1 Komentar

Fiksi adalah “Si Anak Tiri” – Catatan Insan Purnama

FIKSI ADALAH “SI ANAK TIRI” 

Catatan Insan Purnama

Di bangku sekolahan dikenal ada dua ragam karangan, yaitu fiksi dan nonfiksi atau ilmiah dan nonilmiah. Fiksi sama dengan nonilmiah, sebaliknya nonfiksi sama dengan ilmiah. Bila kita tanyakan pada anak-anak sekolahan, apa yang dimaksud dengan fiksi dan ilmiah itu?  Kira-kira jawabannya seperti ini. Karangan ilmiah adalah sebuah karangan yang ditulis berdasarkan prosedur keilmiah yang ketat dengan berbasiskan sebuah penelitian. Singkatnya, sebuah karangan ilmiah ditulis tidak dengan main-main, apalagi sambil mengkhayal. Bertolak belakang dengan karangan ilmiah, karangan fiksi adalah karangan yang berisikan khayalan sehingga  isinya tidak benar-benar terjadi.  Menulis fiksi bisa sambil rebahan, duduk-duduk, jalan-jalan di mal, sambil masak, dan lain-lain.

Demikianlah, pada akhirnya, pendapat di atas begitu mengurat-mengakar dalam pemahaman kita, apalagi pendapat itu terus-menerus dipelihara dalam sebuah institusi yang bernama sekolah. Tidaklah heran jika banyak di antara kita, penulis fiksi, yang menyepelekan (harap diberi tanda petik) proses penulisan fiksi. Sebab itu pula tidaklah heran, bila dalam fiksi, kita mendapati jargon, “Tuliskan saja apa yang ingin dituliskan”. Jargon yang kurang bertanggung jawab, menurut saya. Jargon seperti itu menjadikan penulisan fiksi sebagai “si Anak Tiri” dalam aktivitas tulis-menulis.  Kalau kita masih berparadigma seperti itu, rasanya akan jauh kita memperoleh manfaat dari sastra.

Saya pikir, misalnya, seorang penyair tidak cukup bermodalkan “mood” dalam menulis puisi. Ia pun harus belajar tentang pilihan kata (diksi) dan makna yang terkandung dalam kata tersebut. Kata hanya sebuah simbol,  sebuah tanda dalam pemahaman semiotika. Sebuah tanda akan berisi sejumlah nilai dan budaya bagi masyarakat pemakai tanda itu. Penyair harus tahu soal itu. Kata “merah” bukan semata-mata nama sebuah warna, tapi dalam merah terkandung berbagai pengertian, merah bisa berarti “kiri” dalam pengertian ideologi, bisa berarti ‘berani’ dalam kasus “Sang Merah Putih”, merah bisa berarti “berhenti/stop” dalam lampu lalu lintas, dan merah tentu saja berarti ‘darah’.

Kata yang dmunculkan dalam sebuah puisi, haruslah melewati proses sublimasi. Memang kata itu adalah kata yang kita pakai sehari-hari, tapi penempatan kata dan pemampatan maknanya menjadikan kata itu punya arti yang berbeda jika kita pakai sehari-hari. Begitulah, kata itu diproses dalam pikiran kita berdasarkan pengetahuan dan pengalam kita sehingga kata yang dituliskan bukanlah kata asal-asalan.

Pun dalam menulis cerpen, novel, atau drama. Tidaklah cukup sekadar bermodalkan ‘niat’.  Banyak penulis besar yang melakukan persiapan (sekali lagi pakai tanda petik), misalnya, dengan mempelajari budaya masyarakat di mana latar cerita akan terjadi. Novel-novel seperti “Memoir of a Geisha”, tentu si penulis novel akan mempelajari seluk-beluk tradisi geisha. Cobalah tengok lagi,   The Davinci Code, tentu juga bukan semata-mata khayalan yang disampaikan penulis novel tersebut.

Pada intinya, saya ingin mengatakan menulis fiksi sama seperti menulis karangan ilmiah. Sebab itu, jika kita saat mahasiswa diminta menulis tugas akhir, seperti skripsi, kita menulis dengan kehatian-hatian, namun tetap dengan passion yang mengebu-ngebu, maka saat menulis fiksi pun, kita pun dituntut hal yang sama.

Wallahu’alam.

One comment on “Fiksi adalah “Si Anak Tiri” – Catatan Insan Purnama

  1. saya setuju.saya suka tulisan ini. menulis karya fiksi juga melewati tahapan dan pemahaman tertentu. pengetahuan, pembentukan logika (termasuk memasukkan unsur-unsur nonfiksi atau ilmiah dalam karya fiksi), pertimbangan emosi, beban filosofis serta semiotis juga sangat diperlukan. menulis karya fiksi bahkan lebih sulit dibanding sekedar menulis pengalaman sewaktu liburan di tempat nenek, toh bila melihat definisi nonfiksi yang sudah mengakar, menulis cerita yang nyata merupakan karya nonfiksi, maka menulis cerita sewaktu di kampung juga nonfiksi (yang juga dapat dibuat dengan cara sambil tidur-tiduran)😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: