Tinggalkan komentar

Ini Hanya Soal Waktu, Aay (8 – Tamat) – Cerbung Enggar Murdiasih

INI HANYA SOAL WAKTU, AAY (8 – Tamat)

Cerita Bersambung Enggar Murdiasih

Cerita sebelumnya: Ganang  segera memacu motornya ke rumah Meinar. Ia ingin memastikan perempuan itu baik baik saja dan tegar menerima kematian suaminya. Meski hanya dari jauh, Ganang tetap berjaga jaga saat Meinar menerima jabat tangan dari para pelayat yang memenuhi halaman rumahnya

Ganang masih berusaha menyabarkan diri. Ia mengerti, Meinar butuh lebih banyak waktu untuk menyembuhkan luka hatinya,

“Ini hanya soal waktu, Aay…..” desisnya, berusaha menenteramkan dirinya sendiri.

Ganang tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk menunggu. Ia sudah melewatkan tahun tahun yang berat untuk mendapatkan perempuan itu. Sedikit waktu lagi, tak mengapalah. Orang orang di sekitarnya terlanjur menganggapnya bujang lapuk, ia tak berkeberatan sebutan itu masih melekat di belakang namanya beberapa saat lagi.

Ini tahun kedua semenjak kematian Arya, tetapi Ganang belum menemukan saat yang tepat untuk mengajuk hati Meinar. Ia tahu, Meinar masih menyimpan cinta untuknya, dan itu membuatnya sangat bahagia. Mungkin Meinar masih perlu sedikit waktu, belum pantas rasanya bila segera menikah lagi sepeninggal suaminya.

***

“Mei….” Bu Iskandar tiba tiba sudah duduk di sampingnya. Meinar terlonjak kaget dengan kehadiran ibunya.

“Apa pendapatmu tentang dokter ganteng itu?” ajuknya.

“Maksud ibu? Aku tak mengerti…..”.

“Kelihatannya dia mencintaimu” hati hati Bu Iskandar mengutarakan isi hatinya.

Meinar terdiam, ia sedang menduga duga maksud dari kata kata ibunya barusan.

“Diakah teman sekolahmu dulu? Yang pernah kau ceritakan pada ibu? Ingat?”.

Meinar mengangguk. Ia masih belum bisa menebak arah pembicaraan ibunya.

“Sudah waktunya kau membuka hati, Mei……” disentuhnya bahu Meinar perlahan, lalu ditinggalkannya anak perempuannya itu merenung. Sendirian.

***

Hari Minggu pagi, rumah Meinar terasa lebih gayeng dari biasanya dengan kunjungan keluarga Haryo, mertuanya. Mereka sengaja tak memberitahu terlebih dahulu karena kedatangan itu tak direncanakan sebelumnya.

“Ayah….ibu…” sambut Meinar. Diciumnya punggung tangan ayah dan ibu mertuanya dengan takzim.

“Eeeiii…..mbakyu, kamas……mangga mangga…..silahkan….” Bu Iskandar menyambut sepupunya  dan sahabat suaminya dengan ramah. Mereka segera terlibat dalam obrolan yang hangat dan akrab.

Setelah saling menanyakan kabar dan kesehatan masing masing, akhirnya Pak Haryo berdehem. Dibetulkannya letak duduknya, lalu…..

“Begini mas Iskandar….mbakyu….dan juga kau Meinar….”. Semuanya diam, menunggu. Meinar duduk membeku di kursinya. Keringat berbintik di keningnya, wajahnya memucat tiba tiba.

“Ada apa ini? Kenapa ayah berbicara sangat serius seperti itu?” batinnya resah.

“Setelah berpikir dan menimbang beberapa lama, dan……” Pak Haryo memandangi  Meinar berlama lama.

“Bagaimana kalau Mei menikah lagi? Saya lihat, dokter muda yang merawat Arya itu menaruh hati padamu, nak…”.

Dihembuskannya nafas yang sejak tadi ditahannya. Lega rasanya telah mengatakan apa yang ada di hatinya selama ini.

Meinar terkaget kaget. Ia sama sekali tak menyangka bila kedua mertuanya bisa membaca gerak gerik Ganang selama ini. Ia memandang bingung pada ayahnya, ibunya…..lalu kepada ibu mertuanya. Mereka semua tersenyum senang.

“Apakah ini berarti?…….Apa maksud ayah dan ibu mertua sebenarnya?” terbata bata Meinar menjawab. Ia belum bisa meredakan debur jantungnya  yang berdentam dentam.

“Iya Meinar, anakku. Kami sudah ikhlas dan rela dengan kepergian Arya. Mungkin ia tak berjodoh menjadi suamimu….” Bu Haryo mengelus lengan Meinar. Air mata mengalir di pipinya yang mulai keriput.

Sampai mereka berpamitan pulang, Meinar masih belum bisa menjawab permintaan itu. Ia kaget. Ia tak menyangka bila ayah dan ibu mertuanya akan mengatakan hal itu kepadanya.

Meinar masih belum berpikir untuk mengakhiri status kesendiriannya. Baru dua tahun Arya pergi meninggalkannya, ia merasa kurang pantas bila mencari pengganti almarhum suaminya.

***

“Haloo….” Meinar menjawab panggilan telepon itu dengan ragu ragu. Ia setengah tidak percaya pada suara yang ada di seberang. Suara Ganang. Ahaa…….

“Mei….Aay….” terbata bata suara itu memanggil namanya.

“Bolehkah aku….aku berkunjung ke rumah?”. Akhirnya pertanyaan itu terucapkan juga.

“Mas Ganang mau main ke rumah? Benarkah?” Meinar terkejut sendiri dengan nada suaranya. Ada rasa tidak percaya di hatinya.

“Ooohh…. Boleh…boleh. Silahkan….” sambung Meinar.

“Nak Ganang? Mari…mari silahkan. Ayo masuk…..” ayah  Meinar menyambut kedatangannya dengan ramah.

“Mei…….” Pak Iskandar menoleh pada anak perempuannya.

“Inikah pria pilihanmu itu ndhuk?” tanyanya. Ragu. Saat itu bu Iskandar muncul dari balik pintu. Ia menggamit lengan suaminya, mengajaknya sedikit menjauh. Ia membisikkan sesuatu di telinga Pak Iskandar hingga pria tua itu mengangguk angguk senang. Pandangan matanya tak lepas dari gerak gerik Ganang yang duduk di kursi tamu. Laki laki muda itu gelisah, tangannya tak henti hentinya bergerak gerak resah.

Meinar pun tak kalah gugup. Ia tak menyangka bila Ganang datang ke rumahnya sore ini. Setelah menghidangkan minuman dan jajanan ala kadarnya, Meinar duduk diam di hadapan Ganang. Tingkah mereka berdua seperti layaknya muda mudi yang baru jatuh cinta untuk yang pertama kali.

“Meinar…….boleh aku mengatakan sesuatu? Ini tentang masa depan kita, Aay…..” kata kata Ganang membuat Meinar tersenyum. Ia ingat Ganang pernah mengucapkan kata yang sama saat itu. Sebelum ayahnya mengultimatumnya, sebelum ia dilanda kebimbangan untuk menentukan pilihan.

“Kapan  ayah dan ibuku boleh datang ke rumahku? Beliau sudah tidak sabar….” Meinar menggoda Ganang dengan melanjutkan kata kata yang tertunda. Kali ini ia tidak gelagapan mendengar pertanyaan itu.

Ganang meremas jemari Meinar. Binar di matanya seakan akan mewakili kebahagiaan di hatinya.

Pak Iskandar yang muncul dari balik pintu ruang tengah tersenyum bahagia melihat senyuman Meinar. Sudah lama sekali ia tak melihat anak perempuannya tersenyum dengan binar di matanya. Kelegaan terpancar jelas di wajah tuanya yang mulai keriput.

“Pak, bolehkah……?” belum selesai Ganang memohon, Pak Iskandar sudah tertawa lebar. Ditepuknya pundak dokter muda itu perlahan.

“Bapak setuju nak dokter. Maafkan Bapak yang telah merenggut kebahagiaanmu selama ini…. “.

Pelukan erat Pak Iskandar menghapus keragu raguan di hati Ganang. Penantian panjangnya akan segera berakhir.

“Ini hanya soal waktu, Aay” bisiknya di telinga Meinar. Perempuan itu tertawa bahagia di sampingnya.

TAMAT

 

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: