Tinggalkan komentar

Bertemu Jansori Andesta yang Menyembunyikan Rasa Merindu – Ulasan Insan Purnama

Jansori Andesta_2Ketertarikan saya terhadap puisi berjudul “Terselindung Jauh Rasa Merindu” karya Jansori Andesta diawali oleh keterkejutan saya saat mata saya menubruk kata terselindung. Mulanya saya berpikir bahwa pada kata itu terdapat sisipan –el-, tapi saya tidak menemukan kata dasar sindung. Lalu, saya berpikir mungkin salah ketik, semestinya terselandung sehingga kita bisa dapatkan kata dasar sandung dengan tambahan awalan ter- dan sisipan –el-. Tapi, saya merasakan tidak kecocokan makna kata sandung dengan kata lainnya dalam konstruksi judul tersebut. Akhirnya, saya mengecek kamus dan mendapati kata dasar selindung yang berarti ‘sembunyi’. Memang, kebiasaan saya untuk pertama-tama tidak mengindahkan kamus, apalagi ketika saya berusaha mengulas puisi sebab pada puisilah, penulis akan lebih mengeksplorasi, bahkan meng-create kata keluar dari kaidah bahasanya.

Baiklah, sekarang saya dapatkan makna terselindung itu, yaitu ’tersembunyi’. Kemudian, secara linguistik, perlu ditinjau makna gramatikal awalan ter- pada kata terselindung itu. Bagi linguist, ter- adalah morfem terikat, yakni satuan bentuk terkecil dari bahasa yang memiliki arti di mana arti tersebut baru muncul jika morfem tersebut diikatkan/ditempelkan/dilekatkan pada morfem lain. Jika tanpa morfem lain, ter- tidak punya arti. Misalkan, ada yang bertanya, “Hei, lagi ngapain?” Tidak mungkin, kita menjawabnya dengan, “Lagi ter-!”. Jelas itu tidak ada artinya, bukan?  Lantas, apa makna awalan ter- pada kata terselindung? Memang ada banyak makna awalan ter-, misalnya, ‘tidak sengaja’ seperti pada kata terinjak, ‘dapat di-‘ seperti pada kata terangkat, ‘dalam keadaan’ seperti pada kata terdiam. Nah, untuk terselindung, saya pikir, makna ter- yang tepat adalah ‘dalam keadaan’.

Judul puisi itu sama persis dengan larik pertama puisinya. Bila saya perhatikan, larik tersebut mengambil bentuk kalimat inversi yang lebih mengedepankan predikatnya dibanding subjeknya. Predikat larik tersebut adalah terselindung jauh, sedangkan subjeknya adalah rasa merindu. Dalam bentuk normalnya, larik itu akan bersusun /rasa merindu, terselindung jauh/. Tentu ada pesan di sana mengapa penulis mengedepankan predikatnya dibandingkan subjeknya, namun perlu juga diingat pilihan pengisi predikat bukanlah kata kerja aktif (berawalan me-/ber-), melainkan kata kerja pasif (ter-/di-). Jadi, menurut saya, penulis puisi  itu hendak mengatakan bahwa perasaan rindu itu sebenarnya berada dalam kontrolnya: rasa rindu itu adalah governed, sebaliknya penulis adalah government. Penulis meletakkan rasa merindu itu /di relung dalam telaga kalbu/, namun pada satu kesempatan rasa merindunya akan dimunculkan kembali dalam bentuk /…kecipak diksi bernada sendu/. Ini sebuah arus kesadaran pada penulis saat berbicara tentang perasaan, yang secara umum orang justru dikuasai perasaannya.

Bait kedua pun dimulai larik berbentuk inversi, dengan predikat /inilah/ dan subjeknya adalah /baitku deretan kata runtut meluruh/. Mengawali bait kedua dengan inilah menunjukkan adanya penegasan. Dan, rupanya bait kedua tersebut merupakan penjelasan terhadap bait satu tentang dalam bentuk apa rasa merindu itu diungkapkan oleh penulis. Pada bait ini pun dimunculkan siapa yang dirindui oleh penulis, yaitu /…teman yang jauh//sekali waktu belum pernah bertemu/. Meskipun begitu, penulis menegaskan /hanya bersapa tanpa tersentuh di layar bisu/. Betul, bahwa mereka bisa berkomunikasi lewat layar bisu itu, tapi disadari betul, sebagaimana dijelaskan pada bait ketiga, bentuk komunikasi seperti ada kelemahannya yang memungkinkan kelakar atau candaan akan menyebabkan salah satu pihak tersakiti hatinya yang disebabkan lelaku yang salah ditafsirkan.

Bait terakhir menegaskan bahwa rasa merindu sudah ada sejak lama, mungkin sejak saling pertama kali saling mengenal. Namun, penulis menyimpannya dalam hatinya yang paling dalam. Demikianlah, penulis berusaha mempertahankan rasa rindu itu sedemikian rupa itu tidak perduli waktu dan zaman terus berubah meskipun / di tepian alir hijau lelumut merebak tumbuh/.

Puisi ini didominasi permainan rima akhir. Dari larik awal hingga akhir, penulis mencoba menempatkan bunyi vokal /u/ di akhir larik. Saya tidak sedang mengatakan bahwa permainan rima seperti itu buruk sekali. Tetapi,menurut saya, janganlah terlalu memaksakan mengambil rima rata seperti itu, terasa monoton. Perlu variasi, yang akan menyebabkan puisi itu terasa lebih hidup, misalnya, dengan menggunakan rima silang sebagaimana kita dapati dalam bentuk pantun melayu.

Wallahu a’lam

——-Tambun Selatan, 15 Juli 2013

Terselindung Jauh Rasa Merindu
Karya: Jansori Andesta

terselindung jauh rasa merindu
di relung dalam telaga kalbu
yang entah di lekuk-lekuk jalanan waktu
yang harap diungkap tanpa meragu
dengan kecipak disksi bernada sendu
meriak rima liuk bersentuh anginan lalu

inilah baitku deretan kata runtut meluruh
sandingan sajak teman yang jauh
sekali waktu belum pernah bertemu
pun ingin tak dapat ditipu
hanya bersapa tanpa tersentuh di layar bisu
selalu tiada tahu bilakah batasan waktu

bukan terniat hendak menipu
atau kelakar hampa tiada rasa para pelucu
dengan tafsiran makna tiada baku
berubah jua pada kiasan tak pernah tentu
di sudut pandang berbeda sungguh
kadang bersinggung hingga menjelma luka lelaku

ya, terselindung jauh rasa merindu
di relung dalam telaga kalbu
selalu semenjak dahulu
tiada ubah pun di tepian alir hijau lelumut merebak tumbuh

Bengkulu, 12 Juli 2013
tergerak tata terangkai jua dari “Rindu Berselimut Gula” “) Karya DP Anggi

(Link: http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2013/07/12/terselindung-jauh-rasa-merindu-576341.html)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: