Tinggalkan komentar

Ini Hanya Soal Waktu, Aay (3) – Cerbung Enggar Murdiasih

INI HANYA SOAL WAKTU, AAY (3)

Cerita Bersambung Enggar Murdiasih

~~ cerita sebelumnya : sudah dua kali Meinar menanyakan hal yang sama pada Ganang, tentang keseriusannya, tentang ketulusannya. Sementara ayah  Meinar pernah mengikat janji untuk menjodohkannya dengan anak sahabat karibnya sejak muda  ~~

“Haryo….kenalkan. Ini Maria, sepupuku…..” Tommy menggamit lengannya saat malam inaugurasi.

“Haryo…”.

“Maria….”.

Sebagai mahasiswa yang hidup di rantauan, Haryo sangat membatasi pergaulannya. Ia teringat pada janjinya pada kedua orang tuanya, ia bertekad untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Itulah sebabnya Haryo hampir tak punya teman perempuan satu pun.

Merasa berasal dari satu daerah, Tommy merasa prihatin. Ia tak rela bila sahabatnya ini hanya berkutat dari kost ke kampus, ke perpustakaan lalu pulang lagi ke kost.

Tanpa sepengetahuan Haryo, Tommy telah merencanakan sesuatu. Kebetulan Maria kuliah di tempat yang sama dengan mereka. Maria yang telah beberapa kali bertemu dengan Haryo, menyetujui rencana itu.

Mereka segera terlibat dalam perbincangan yang akrab, sesekali diselingi canda tawa. Tommy yang telah mengatur semua itu diam diam menyingkir, membiarkan Haryo menemani Maria.

Malam inaugurasi berlangsung meriah dan lancar. Langit yang cerah, udara yang hangat seakan mendukung acara itu terlaksana dengan sukses.

Sambil celingak celinguk mencari Tommy, mereka menyusuri seluruh sudut kampus yang mulai sepi.

“Bagaimana ini Maria…..kau….” Haryo mulai khawatir. Sebentar lagi tengah malam, tak baik seorang gadis pulang ke rumah sendirian.

“Bersediakah  kalau kuantar…..?” ragu ragu Haryo menawarkan diri. Maria mengangguk malu malu.

Dan jadilah, sejak malam  itu Haryo mulai dekat dengan Maria, gadis yang dikenalkan Tommy padanya.

***

“Haryooooooo……” Iskandar berteriak kencang, tak peduli pada orang orang yang memperhatikan tingkahnya. Ia berlari lari mendapatkan sahabatnya yang baru turun dari bus yang membawanya dari Bandung.

“Is…..kau pulang juga rupanya….” Haryo membalas pelukan itu dengan erat. Kerinduan yang selama ini ditahannya seakan tercurah begitu saja.

Setelah melambai pada taksi yang melintas, Haryo dan Iskandar meneruskan obrolan mereka di dalam taksi. Serunya mengalahkan deru lalu lintas kota yang mulai padat dan macet. Maklum, kedatangan mereka bertepatan dengan jam masuk sekolah, jalanan dipadati orang tua yang tengah mengantar anak anaknya ke sekolah.

Sorenya, Iskandar menjemput Haryo di rumahnya. Setelah berbasa basi sebentar, mereka segera meluncur ke rumah Minarti, perempuan cantik yang ditaksir Iskandar.

“Minarti…..” gadis berwajah lembut itu mengulurkan tangannya. Haryo terperanjat, wajah gadis itu mengingatkannya pada seseorang. Tapi siapa??

Jadilah, sore itu mereka berbincang akrab dan hangat di rumah Minarti. Sesekali Haryo mencuri pandang pada Minarti, pikirannya sibuk mengingat ingat. Tapi, ia sama sekali tak berhasil.

“Naksir Minar?” tepukan Iskandar mengagetkan Haryo yang sedang memandangi album foto di hadapannya. Haryo tersenyum, percuma saja berpura pura di hadapan sahabatnya ini.

“Aku tengah dekat dengan seorang gadis Jogja. Kebetulan kuliahnya se kampus denganku…” jawab Haryo asal asalan. Ingatannya melayang pada Maria, sepupu Tommy.

“Ahaa….bagaimana kalau nanti kita besanan?” Iskandar mengajukan usulan yang konyol menurutnya.

“Maksudmu?” Haryo tak mengerti.

“Sebentar lagi kita lulus kan? Jangan katakan tidak. Aku tahu kau tinggal ujian pendadaran. Aku juga, tinggal menunggu yudisium……” Iskandar membusungkan dadanya, bangga.

“Lalu?”.

“Kita menikah bersamaan. Jangan pada tanggal yang sama, tapinya….” sahutnya kocak. Nampak benar kalau Iskandar sudah mempersiapkan segala rencana demi kelangsungan persahabatan mereka.

“Baiklah. Aku belum yakin dengan perasaan Maria. Tapiiiii….tak ada salahnya bila kucoba melamarnya….” Jawaban Haryo terasa mengambang. Ia bahkan belum mengajuk hati Maria. (Bersambung)

 

**kemanakah perjalanan cinta dua sahabat ini akan berlabuh? Dapatkah Meinar menentukan siapa pendamping hidupnya? Tunggu kisah selanjutnya ^**

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: