Tinggalkan komentar

Conni Aruan Bermain-main dengan Warna dan Waktu

Conni Aruan menulis sebuah puisi yang berjudul “Semalam, Bulan Berwarna Oranye”.  [link: http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2013/06/25/semalam-bulan-berwarna-oranye-568192.html]. Selengkapnya puisi itu bisa dinikmati di bawah ini.

Semalam, dari balik jendela
kulihat bulan berwarna oranye,
mengerling manja, tersenyum menggoda

Sebulan yang lalu kulihat kau terduduk bisu
pada meja kayu dan sebuah jeruk berwarna oranye.
Lentik jemarimu menelanjangi jeruk, kau masih bisu.
Harum manis mulutmu oleh jeruk berwarna oranye

Saat itu kau bilang, “aku tidak suka jeruk”
saat itu juga kau melahapnya.
Saat itu kau bilang, “aku tidak cinta kau”
saat itu juga kau beri aku cintamu.
Hanya sejenak, cinta kita bertaut.
Jeruk oranye di atas meja kayu,
harum manisnya kukecap dari mulutmu

Semalam dari balik jendela,
kulihat bulan berwarna oranye.
Kuingat kau gadis berparas seindah bulan,
harum manisnya; jeruk berwarna oranye.

Saya membaca puisi ini seperti anak kecil memperoleh mainan baru. Ada rasa penasaran dan ada keinginan untuk menunjukkannya kepada siapa pun. Seperti halnya mainan baru, puisi ini membuat saya berkali-kali memperhatikan dan mengamatinya. Sebuah dorongan rasa penasaran membuat saya berpikir bahwa sekadar membaca saja tidak akan mendapatkan kepuasan yang maksimal, terlebih-lebih jika membacanya pun sekadar membaca lapisan luar, tanpa mencoba menyibak lapisan-lapisan berikutnya yang bisa saja menutupi kesejatian makna. Bisa jadi, apa yang saya coba temukan dan sampaikan tidak sesuai dengan “sesuatu” yang ingin disampaikan oleh penulis, bahkan mungkin tidak sesuai dengan “sesuatu” yang ditemukan oleh pembaca lain. Hal seperti itu, lumrah terjadi disebabkan latar belakang, teori atau pendekatan yang dipakai, bahkan mungkin sekadar berpedoman pada selera dan rasa masing-masing.

Ketika membaca puisi ini, saya berpikir bahwa Conni Aruan sedang bermain-main dengan warna dan waktu. Saya menggunakan kata bermain-main alih-alih bereksperimen, meskipun dalam pandangan saya, sebenarnya dalam konteks ini, kedua kata itu bisa merujuk pada hal yang sama. Tapi, saya lebih suka dengan kata “bermain-main” untuk mengurangi tekanan keseriusan. Ya, tentu saja saya tidak mengatakan bahwa puisi ini lahir dari ketidakseriusan, bukan begitu maksudnya. Bermain-main, ya seperti anak kecil, adalah keseriusan juga sebab di sana pada dasarnya sedang terjadi sebuah upaya menunjukkan eksistensi dirinya, sekaligus eksplorasi tentang sesuatu hal.

Puisi merupakan representasi penyair. Kehadiran puisi berarti kehadiran penyair. Semua tentu sepakat sampai titik itu. Tapi, perlu pula diingat bahwa berbicara soal puisi dan penyairnya maka sebenarnya kita membicarakan tentang sesuatu yang ingin disampaikan oleh penyairnya. Apa “sesuatu” itu? Menurut saya, sesuatu itu adalah perasaan dan pikiran penyair. Perasaan dan pikiran penyair terhadap apa? Ya, terhadap apa saja sebagai wujud eksistensi penyair, bisa terhadap kondisi sosial-politik di masyarakat, bisa terhadap masyarakat kecil, bisa terhadap kondisi alam, bisa terhadap dirinya sendiri, bahkan terhadap tuhan.  Jadi, penyair memiliki perasaan dan pikiran terhadap sesuatu, lalu penyair menginternalisasi sesuatu itu sebagai bagian dari perasaan dan pikirannya, namun lewat proses penulisan, penyair mengeksternalisasi sesuatu tersebut menjadi puisi yang akan menyebabkan perasaan dan pikiran itu bukan lagi menjadi milik penyair, tetapi menjadi milik pembacanya. Lewat proses seperti itulah, menurut saya, penyair dihadirkan eksistensinya oleh pembaca yang merebut perasaan dan pikiran penyair. Simpulan sederhana saya adalah ulasan tentang puisi Conni Aruan ini bisa ditafsirkan sebagai upaya saya “merebut” perasaan dan pikiran Conni yang terdapat di dalam puisi ini, sekaligus juga pengakuan saya terhadap eksistensi Conni Aruan.

Conni Aruan bermain-main dengan sebuah warna, kata saya begitu. Warna yang “dipermainkannya” adalah oranye. Conni katakan / kulihat bulan berwarna oranye/. Bulan berwarna oranye? Sebuah kiasan yang berbeda yang berkaitan dengan bulan. Biasanya, bila kita dengar kata bulan, maka yang muncul adalah  “bulan purnama” atau “bulan sabit” atau “bulan putih”. Tak ada asosiasi umum dalam puisi ini. Conni ingin menunjukkan sebuah makna yang sangat pribadi tentang bulan. Makna yang hanya bisa dimengertinya sendiri. Sebab baginya, bulan berwarna oranye mengingatkannya pada /pada meja kayu dan sebuah jeruk berwarna oranye/. Mungkin, sebab jeruk itu bundar, maka saat melihat bulan yang bentuknya juga bundar, Conni jadi ingat soal jeruk yang terletak pada meja kayu yang berwarna oranye. Apa yang diingat Conni tentang meja kayu dan jeruk oranye itu? Sesuatu yang kontradiktif yang dialami Conni dengan “kau” sebagaimana terbaca pada bait ketiga puisi tersebut. Kekontradiktifan itu sebagai pengalaman khusus yang dialaminya. Namun, anehnya saya merasakan nada puisi ini bukanlah kesedihan, Conni sepertinya menikmati situasi kontradiktif  itu.

Apalagi ketika di bait keempat, Conni menghadirkan “kau” yang tampaknya berbeda dengan “kau” yang disebut-sebut dibait kedua dan ketiga. Rasanya, terlalu nakal pikiran saya jika saya menganggap “kau” bait kedua-ketiga sama dengan bait keempat. “Kau” pada bait keempat adalah seorang gadis. Hadirnya “kau” yang seorang gadis membuat banyak “dugaan” pada “aku/ku-“ yang ada puisi. Apakah “aku” itu berarti Conni si penulis penyair? Apakah Conni  seorang laki-laki ataukah perempuan? Andaikan saya menganggap Conni seorang perempuan.  Saya mengambil simpulan: secara umum, “aku” dalam puisi lirik  cenderung disamakan dengan penulisnya. Jadi, “aku” di sana adalah Conni sendiri. Jika saya berkesimpulan demikian, maka saya harus menganggap ada dua “kau” dalam puisi itu. Pada bait kedua dan ketiga, “kau” di sana adalah seseorang yang dikasihi oleh aku lirik. Ya, tentu saja seorang laki-laki. Sebaliknya, “kau” di bait keempat adalah seorang gadis, yang bisa jadi “sebab gadis itu-lah” terjadi kekontrradiktifan dalam bait kedua dan ketiga. Namun, tidak menutup kemungkinan, “kau” bait keempat  tidak punya kaitan sama sekali dengan peristiwa pada bait kedua dan ketiga. “Kau” bait keempat muncul sedemikian saja tanpa ada maksud apa-apa dalam kisah pada puisi, dia dihadirkan sebagai sebuah wujud bahwa peristiwa yang terjadi antara “aku” dan “kau” pada bait dua dan tiga, sudah benar-benar dilupakan oleh “aku”.

Saya pun mengatakan Conni bermain-main dengan waktu. Waktu dijadikan sebagai petanda. Keseluruhan peristiwa pada puisi itu, bila dilihat dari keterangan waktu yang diletakkan dalam puisi tersebut, adalah sebuah kenangan alias sebuah memori. Tapi, Conni memainkan waktu sepeti memainkan benang layangan: tarik-ulur-tarik. Ya, seperti itulah, ketika Conni mengatakan “semalam” saya pikir dia sedang menarik benang layangan, menarik waktu lebih dekat. Sebaliknya, ketika Conni mengatakan “sebulan lalu”, saya pun berpikir bahwa dia sedang mengulur benang layangan, mengulur waktu untuk menjauh.  Pada akhirnya, pembaca oleh Conni diajak mendekat lagi dengan memulai bait terakhir dengan memakai kembali kata “semalam”.

Pada bait ketiga, penanda waktu sangat dominan, bahkan cenderung dipakai untuk menegaskan. Conni mengambil bentuk paralelisme dengan mengulang-ulang kata “saat itu” pada awal setiap larik. Ada kesan bahwa ada makna penting yang terjadi di sana. Namun, kita tercengang sebab kejadian yang ditampilkan secara waktu tersebut bahkan sangat kontradiktif. Ke-kontradiktif-an yang terjadi dengan waktu saat bersamaan.  Tak ada jarak waktu panjang terjadi di sana Ya, memang terjadi hubungan antara “aku” dan “kau”, namun sesaat. Bahkan, Conni menggambarkannya dengan / Hanya sejenak, cinta kita bertaut/. Sekali lagi, bahkan, bagi “aku” lirik, kejadian dan peristiwa itu dinikmatinya seperti tanpa beban.

Begitulah saya menikmati tulisan Conni Aruan. Menikmati “kekontradiktifan”—yang konon selalu membuat puisi lebih bermakna, menikmati waktu yang ditarik dan diulur, menikmati warna yang taklazim dalam sebuah bingkat tulisan yang diberi nama puisi, dan menikmati sebuah kenangan tentang sebuah hubungan singkat.

Wallahu ‘alam

Kedaton, Lampung, 25 Juni 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: