Tinggalkan komentar

Giok Pada Bulan Mei – Cerpen Susan Gui

GIOK PADA BULAN MEI

Cerpen Susan Gui

Cinta adalah ranah yang sering tidak bisa dijelaskan lewat nalar yang logis, tapi tentu bisa dimaknai melalui ruang-ruang magis yang mendalam.

25 Mei 2000

Sudah lebih 2 tahun aku menatap ke jendela, menunggumu datang dan memberikan segaris senyum hangat untukku. Aku selalu menatap ke jendela; selalu menunggu. Aku kehilanganmu. Kau tidak pernah kembali.

12 Mei 2003

Inilah tahun ke 5 kau pergi dan tidak kembali. Rentang waktu sedemikian panjang kusesapi dengan duka. Tidak ada irama magis yang biasa kau tabur disela-sela kegalauan hati. Kini sepi menjadi teman abadi, merengkuh hangat tubuhku yang semakin ringkih dimakan waktu.

Aku sudah tua, tidak lagi muda. Penantian panjang 5 tahun seakan menarik hidupku mundur ke belakang. Air mataku kerap menitik tanpa alasan, seperti hujan yang menitik tiba-tiba.

Aku mengambil kopimu yang hangat, tidak lagi panas. Aku tidak meminumnya, aku tidak suka kopi, kau suka kopi. Aku memandangi kopimu, 2 sendok teh kopi hitam pekat harus dipadu dengan  1 sendok teh gula. Kopi diaduk melawan arah jam dengan air yang panas didih; itu kebiasaanmu dalam menikmati kopi. Aku menangis tersedu, perih merangkak pelan disela-sela hatiku.

Pranngggg, aku melempar gelas kopimu ke tembok. Aku biarkan orang-orang di luar datang menghampiri kamarku, kubiarkan mereka menatapku menangis. Kini tembok putih itu terlumuri oleh kopimu.

Kopimu yang tidak pernah kau sesap, ratusan kopi bahkan ribuan kopi akan selalu dingin di atas mejaku. Kau tidak pernah datang.

“Dia mengamuk lagi, ambilkan obat penenang” ujar salah seorang perempuan berpakaian putih.

Aku bangkit dari tempat dudukku, tubuhku terpojok ke jendela. Aku menantang mata mereka, aku menatap mata mereka satu persatu. Aku menantang apapun untuk bisa menyentuh lenganmu sekali saja.

“Kau pikir aku gila!” bentakku

“Tenang Giok, tidak akan sakit” ujar lelaki yang kuingat dengan jelas, dia selalu memakai baju warna putih. Orang memangilnya Dokter.

*****

2 orang laki-laki berbadan kekar langsung menyergap tubuhku, aku tidak bisa bergerak. Kesekian kalinya aku dibuat tidak berdaya oleh obat-obat yang masuk lewat aliran darahku. Aku melemah, sayup-sayup kudengar, “Lain kali jangan ada benda yang berbahaya di dalam kamar Giok” ujar Dokter.

“Giok selalu minta kopi panas, tidak pernah diminum dok” sahut suster kepala.

Aku kehilangan kesadaranku.

12 Mei 2004

Matahari menelusup dari sela dedaunan rimbun didepan kamarku, aku menggeliat pelan. Kicau burung sayup terdengar, berirama riang seperti menggambarkan hidup itu suatu gelora yang sarat akan makna. Aku mengusap wajahku, peluh menetes diantara pori-pori kulit yang pucat.

Aku membuka mataku, menatap ke langit-langit kamarku. Sepi. Tidak ada satu hal pun yang bisa kusebut kehidupan. Setelah semua tercerabut dari simpul-simpul hidup, aku merasakan kematian di setiap detik napasku.

Aku bangkit dari tempat tidurku, beberapa detik kemudian aku melihat kejadian lampau membias di hadapanku, melekat pada tembok putih yang sudah terlumur coklat kopi. Kejadian waktu itu, kejadian yang membuatku harus terus hidup di balik jeruji rumah sakit ini; kejadian kehilangan dirimu Leung.

Aku merasakan tubuhku panas, darah seperti mengirimkan energi kuat ke otot-otoku. Rintikan air mata tidak terbendung, aku menangis tersedu-sedu. Aku tidak ingin berdamai pada apa yang tidak kumengerti dengan nalarku.

Setiap jiwa yang mempunyai kepentingan seharusnya tidak merebut kehidupan orang lain. Kami yang tidak mengerti apapun menjadi sasaran bidik, kami? Kami adalah jiwa yang tidak mengerti salah kami apa.

Aku menjerit, melolong seperti serigala. Biarlah dunia tahu, perih  ini mentransfer kebencian dalam setiap desah napas yang kualun pelan. Kopi di ujung meja mengeluarkan asap, kepulan dari air yang masih panas. Aku mengambilnya dan menyiramkan ke atas kepalaku.

25 Mei 2005

Aku memegang jeruji besi dengan tersedu, kiranya penantian ini sedemikan panjang dan menyakitkan. Kau tidak juga kembali. Ini kesekian tahun, sekian Mei yang kulewati dengan kemarahan. Aku seperti mengais serpihan hatiku pada bulan Mei.

Harapan kalau bulan Mei waktu itu tidak pernah terjadi. Mei 1998. Membawa lelakiku pergi dan tidak pernah kembali.

Peperangan pasti haus darah, tapi ini bukan perang. Bukan. Mereka bilang ini reformasi, sesuatu harus ada yang dirubah untuk menuju suatu kebaikan. Harus ada yang lengser, menggelontor ke bawah. Harus sesekali berdarah-darah untuk berevolusi menciptakan sejarah baru, harus ada yang dikorbankan sesekali.

Tidak ada satu kejadian yang tanpa sebab. Itu yang kupahami hingga kini, sebagai manusia yang bergantung tentu tidak mungkin kejadian menjadi sebuah garis takdir begitu saja.

Setiap menit kupahami sebagai proses pembelajaran diri yang berkembang detik demi detik; aku semakin mencintaimu. Sama halnya ketika aku melihat semesta dan takdir.

Apa memang aku sudah gila?

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: