Tinggalkan komentar

Ini Hanya Soal Waktu, Aay (5) – Cerbung Enggar Murdiasih

INI HANYA SOAL WAKTU, AAY (5)

Cerita Bersambung Enggar Murdiasih

~~ cerita sebelumnya: akhirnya Meinar menyetujui perjodohan itu demi membahagiakan ayah yang sangat dihormatinya. Sedang Ganang? Ia menghilang setelah menerima undangan pernikahan Meinar ~~

Meinar memandangi foto hasil CT Scan di tangannya dengan nanar.  Wajahnya muram, kesedihan membayang jelas di rautnya yang pucat. Sudah beberapa hari ini pikirannya kacau, hatinya tak tenang. Perkataan dokter Ganang yang memeriksa Arya minggu lalu masih terngiang di telinganya.

“Mei, gumpalan darah beku di batang otak ini mendesak saraf disini…..disini…. dan disini…..”.

“Lalu?” tanyanya khawatir.

“Kemungkinannya 30 berbanding 70….”.

“Maksudmu…eeehh  dokter?”.

Meinar mendengarkan penjelasan panjang lebar itu dengan setengah hati. Pikirannya berkecamuk, perang batin ini membuatnya bimbang untuk segera mengambil kesimpulan.

Kecelakaan hebat yang menimpa Arya hari Sabtu lalu membuatnya limbung. Lelaki gantungan hidupnya itu divonnis dokter tak berumur panjang. Benturan hebat di kepalanya  membuat Arya kehilangan kesadaran. Darah mengalir deras dari luka sobek di sisi kiri dan kanan kepalanya.

Atas petunjuk dokter Ganang, Arya dirujuk ke rumah sakit pusat yang lebih lengkap peralatannya. Rutinitas Meinar pun berubah total sejak hari itu. Jam delapan pagi ia sudah duduk manis di bangku ruang tunggu yang terletak di depan ruang isolasi.

“Bu Mei, selamat pagi…..” suster yang lalu lalang di lorong itu selalu menyapa ramah. Tak heran. Sudah lebih dari dua minggu ia setia menunggui Arya yang terbaring diam. selang beraneka ukuran saling silang diatas tubuhnya. Ada selang infus, selang sonde dan entah selang apalagi.

“Mei, lihat…..Arya  menangis….” dokter Ganang yang berdiri di sampingnya  berbisik lirih. Saat itu Meinar tengah tenggelam dalam doa doa yang panjang di sisi tempat tidur beroda itu. Jemari Arya yang berada dalam genggamannya bergerak gerak lemah.

Tangis Arya semakin sering, setiap kali rombongan teman temannya datang menjenguk dan memanjatkan doa di samping ranjangnya.

“Bu Mei, yang tabah ya….” demikian yang selalu mereka bisikkan di telinganya. Semakin lama perasaannya semakin tenang mendengar bisikan bernada prihatin itu.

*****

Ganang selalu menyingkir diam diam setiap kali dilihatnya Meinar khusyu memanjatkan doa di sisi ranjang Arya. Ia menyimpan dalam dalam rasa irinya pada pria yang sangat beruntung itu.

“Betapa bahagianya Arya….” gumamnya.  Dari balik meja kerjanya, Ganang dapat melihat dengan jelas gerak gerik Meinar. Perempuan itu dengan penuh kasih menyeka keringat yang membasahi kepala Arya,  memperbaiki letak selimutnya yang tersingkap, mengganti tissue penutup mulutnya yang sedikit terbuka……

“Ini hanya soal waktu, Aay” desis Ganang lirih. Dialihkannya pandangannya dari Meinar yang sedang mengurus Arya dengan telaten. Rasa iri hati dan cemburu yang sempat menyala di hatinya, dipadamkannya dengan susah payah. Ia tahu, Meinar perempuan yang penuh perhatian dan sangat pengertian. Sifat itulah yang berhasil membuatnya takluk di hadapan Meinar, dulu.

Ganang mengibaskan tangannya, berusaha mengusir bayang bayang indah itu dari hadapannya. Ia tahu, tak ada gunanya menyimpan harapan itu lebih lama.

Dengan hati patah ditinggalkannya ruang isolasi tempat Arya dirawat. Setelah memastikan semuanya baik baik saja, ia melenggang menuju ke ruang kerjanya sendiri. Pelan pelan ditariknya laci kedua, diraihnya selembar foto usang yang disimpannya dengan hati hati.

“Mei….andai kau tahu. Aku masih menunggumu kembali padaku” desisnya lirih. Dielusnya wajah Meinar dalam foto itu dengan penuh sayang. Sesaat pikirannya melayang ke masa silam. Masa dimana mereka sering menghabiskan waktu berdua di sela sela kesibukan kuliah yang padat.

“Aaaahh….” Ganang menggeleng gelengkan kepalanya. Ditutupnya laci meja itu kembali setelah memastikan foto itu terletak di tempatnya semula.

Ia kembali berkonsentrasi dengan beberapa jurnal ilmiah yang harus selesai dibacanya. Minggu depan, ia harus menghadiri seminar nasional yang diselenggarakan oleh fakultasnya dulu.

*****

Dering hape di pagi buta membangunkan Ganang yang baru saja terlelap. Beberapa hari ini perasaannya tidak enak, mimpi buruk, firasat tidak enak dan entah apalagi. Beberapa pasiennya memang dalam kondisi mengkhawatirkan, dan itu sangat mengganggu ritme tidurnya.

“Apa? Oh ya…saya segera berangkat….ya…yaaa, dalam sepuluh menit saya sampai di sana” setengah berteriak Ganang menjawab telepon itu.

Tergopoh gopoh Ganang berlari ke ruang isolasi. Suara tangis yang saling bersahutan, suster dan dokter jaga yang sibuk memeriksa ……..

“Tidaaaakkk….Arya, jangan pergiii….” Meinar menangis histeris. Dipeluknya tubuh Arya yang mulai kaku.

“Mei…..sudahlah. Ikhlaskanlah dia…..”, Ganang membujuknya. Perasaannya seperti dicabik cabik. Tak sanggup rasanya menyaksikan Meinar, perempuan yang dicintainya menanggung kesedihan sedemikian dalam.

“Sabarlah Aay, ini hanya soal waktu…..” gumamnya perlahan. Ganang masih suka keceplosan menyebutkan panggilan kesayangan Meinar. (Bersambung)

**^ lalu bagaimanakah kisah ini selanjutnya? Apakah Ganang akan kembali bersama Meinar, perempuan dari masa lalunya? Lalu bagaimana sikap Iskandar, ayah Meinar setelah kematian Arya? Ikuti kisah ini selanjutnya ^**

 

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: