Tinggalkan komentar

Ini Hanya Soal Waktu, Aay (7) – Cerbung Enggar Murdiasih

INI HANYA SOAL WAKTU, AAY (7)

Cerita Bersambung Enggar Murdiasih

Cerita sebelumnya: Meinar sangat terpukul dengan kematian Arya, suami pilihan kedua orang tuanya. Ia belum bisa melupakan kesedihan akibat kehilangan calon bayinya, kini ia harus kehilangan suaminya. Sementara itu, pesan pendek Ganang yang mampir di hapenya, mampu membuatnya tersenyum.

Entah sudah ke berapa kali Ganang mendelete pesan pendek yang ditulisnya.

“Apakah ini  waktu yang tepat? Tidakkah aku terlalu terburu buru?”. Perang batin bergejolak di dalam dadanya. Jujur, ia masih menyimpan rasa cintanya untuk Meinar.

Ia meraih hapenya yang sejak tadi tergeletak di sampingnya, ditimang timangnya sejenak sambil berpikir. Keinginannya mengetahui keadaan Meinar mengalahkan logika berpikirnya.

“Akhirnya…..”, kelegaan terpancar di wajahnya setelah tombol send itu dipencetnya.

“Apapun reaksi Meinar, aku tak peduli….” desahnya.

*****

Sejak kematian Arya, Ganang menjadi tak bersemangat berangkat ke rumah sakit. Tak ada Meinar yang ditemuinya di ruang isolasi seperti biasanya. seulas senyum itu, meskipun samar samar, sudah membuatnya bahagia.

Perasaannya bagai dilambungkan ke awan. Ia merasa masih punya harapan. Selama ini harapan itu telah dikuburkannya dalam dalam di hatinya.

Ganang menekan perasaannya saat Meinar tak mau beranjak dari samping jenazah Arya. Bahkan hingga di ambulans yang membawanya pulang ke rumah, Meinar tetap berkeras untuk  duduk di samping peti mati sambil terus mengelusnya. Seolah peti mati itu barang mahal yang mudah patah.

“Arya….kenapa mas? Kenapa secepat ini kau pergi?” rintih pilu itu melukai hatinya. Ingin rasanya Ganang berlari memeluk Meinar, memberinya kekuatan agar tabah menghadapi cobaan ini. Tapi hal itu tak ia lakukan. Ia hanya bisa berdiri mematung, saat ambulans itu perlahan lahan bergerak meninggalkan halaman rumah sakit menuju rumah keluarga Meinar.

“Dokter Ganang? Kok masih berada di sini?” suster Irene berdiri di sebelahnya, keheranan.

“Apakah dokter tidak ikut melayat? Bu Meinar teman sekolah dokter kan?” sambungnya lagi.

Ganang tak menyahut. Ia melangkah menuju ruang kerjanya sendiri, mengambil beberapa jurnal kedokteran yang belum selesai dibacanya, lalu ngeloyor ke tempat parkir.

“Saya pamit dulu Bu Magda. Hubungi saya kalau ada hal yang mendesak” pesannya singkat.

Ibu Kepala Bangsal yang sedang sibuk membereskan berkas itu pun mengangguk. Ia tak bertanya kemana dokter muda itu pergi. Beberapa selentingan yang didengarnya sejak pasien bernama Arya itu dirawat di ruang isolasi membuatnya mengerti.

“Kasihan dokter Ganang” gumamnya. Ia kembali sibuk dengan berkas yang menumpuk di mejanya.

Ganang meraih tas kerjanya lalu segera menghilang di kelokan bangsal. Setengah berlari ia menuju tempat parkir. Ia memacu motornya secepat ia bisa. Tujuannya hanya satu, rumah keluarga Meinar. Ia tak ingin terlambat menghadiri acara pemakaman Arya. Lebih dari itu, ia ingin memastikan keadaan Meinar baik baik saja.

“Untung tadi aku membawa motor ke rumah sakit” batinnya senang. Ia tak membayangkan andai harus mengemudikan mobilnya menembus lalu lintas kota yang padat siang ini.

Ganang memilih berdiri tak jauh dari tempat duduk Meinar. perempuan itu masih saja menangis, duka mendalam membayang di wajahnya yang pucat pasi.

“Meinar…… sudahlah. Yang tabah yaa…..” satu demi satu para pelayat menyalami Meinar. beberapa teman sekolahnya nampak diantara ribuan hadirin yang memadati halaman rumahnya. Mereka memeluk dan mencium pipi Meinar. Tepukan di bahunya, elusan di punggungnya seolah memberinya kekuatan untuk tetap berdiri tegar.

Ganang masih tetap berdiri di tempatnya. Ia bertahan untuk tidak berlari ke arah Meinar dan meraihnya ke dalam pelukan.

“Mei……sabarlah Aay. Aku ada di sini, menjagamu” batinnya menangis pilu. Tak tega rasanya melihat perempuan yang dicintainya itu tenggelam dalam kesedihan.

Untunglah, Meinar cukup tegar. Ia menerima jabat tangan itu dalam diam. Meskipun sesekali terisak, tetapi Meinar bertahan duduk di samping peti jenazah suaminya.

Bu Iskandar yang  mondar mandir memastikan kondisi Meinar, menghela nafas lega. Ia tahu, anak perempuannya akan kuat menghadapi cobaan ini.

“Ya Allah, tabahkan hati anakku. Beri kekuatan dan ketabahan pada Mei….” doanya. (Bersambung)

**^ bagaimanakah kelanjutan kisah ini selanjutnya? Dapatkah Meinar melupakan almarhum suaminya dan menerima kehadiran Galang kembali dalam kehidupannya? Ikuti kisah berikutnya ^**

=====bersambung=====

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: