Tinggalkan komentar

Puisi Fauzan Mahdami: Pancasila

PANCASILA

Puisi Fauzan Mahdami

Ketika “Ketuhanan yang maha Esa”
Menjadi Ketuhanan yang berdasar uang dan kekuasaan
Saat Tuhan disebutkan keras, namun tak mampu dihadirkan dalam hati dan jiwanya
Saat nama Tuhan diperjualbelikan dengan harga murah
Saat saat membantai atau menyiksa manusia lainnya atas nama Tuhan
Maka runtuhlah nilai dan keberadaan Tuhan itu dalam jiwanya

Ketika ”kemanusiaan yang adil dan beradab”
Berubah menjadi saling memangsa dan menghisap
Yang kuat menginjak yang kecil
Yang nestapa dan tak berdaya disingkirkan
Yang kecil dihukum berat dan yang besar berleha-leha
Kata adil tinggal menjadi slogan kosong yang diteriakkan para pencoleng
Adab hanya jadi mantra untuk menundukkan manusia lainnya
Maka runtuhlah nilai kemanusiaan yang akan membawa kehancuran manusia

Ketika ”Persatuan Indonesia”
Hanya dimaknai sebagai ”untaian jamrud khatulitiwa” berupa pulau-pula saja
hanya yang sepaham bisa bersama
Yang berbeda dianiaya
Hanya berisi;
persatuan para garong
Persatuan para penipu
Persatuan para rentenir
Persatuan para calo makelar
Persatuan para mafia
Persatuan para badut
Persatuan penyamun
Maka sang saka merah putih mulai tercabik

Ketika ”kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”
Menjadi rakyat dipimpin para begundal
Yang tidak bijaksana dan peduli pada rakyatnya
Tidak memberikan hikmah kepada rakyatnya
Dengan perwakilan kongkalingkong
”musyawarah” dalam bilik-bilik hotel
Dengan segepok uang dikardus
Untuk mengakali rakyatnya
Rakyat hanya menjadi pijakan untuk menggenggam kekuasaan dan kekayaan
Dengan sedikit bumbu kisah romantis picisan yang diperankan para sundal
Maka hancurlah kedaulatan rakyat

Ketika ”keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”
Hanya menguntungkan segelintir kelompok yang berkuasa
Dengan modalnya merampok kekayaan negara dan rakyat
Tanpa menyisakan setetes kesejahteraan bagi rakyat
Yang tersisa tinggalah kesengsaraan sosial bagi seluruh rakyat kecil
Tiada lagi keadilan bagi rakyat
Tiada lagi makna sosial, hanya tersisa ”individu” atau kelompok yang kuat dan memangsa yang lemah
Tak ada lagi perlindungan bagi rakyat
Maka tunggulah kebangkitan rakyat yang akan menegakkan keadilan sosialnya sendiri

Pancasila hampir tiada tersisa
Kesaktiannya dihancurkan oleh keserakahan dan kecongkakan
Tameng yang mulai berkarat bagi sang Garuda
Yang semakin terengah-engah dalam terbangnya
Entah kapan Sang Garuda mampu melesat tinggi dengan gagah membawa tamengnya
Sementara sang Saka Merah Putih melambai lemah

Senggigi lombok, 2 Juni 2013

Wisa Caturmurti

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: