Tinggalkan komentar

Puisi Kiswondo: Lonceng Kematian bagi Intelektual Pikun

LONCENG KEMATIAN BAGI INTELEKTUAL PIKUN

Puisi Kiswondo

adakah mata dan telingamu, sudah tak sanggup lagi melihat dan mendengarkan. orang-orang yang berlarian pontang-panting sambil berteriak kalap, meneriakkan tangisan kekalahan. kerna nurani yang dikoyak-koyakkan oleh bayonet dan lalu dikencingi oleh cukong-cukong, ataukah ada selubung kebijaksanaan semu yang membungkusmu, sebab terlalu lama membaca buku-buku tebal. yang penuh simbol-simbol asing yang kelewat sulit untuk dicernakan oleh pikiran dan hati yang telanjang. Ataukah kau sudah pikun, lantaran terlalu lama duduk di bangku kotor di sebuah laborat yang penuh sarang laba-laba hingga tak lagi mampu menyapa dunia nyata menawarkan sapaan hangat bergetar. kami bertanya padamu: lantas untuk apa kita belajar berlama-lama menghapal teori-teori, kalau hanya membuat kita jadih fasih ngoceh, namun tak sanggup menjawab pertanyaan yang disodorkan di depan hidung kita?

dengar, dengarkan. suara-suara ribut dan tangan lemah orang-orang terburu, yang mengetuk-ngetuk pintu ruang megah. di mana kau orgasme mengobral bahasa-bahasa pinter dan kata-kata bijak. mereka yang dirampas hak hidupnya tak butuh rumusan-rumusan aneh, sebab kenyataan sudah jelas, dan tidak meminta untuk digambarkan lagi. mereka butuh pernyataan dan ketegasan sikapmu. bicaralah. dan bertindaklah. apakah kau masih menunggu dengan sangsi, sampai barisan duka cita menjadi lebih panjang. ataukah kau masih menunggu sampai kegelapan merantai tangan dan memberangus mulutmu lalu menyekapmu di ruang pengap. sampai peradaban manusia diruntuhkan sampai rata tanah. hai hati nurani peradaban.

kembalilah ke dunia nyata. dan bicaralah yang lantang, katakan apa yang sedang terjadi. dan bertindaklah sesuai pikiran dan kata hati. Sebelum hilang kepercayaan kami. sebelum ada orang yang memukulkan tabuh pada lonceng kematian. lonceng kematianmu bagi peradaban manusia, yang kau omongkan dengan mulut berbusa-busa. segeralah berkemas, sebelum sampar itu menyambar kepalamu dan membuatmu mati tak berdaya.

Yogyakarta, Indonesia, Desember (3) 1993

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: