Tinggalkan komentar

“Bah”, Bukan Sekedar Sensasi, Melainkan Rasa Keadilan yang Terusik – Ulasan Kamerad Kanjeng

“BAH”, BUKAN SEKEDAR SENSASI, 

MELAINKAN RASA KEADILAN YANG TERUSIK

Oleh Kamerad Kanjeng
Cover buku Bah

BAH , Kumpulan Renungan Singkat Unkonvensionil Martin Siregar. Buku ini penting. Bukan hanya karena ini sebuah buku yang unik, malainkan ini sebuah ( tawaran ) gagrak ( genre ) dalam dunia tulis menulis ( sastra ) yang dapat membebaskan rakyat dari berbagai hambatan tulis-menulis.

UNKONVENSIONIL

Bahasa tutur (lisan) dan bahasa tulis (sastra ) telah hidup berdampingan berabad-abad dalam kebudayaan kita. Walau pun keduanya berasal dari ranah yang berbeda. Bahasa tulis sering dianggap lebih maju dibanding dengan bahasa tutur yang jangkauannya terbatas. Bahasa tutur terbatas oleh waktu, begitu dituturkan ia selesai atau tersangkut dalam ingatan yang juga tak panjang usianya, ia segera lenyap dimakan lupa atau terkubur bersama kematian. Bahasa tutur terbatasi dalam radius pendengaran manusia. Bahasa tutur terbatas dalam satu komunitas.

Keterbatasan bahasa tutur oleh ruang dan waktu itu diatasi oleh bahasa tulis. Begitu dituliskan sebuah pesan akan sampai pada orang dari bergenerasi ke generasi. Begitu dituliskan sebuah pesan akan mampu menjangkau segala komunitas di segala penjuru bumi. Karena jangkauannya yang melampaui batas lintas komunitas dan lintas generasi itu bahasa tulis punya konsekwensi yang jauh berbeda dengan bahasa tutur. Konsekwensi untuk mencapai efektifitas dan efisiensi komunikasi ini yang menggiring bahasa tulis bersandar pada konvensi. Kian hari konvensi ini berkembang kian rumit waktu demi waktu, jaman demi jaman sampai pada tingkat dimana hanya orang berpendidikan tinggi yang ( dianggap ) dapat menulis.

Kita semua tahu belaka, mayoritas rakyat Indonesia tidak berpendidikan tinggi. Sehingga bahasa tulis hanya dikuasai oleh minoritas kaum berpendidikan tinggi. Ada dominasi minoritas dalam dunia sastra.

GAGRAK PENULISAN DENGAN BAHASA TUTUR

Martin Siregar sebagai bagian dari minoritas kaum berpendidikan tinggi yang jiwanya dipenuhi semangat kerakyatan ini bukan sekadar mencari sensasi dengan menawarkan gagrak unkonvensionil, melainkan terusik rasa keadilannya. Gagrak unkonvensionil merpakan cara Martin Siregar mendobrak dominasi minoritas dalam dunia sastra. Gagrak penulisan yang tidak terlalu memusingkan konvensi-konvensi bahasa tulis. Unkonvensionil adalah sebuah Gagrak penulisan dengan bahasa tutur. Sehingga mayoritas rakyat terbebas dari dominasi minoritas.

Bila digeledah, unkonvensionil martin ini berakar pada aliran filsafat humanism. Semangat Egalite, Fraternite dan Liberte yang terkandung dalam gagrak Unkonvensionil ini yang mendorong saya memberi apresiasi tinggi pada kepeloporan Martin Siregar.

Kurasa, BAH, Kumpulan Renungan Singkat Unkonvensionil bukan puncak karya Martin Siregar. BAH juga bukan puncak karya Unkonvensionil. Puncak karya unkonvensional bisa lahir dari seorang rakyat unkonvensionil atau boleh jadi akan lahir dari “nabi”-nya Unkonvensionil sendiri, Martin Siregar. Horras!

Jakarta, 14 Mei 2013
Kamerad Kanjeng

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: