1 Komentar

Lentera Terbang Berbait Doa – Cerpen Hsu

LENTERA TERBANG BERBAIT DOA

Cerita Pendek Hsu

Hsu_Sky-lanterns-001

Sepeninggal suaminya yang tergila-gila dengan wanita lain yang entah ke mana perginya seolah menghilang begitu saja… Liana yang tinggal bersama 2 anaknya Andi dan Windi tak menyerah begitu saja dengan kehidupannya. Dengan keterampilannya membuat aneka kue basah yang didapatnya dari almarhumah mamanya. Di rumah bambu beratap daun di tepi sungai setiap malam setelah Andi dan si bungsu Windi tertidur ia mulai membuat kue-kue yang akan dijajakannya esok hari.

Setiap pagi Liana pun berkeliling berjalan kaki menjajakan kue yang dibuatnya sambil mendorong si bungsu Windi yang masih berumur 4 tahun yang naik ke sepeda dorongnya. Sambil terus mendorong Windi… Liana menawarkan kue-kue dalam sebuah keranjang ke setiap rumah-rumah yang jaraknya pun tak terlalu jauh… jika masih bersisa banyak barulah Liana berjalan agak jauh dan tetap mendorong Windi di sepedanya. Windi memang di naikkan ke atas sepeda dorong bertungkai pendorong pada bagian belakang sepeda karena belum terlalu kuat untuk berjalan kaki.

Satu pagi… ketika ada yang memanggilnya untuk membeli kuenya… Liana meninggalkan Windi di atas sepeda dorongnya tanpa ia sadar bahwa posisi jalan agak menurun… begitu melangkah masuk ke rumah itu dan memperlihatkan kue-kuenya… Liana melirik ke pinggir jalan… tak ada Windi dan sepedanya… Liana segera bangkit… menengok ke arah kiri… terlihat  Windi dan sepedanya melaju walaupun menurun ke arah perempatan jalan… walaupun tak terlalu kencang jaraknya sudah lumayan jauh… Liana sedikit berlari mengejar anaknya yang sudah semakin dekat ke perempatan jalan… akhirnya Liana berhasil menghentikan sepeda anaknya walaupun ia sempat terguling… ia menahan laju sepeda yang menurun dengan kakinya… namun tak menyadari ia berada pada posisi agak ke tengah jalan raya… begitu akan bangkit… sebuah sepeda motor yang tengah melaju dan pengemudinya kaget namun tak sempat bereaksi untuk mengurangi laju sepeda motornya hingga menabrak tubuh Liana yang sedang berusaha bangkit…

Gelap sesaat…

Seorang pengemudi angkutan dengan sigap segera membawa Liana ke rumah sakit terdekat sambil juga menaikkan Windi dan sepeda dorongnya…

Namun… Liana tak tertolong… ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengucapkan 2 buah kata dengan tersendat kepada kakak kandungnya sambil memegang erat sebelah lengan kakaknya…

“Kokoh… tolong jaga anak-anakku!”

Di sebelah pembaringan… Andi memegang erat bahu Windi… Andi menangis… Windi terdiam…

***

Setelah pemakaman Liana selesai… Kokoh dari Liana pun memboyong Andi dan Windi ke rumahnya… Kukuh biasanya Andi dan Windi memanggil pamannya. Kehidupan Kukuh Andi dan Windi pun biasa-biasa saja, ia bekerja di sebuah toko peralatan olahraga. Ia tak mungkin bisa membiayai sekolah Andi yang masih duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama. Akhirnya Andi terpaksa berhenti dari sekolah karena tak ada biaya dan ia pun ikut di ajak bekerja oleh Kukuhnya di tempat Kukuhnya berkerja.

Seminggu tinggal di rumah Kukuhnya, rupanya Windi merasa tidak betah dan kerap kali menanyakan Mamanya… di setiap malam Windi selalu bertanya kepada Andi tentang Mama dan sangat ingin kembali pulang ke rumahnya… hingga satu malam Windi benar-benar menangis sangat lama dan mengatakan ingin pulang dan ingin pulang.

Akhirnya karena tak tega dengan rengekan dan tangisan Windi, Andi mengungkapkan itu kepada Kukuhnya. Kukuhnya tak dapat berkata apa-apa lalu mengantarkan kembali Andi dan Windi ke rumah mereka di tepi sungai…

“Di… jaga Windi ya… 2 tahun lagi ia bisa bersekolah… kamu harus bekerja yang rajin Di… demi Windi… Kukuh tadi sudah berpesan kepada tetangga agar membantu menjaga Windi saat kamu bekerja dan mereka bersedia menjaga Windi Di… kamu harus bersyukur mereka begitu peduli… nanti sebagian gajimu serahkan ke Engkim (isteri Kukuh) ya biar nanti setiap pagi di buatkan masakan untuk WIndi makan… sisanya kamu simpan untuk biaya sekolah Windi dan juga biaya lainnya… Kamu harus bisa berjuang Di… Nanti Kukuh juga akan selalu membantu.” Kukuh menepuk bahu Andi beberapa kali.

Andi menganggukkan kepalanya sambil mendekap bahu Windi. Malam itu mereka kembali ke rumahnya.

Sepi… tak lagi terdengar suara mamanya yang biasanya sibuk di dapur membuat kue-kue…

***

2 tahun berlalu… 2 tahun pula Andi telah bekerja… 2 tahun bertambah usia… 6 tahun kini usia Windi… rambutnya telah memanjang dan semakin terlihat manis dan menggemaskan… sudah mulai mengikuti teman-teman sepermainannya bernyanyi-nyanyi walaupun masih belepotan. Tawanya terlihat riang ketika bermain bersama sebayanya walaupun sesekali tampak kesedihan ketika teringat mama… dan juga papanya yang kini tak tahu di mana yang ia ingat ketika ia sudah mulai berjalan… papanya senantiasa mengajaknya jalan-jalan sore melihat dan mencari bunga-bunga liar.

***

Hari itu Andi terlihat melangkah ke luar bersama Kukuhnya dari toko yang akan segera tutup karena esok adalah hari Libur dan majikannya akan pergi ke Borobudur untuk mengikuti perayaan Waisak.

“Langsung pulang Di?” Kukuh bertanya.

“Ohh Kukuh duluan saja… hehehe Andi ada sesuatu yang mau dibeli dahulu!” Melambaikan tangan kepada Kukuhnya yang beranjak lebih dahulu.

Setelah Kukuhnya tak terlihat lagi… Andi memutar badannya melangkah ke bazaar di Vihara yang tak jauh dari tempatnya kini. Kemarin sore ia sempat melihat penjual Lentera Terbang dan sudah memperhatikan bagaimana caranya menerbangkan Lentera itu.

Andi membeli sebuah lentera terbang berukuran kecil… ingin membeli yang besar namun ia urungkan. Uang di sakunya tak mencukupi. Setelah itu ia melangkah pulang.

***

“Sudah mandi Windi?” begitu tiba di rumah Andi melihat Windi duduk sendiri di balai bambu. Sudah sejak tadi ia menunggu kokohnya pulang.

“Kokoh bawa apa Koh?” windi penasaran melihat sebuah benda terbungkus plastik yang belum pernah dilihatnya.

“Ohhh ini nanti saja ya Windi… Kokoh mandi dulu… ini sekalian makanan dari rumah Engkim. Nanti selesai makan kita ke tepi sungai ya!” Andi menaruh bungkusan makanan dan lenteranya di atas meja lalu segera mandi.

Selesai makan…

“Ayo Windi kita ke tepi sungai!” Andi menuntun lengan Windi. Windi tersenyum riang sambil menatap wajah kokohnya. Berjalan beriringan menuju tepian sungai.

Tiba di tepi sungai… Andi mengeluarkan lentera yang masih terbungkus… membukanya… kemudian tak lupa menyalakan lilin yang di bawanya dari rumah. Lilin menyala dengan sebatang korek api. Di letakkannya lilin itu dengan posisi berdiri di atas tanah. Windi memperhatikan apa yang dilakukan kokohnya sambil tersenyum-senyum.

Andi mengeluarkan selembar kertas yang disobeknya dari kalender harian dan sebuah pensil… menuliskan sesuatu… kemudian menengok ke arah Windi… Windi kembali tersenyum-senyum sambil berjongkok dengan kedua telapak tangan memegang pipinya.

“Oh iya ya hehehe kamu belum bisa menulis ya Windi…. heeemm ayoo ucapkan doa dan harapanmu biar nanti kokoh tuliskan di sini!” Andi berkata sementara Windi semakin jadi tersenyum dan…

“Gimana Koh xixixi Windi gak ngerti koh xixixi” Windi semakin tersenyum manis sekali…

“Heemm ya sudah… Windi ikuti ya ucapan Kokoh… tapi sambil lihat Bintang-bintang ya ayoo berdiri!” Andi memegang sebelah lengan Windi dan Windi melihat ke atas… ke arah Bintang-bintang…

“Ucapkan ya Windi…”

“Bintang-bintang…

Aku rindu Mama…

Tunjukkanlah Jalan agar Papa bisa kembali…

Kami Rindu.”

Selesai mengikuti ucapan Kokohnya Windi memeluk erat Kokohnya… ia menangis di pelukan Kokohnya… Kokohnya berjongkok kemudian menyeka air mata Windi… kemudian membuka lentera yang dibelinya… menyelipkan kertas berisi doa ke bagian atas kerangka bambu lenteranya…

Dengan api dari lilin yang sudah menyala… di arahkan api pada bagian sumbu Lentera… sumbu terbakar dan lentera mengembang… membiaskan cahaya ke dinding lentera… tak lama Andi melepasnya…

Lentera itu terbang ke atas… semakin ke atas membawa sebait Doa kepada Bintang-bintang. Mereka berdua menatap ke langit hingga lentera terlihat semakin kecil…

“Selamat Waisak Windi!”

“Tahun ini kamu bisa masuk sekolah, belajarlah yang rajin ya! Kokoh selalu sayang kamu Windi!”

Windi tersenyum manis walaupun masih ada jejak alir air mata di kedua pipinya.

***

Bintang-bintang… Sampaikanlah Doa mereka kepada Sang Terang.

~000OOO000~

Sebuah Fiksi pada waktuku di antara pukul 01-03

Ilustrasi Sky Lanterns dari guardian.co.uk

Backsound “Violin Sad Song”

~Hsu~

 

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

One comment on “Lentera Terbang Berbait Doa – Cerpen Hsu

  1. cerita yang menyentuh kalbu dan menyayat hati. saya ingin usul berceritalah tentang hal-hal yng optimis dan dinamis karena hidup itu selalu memberi peluang kita untuk memilih. Jadi pilihlah yang menyayat hati dan tidak pesimis. Tentu saja ini saya tulis karena saya terlalu sering megalami kekecewaan hidup dan akhirnya saya tahu bahwa dalam kondisi yang paling burukpun peluang untuk memilih walaupun sedikit itu ada. Namun jangan salah tangkap cerita anda memang indah. salam kenal dari saya oldman Bintang Rina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: