Tinggalkan komentar

Suko Waspodo: Sebuah Percumbuan Lewat Puisi – Ulasan Insan Purnama

SUKO WASPODO: SEBUAH PERCUMBUAN LEWAT PUISI

Ulasan Insan Purnama

Nama ini sudah beberapa kali memberikan link  di wall Fiksiana Community. Saya pun diam-diam membaca karyanya. Tapi, lama nian saya menanti puisi yang bisa menyentuh hati atau perasaan saya sampai akhirnya tadi pagi saya melihat dia memberikan link lagi. Saya tergoda oleh judul puisinya “Memadu Hati Mencumbu Naluri”.  Saya tergoda sebab judul itu sudah memberikan musikalitas lewat rimanya, ada aliterasi pada me-madu dan men-cumbu, lantas rima akhir ha-ti dan nalu-ri. Menempatkan vokal /i/ begitu tepat sehingga musikalitas puisi itu sendiri sudah menampakkan kegembiraan atau keriangan.

Penulis puisi itu adalah Suko Waspodo. Di halaman depan profile Kompasiananya, saya membaca catatan tentangnya sebagai Buruh Pendidikan, Penikmat Seni dan Pengamat Kehidupan. Rasanya, biografi itu tidak akan bermakna banyak dalam upaya saya mengulas puisinya ini.  Tak apalah yang penting kita sudah saling kenal lewat dunia maya yang berkelidan kemana-mana.

Sering saya katakan, sebagaimana yang lain juga, bahwa kekuatan puisi pada kata, sebab kata-lah bahan dasar sebuah puisi. Kata sebagai bahan dasar puisi adalah kata yang semua orang memakai dan mengenalnya. Sebab, jika kata yang dipakai tidak dikenal maka puisi tidak bermakna apa-apa. Di tangan penyair, kata-kata yang biasa diuntai menjadi larik yang punya keserasian bunyi, kepaduan makna, dan kelengkapan pesan. Pun demikian dengan Suko Waspodo, seperti pada rangkaian judul ini “Memadu Hati Mencumbu Naluri”.  Secara umum, dikenal ungkapan “memadu kasih”, tapi Suko menggunakan ungkapannya sendiri, yakni “memadu hati”, tokh, medan makna hati dan kasih sangatlah dekat. Lalu, muncul pula ungkapan “mencumbu naluri”, kata kamus mencumbu punya arti ‘memakai kata-kata manis untuk membujuk (membelai-belai dsb)’, dengan begitu secara leksikal, semestinya “percumbuan” itu harus dengan lawan jenis, tapi Suko justru dengan “naluri”, sebuah kata benda. Itulah bahasa puisi, keindahan kadang muncul sebab ketidaklazimannya.

Bait pertama puisi itu, tampak bahwa aku lirik sedang  berbicara dengan seseorang. Pada larik pertama, sudah ada ketegasan dari aku lirik tentang apa yang akan dilakukannya /pasti kuhapus kegundahan itu/, tapi jelas ‘tindakan itu belum terjadi’ sebab ada syarat waktu /manakala kutatap pandang matamu/. Dan, aku lirik mengajaknya untuk melupakan masa lalu, sekarang tinggal berhadapan dengan masa depan yang harus dihadapi dengan /gairah bahagia/.

pasti kuhapus kegundahan itu
manakala kutatap pandang matamu
sudahlah
lupakan masa lalu itu
kepedihan itu biarlah berlalu
hadapi kini penuh gairah bahagia

Pada bait kedua, barulah tampak siapa yang diajak berbincang oleh si aku lirik itu. Ya, ternyata dia adalah seseorang yang disayangi dan dicintainya. Aku lirik menunjukkan niatnya pada dia, kesungguhannya dan berharap ada hubungan timbal-balik berlandaskan cinta dan sayang.

kuingin memanjakanmu
nikmati hari-hari menjadi kian berarti
dengan saling menyayangi
saling mengerti
mengisi sisa usia kita
dalam kasih saling melindungi

Dua bait terakhir romantisme dan harapan ditonjolkan. Wajar saja sebab begitulah jika hati sudah dipenuhi cinta. Tapi, sayangnya kata-kata yang diuntai terasa datar pada dua bait terakhir ini, saya tidak menemukan ungkapan atau idiom baru yang bisa lebih ‘menyegarkan’ sekaligus ‘menguatkan perasaan romantisme itu’.

mari kita hadapi yang di depan
kita berangkul jalani kini saling berbagi
suka duka yang akan selalu ada
jadikan anugerah yang mesti kita nikmati
selalu menjaga ketulusan cinta kita
tuk arungi indahnya hidup ini
saatnya kian pasti
jangan ada lagi keresahan di diri
biar kita saling menghangatkan
memeluk nyata kerinduan kita
mengisi makna cinta saling mengasihi
memadu hati mencumbu naluri 

Solo, Senin, 10 Juni 2013. 21:49

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2013/06/10/memadu-hati-mencumbu-naluri-567524.html

Puisi-puisi bertema percintaan atau sebut saja romantisme itu adalah puisi-puisi senantiasa menampilkan kata-kata halus, lembut, dan manis. Semua penyair pun menunjukkan hal yang sama. Namun, sari satu penyair ke penyair lain, tentu punya cara berbeda menyampaikannya. Sekaligus juga, penyair akan selalu menciptakan idiom-idiom baru yang berbeda dengan penyair lainnya. Sebab, begitulah penyair dikenang, yakni dengan kekhasannya ungkapan atau idiom yang diciptakannya.

Wallahu’alam.

Mampangprapatan X, 11 Juni  2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: