Tinggalkan komentar

Ini Hanya Soal Waktu, Aay (6) – Cerbung Enggar Murdiasih

INI HANYA SOAL WAKTU, AAY (6)

Cerita Bersambung Enggar Murdiasih

~~ cerita sebelumnya: kecelakaan hebat yang menimpa Arya membuat Meinar limbung. Meskipun harapan hidup Arya sangat tipis, tetapi Meinar mengurus suaminya dengan telaten, Ganang menyimpan rasa irinya, hingga suatu pagi…..dering telepon membangunkannya. Arya meninggal dunia setelah berjuang beberapa lama ~~

Kematian Arya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga Pak Iskandar, keluarga besar Pak Haryo dan juga Meinar. Ia tak henti hentinya menangis. Meskipun pernikahan mereka tak dilandasi rasa cinta, namun kesabaran dan ketulusan Arya mulai menyentuh perasaannya.

“Mas Arya……belum genap tiga bulan calon anak kita pergi. Kenapa sekarang mas pergi juga?” ratap Meinar pilu.

“Mei…… mungkin itu yang terbaik untuk Arya, nak”. Bu Iskandar muncul dari arah dapur. Semangkuk sup sayuran yang aromanya lezat disorongkannya ke hadapan Meinar.

“Tapi bu…..”.

“Apa kau ingin Arya menderita lebih lama? Bukankah kau mendengar sendiri apa kata dokter? Seandainya diberi umur panjang pun Arya nggak akan  pulih seperti sedia kala….”. Kata kata Bu Iskandar menggantung di udara.

Perasaannya seperti dicabik cabik. Pelan pelan disusutnya air mata yang meluncur turun di pipinya yang keriput.. Untunglah Meinar tak sempat melihatnya.

“Arya sangat mencintaiku….meskipun ia tahu, hatiku bukan miliknya….” sesal Meinar.

“Sudahlah. Tak baik diingat ingat. Arya sudah tenang di sana, ia sudah tak menderita lagi…..”, tukas Bu Iskandar.

“Kita makan dulu yuukk… Ingat kata dokter Diana, kamu harus makan yang bergizi untuk kesehatanmu”.

*****

Siang itu Meinar tengah membereskan lemari baju bayi yang terletak di sudut kamarnya. Tak banyak isinya, hanya beberapa kain jarit yang akan dipergunakannya sebagai gedhong ~ bedhong pembebat tubuh bayi setelah mandi, dua lembar selimut dan beberapa potong kain flannel yang belum sempat dijahitnya.

“Dede’….maafkan bunda ya, belum sempat menjahitkan alas tidur buatmu…..” bisiknya.

Meinar mengelus pernak pernik itu penuh rasa sayang. Ada sesuatu yang terasa bergerak gerak di perutnya. Juga desir, seolah hatinya tengah diiris sembilu.

“Mei…..sudahlah. Kamu harus tabah ya….pasti ada rencana lain dariNya untuk dede’….” Bu Iskandar mengelus bahu anak perempuannya, lalu memeluknya penuh kasih. Dibiarkannya Meinar menumpahkan tangisnya di sana.

“Kenapa bu? Kenapa aku tak diijinkan melahirkannya bu? Kenapaaa??” isak Meinar pilu.

“Ssshhh…. Mei. Tak baik menyesali yang sudah terjadi” bujuk ibunya.

Bu Iskandar menyembunyikan kesedihannya dalam dalam. Meinar, anak perempuannya sedang terguncang jiwanya. Keguguran calon anaknya gara gara terpeleset di taman belakang, Arya yang mengalami kecelakaan lalu lintas, lalu kematian Arya setelah berjuang sekian lama……..

“Mei….. setiap hambaNya diberikan ujian yang sesuai dengan kemampuannya. Kau tahu itu.  Ibu percaya, kau akan kuat menghadapinya Mei…..”.

“Jangan menangisi apa yang sudah terjadi nak…..” suara Bu Iskandar parau. Susah payah disembunyikannya tangisnya. Ia menyesali dirinya kenapa membiarkan Meinar membereskan kamar bayi sendirian. Seharusnya ia mendampingi anak perempuannya setiap saat.

Dibimbingnya Meinar ke ruang tengah, disodorkannya segelas teh hangat ke hadapannya.

“Minumlah, biar perasaanmu lebih lega”.

“Obatmu sudah diminum?” sambungnya lagi. Meinar hanya mengangguk mengiyakan.

Dering hape di kamar Meinar memecah keheningan di antara mereka. Dengan langkah berat, ia meraih hape itu. Wajahnya berubah demi dilihatnya siapa pengirim pesan pendek di hapenya.

“Ganang” gumamnya.

“Siapa Mei?” ibunya berdiri di sebelahnya, mencoba melongok ke layar hape Meinar.

“Mas Ganang bu” sahutnya singkat.

“Ada apa? Apakah urusan di Rumah Sakit belum rampung juga?” gerutunya.

“Hanya menanyakan kabar kok bu. Ia mengkhawatirkan kesehatanku”. Seulas senyum tipis membayang di wajah Meinar.

“Oooohh”. Hanya itu reaksi Bu Iskandar. Ia tak ingin menduga duga lebih jauh.

“Belum saatnya membicarakan hal ini pada Meinar”, gumamnya sedih. Ia tahu, Meinar masih menyimpan cinta untuk dokter muda itu.  Menurut penglihatannya, Ganang pun menyimpan perasaan cinta pada anak perempuannya.

“Mungkin ini hanya soal waktu” batinnya. Secercah harapan akan kebahagiaan Meinar menyala di hatinya. (Bersambung)

**^ dimanakah kisah ini akan bermuara? Dapatkah Galang memperoleh kembali cinta lamanya yang telah lama hilang? Maukah kedua orang tua Meinar menerima kehadirannya? Nantikan kisah selanjutnya ^**

 

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: