk minuman tersebut wanita cantik itu langsung memelukku dan tiba-tiba akupun tak ingat apa-apa lagi.

********

Keesokan harinya warga setempat telah menemukan seorang mayat laki-laki dengan wajah yang sangat mengerikan dan tubuhnya tercabik-cabik ditengah-tengah area pemakaman.-

(Pondok Petir, 19 Desember 2011)

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: