Tinggalkan komentar

Memeluk Ibu Pergi – Cerita Edy Priyatna

MEMELUK IBU PERGI

Cermin  Edy Priyatna

“Aku tak ingin kehilangan ibu, aku tak ingin sendiri….,” kataku sambil menatap matanya yang masih tertutup rapat. Lama rasanya aku hidup sendiri. Rumah ini mendadak menjadi sepi tanpa teriakan ibu.

Senja telah memerah jingga ketika aku duduk di teras depan rumah. Dengan perlahan mentari mulai pergi meninggalkanku setelah sempat menyoroti saat aku minum teh hangat sendiri. Setahun yang lalu ibu masih menemaniku duduk di beranda rumah ini sekedar mendengar ceritaku dan tertawa bersama saat ada hal lucu yang ibu ceritakan. Sangat indah sekali.

Kini aku hanya bisa duduk sendiri di teras ini. Ibu yang hanya bisa berbaring di tempat tidur tak mungkin lagi bisa duduk menemaniku, karena raganya telah ditelan waktu. Dia telah mengalami kelumpuhan total.

Tanpa terasa air mataku pun jatuh setelah mengingat masa-masa indah bersama ibu. Dihatiku hanya ada ibu. Sejak aku lahir hingga sekarang, ibu adalah satu-satunya orangtuaku. Menurut ibu, ayah telah pergi sebelum aku lahir dan ia tak pernah kembali. Aku kini sangat benci ayahku.

Setelah kuhabiskan tehku, aku langkahkan kakiku ke kamar ibu. Lalu aku duduk disamping tubuhnya yang lemah tak berdaya dan terbaring di ranjang tua. Kubelai rambutnya yang hampir semua memutih, kerutan-kerutan yang terdapat di wajahnya kini tidak hanya ada di dahi, tapi juga di pipi sehingga kerutannya semakin terlihat nyata.

“Ibu…aku sayang sekali sama ibu….” bisikku kepadanya. Aku memanggilnya berulang-ulang dengan perlahan sekali, agar tidak mengganggu istirahatnya. Aku genggam tangannya dengan lembut. Lalu kuusap-usap punggungnya, hal yang sudah sering aku lakukan bila tidur berdua dengannya.

Kadang dadaku sakit dan sesak rasanya bila aku melihat ibu tetap tersenyum dan berkata,

“Ibu sehat koq, nak…ibu tidak apa-apa….,” Padahal ia sama sekali tidak dapat bergerak sedikitpun. Tak terasa air mataku jatuh kembali membasahi pipiku. Aku tak dapat menahan tangisku. Air mata ini terus berhamburan semakin banyak dan mengalir semakin deras ketika sekelebat ku ingat siapa ayahku. Ibu bilang meninggalkan kita berdua tanpa pamit dan pergi entah kemana. Hingga kini aku tidak tahu dimana rimbanya. Dimana sebenarnya dia? Tidak ingatkah pada ibu? Tidak tahukah ibu sedang sakit?

Tiba-tiba tanganku menggenggam tangan ibu semakin erat,

“Aku tak ingin kehilangan ibu, aku tak ingin sendiri….,” kataku sambil menatap matanya yang masih tertutup rapat. Lama rasanya aku hidup sendiri. Rumah ini mendadak menjadi sepi tanpa teriakan ibu. Ibu selalu memanggilku bila tidak ada didekatnya. Sore itu mentari benar-benar telah pergi. Langit mulai ditelan gelap. Sementara aku masih menemani ibu yang masih terus berbaring.

“Ibu…cepat sembuh ya bu…,” Aku mencium wajah ibu sambil kucoba menahan diri dan tersenyum untuknya. Namun tiba-tiba kurasakan tangan yang ku genggam itu menjadi dingin. Lalu kulihat lagi wajahnya, kulepaskan genggamanku dan kuperiksa nafasnya. Tetapi tak kurasakan ada angin yang menyentuhku dari hidungnya.

Kemudian kupegang pergelangan tangannya, tak ada tanda-tanda. Ku dekatkan telinggaku didadanya. Tak kudengar detak jantungnya. Sudah pergikah ibu? Sungguh aku tak percaya. Air mataku kembali mengalir setelah beberapa menit terhenti.

“Ibuuuuuuuuuu…!!!” teriakku keras berharap teriakanku akan mengembalikan nyawanya yang telah diambil. Namun ibu tetap telah tiada. Aku menangis sejadi-jadinya dan memeluk tubuhnya yang terbujur kaku.-

(Pondok Petir, 22 Desember 2011)

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: