Tinggalkan komentar

Ini Hanya Soal Waktu, Aay (4) – Cerbung Enggar Murdiasih

INI HANYA SOAL WAKTU, AAY (4)

Cerita Bersambung Enggar Murdiasih

~~ cerita sebelumnya : Haryo berkenalan dengan sepupu teman kuliahnya. Saat liburan, Haryo dan Iskandar pulang ke Jogja, mereka saling berjanji untuk besanan bila nanti  mereka dikaruniai anak laki laki dan perempuan ~~

Pernikahan itu berlangsung meriah, meskipun diselenggarakan secara sederhana.

“Maria, maukah kau menikah denganku?” Haryo menghentikan langkahnya di tangga ke tiga.

Maria terperangah. Ia tak menyangka Haryo akan melamarnya di teras fakultas seperti ini.  Toga sarjana masih mereka kenakan, dan upacara wisuda baru saja selesai mereka ikuti. Maria mengangguk malu malu, tetapi segera terlonjak kaget saat mendengar gemuruh sorakan teman teman.

Tommylah  yang paling sibuk mempersiapkan kejutan dan memfasilitasi kebutuhan Haryo. Mulai dari buket bunga mungil, cincin bermata biru kesukaan Maria, hingga teriakan dan sorakan membahana dari teman teman wisudawan lainnya. Sempurna.

Seminggu kemudian Iskandar menikahi Minarti. Haryo menghadiri pesta itu dengan menggandeng Maria yang tampil cantik.

“Halooo….pengantin baru” kelakar Iskandar. Dipeluknya bahu sahabatnya ini dengan akrab.

“Kau….bukankah kau Maria….?” Minarti terperanjat. Dipandanginya wajah perempuan di hadapannya itu dengan teliti.

Maria pun tak kalah kaget. Saudara sepupu yang telah lama terpisah itu akhirnya dipertemukan dalam suasana yang menggembirakan.

“Mas, ini Minarti yang pernah kuceritakan dulu..” Maria menggamit lengan Haryo.

“Jadi….jadi kalian?” Iskandar hampir tak percaya pada kenyataan yang ditemuinya, justru di hari bahagianya.

Mereka berdua memang telah bersepakat, tak akan memperkenalkan calon istri mereka masing masing sebelum hari pernikahan tiba. Saat menghadiri pesta Haryo, Iskandar datang sendirian. Sebaliknya, Haryo menggandeng Maria dengan bangga karena telah berstatus sebagai istrinya yang syah. Ada ada saja mereka. Perjanjian yang aneh dan tak masuk di akal.

Siapa sangka, ternyata isteri mereka bersaudara sepupu?

***

“Benarkah ini rumah bapak Ganang?” seorang kurir muncul dari balik kelokan.

Selembar undangan berwarna merah marun, dituliskan dengan tinta perak terulur ke hadapannya. Setelah menanda tangani tanda terima, Ganang menimang nimang undangan itu. Perasaan tidak enak mulai merambati hatinya.

“Meinar……..jadi….jadi……” ia terduduk lesu di sofa ruang keluarga. Dua bulan sejak pertemuan mereka yang terakhir di restaurant itu, Meinar tak terdengar kabarnya lagi.

“Kenapa kau lakukan ini kepadaku Mei? Kenapa??” rutuknya. Ada rasa tidak rela menyelimuti hatinya.

Selembar  surat berwarna senada terjatuh dari sela sela kertas undangan itu. Tulisan tangan Meinar yang halus dan rapi terhampar di hadapannya.

“Mei…… meskipun berat, tapi aku mengerti betapa beratnya hatimu saat  ini. Aku rela Mei, rela menerima apapun keputusanmu. Semoga kau berbahagia dengan pilihan kedua orang tuamu, sayangku. Percayalah, cintaku tak akan pernah berkurang sedikitpun, meskipun kau bukan milikku lagi….”. Ganang memencet tombol send di hapenya.

Pesan itu terkirim tak sampai hitungan detik setelahnya.

Ganang menghilang sejak pesan pendek itu terkirim ke nomor hape Meinar. Tak ada satupun keluarganya yang mau memberitahukan keberadaannya. Galang bagai hilang ditelan bumi.

***

Meinar menjalani biduk rumah tangganya dengan setengah hati. Demi janji kedua orang tuanya, demi baktinya kepada ayah ibunya yang telah membesarkannya hingga menjadi orang seperti saat ini. Dia menekan perasaan pedih dan terluka di hatinya dalam dalam demi dilihatnya binar kebahagiaan yang terpancar di wajah ayah yang sangat dikasihinya.

“Meinar……” demikian selalu sapaan pak Haryo bila singgah di rumah. Dipeluknya anak perempuannya yang tengah mengandung calon cucunya itu dengan sayang.

“Dimana Arya? Kenapa ia belum berada di rumah jam segini?”.

“Selamat sore ayah. Kebetulan. Saya bawa martabak telur kesukaan ayah….” Arya muncul dari balik gerbang. Ditentengnya kotak martabak yang menguarkan aroma yang menggugah selera itu.

Setelah mengecup kening Meinar, Arya berlalu ke dapur. Dia muncul dengan tiga gelas teh hangat dan sepiring martabak. Ketiganya segera melahap camilan itu dalam senda gurau yang hangat. Sesekali Meinar menatap sorot mata ayahnya, binar binar bahagia terpancar jelas di sana. Mei menekan perasaannya, tak tega rasanya merenggut kebahagiaan itu dari wajah ayahnya yang mulai menua.

Diam diam Arya mencuri pandang ke arah Meinar. Seperti biasa, wajah isterinya datar tanpa gejolak. Sesekali ia tersenyum meskipun ia tahu, senyum itu hanya penghias bibirnya saja. Senyum yang dipaksakan, tanpa ada seri di dalamnya.  Arya menghela nafas panjang, berusaha meredakan gemuruh yang bergejolak di dadanya.

Pernikahan mereka telah berlangsung hampir setahun. Meinar tak pernah menolak segala kemauan Arya, pun ia tak pernah mendebat semua perkataannya. Ia melayani semua keperluannya tanpa pernah mengeluh. Sesekali ia tersenyum saat Arya membawakan makanan kesukaannya sepulang kantor, atau membelikannya hadiah kecil sepulangnya dari dinas luar kota.

“Terima kasih mas, ini indah….” demikian setiap kali Arya menghujaninya dengan oleh oleh.

(Bersambung)

**^ lalu bagaimanakah kelanjutan kisah ini? Ganang yang menghilang, Arya yang menikahi Meinar….lalu pergulatan batin Meinar dan Arya sendiri? Simak kelanjutan kisahnya ^**

 

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: