Tinggalkan komentar

Hope – Cerpen Nadia Aliyatul Izzah

HOPE

Cerpen Nadia Aliyatul Izzah

Aku membuka jendela mobil. Merasakan angin malam membelai rambutku. Jalanan malam ini ramai sekali. Ah ya, malam Minggu. Aku bahkan tak sadar kalau malam ini adalah malam Minggu. Yang ada dipikiranku hanyalah tentang sudah keberapa puluh harinya sejak terakhir aku bertemu dengannya….

nduk, kamu kenapa kok lemes gitu? Sakit ta?”, suara ibuku mengusik lamunanku.

Aku menggeleng, “nggak papa”, jawabku singkat.

“kamu sekarang kok sering lemes-lemes gini”, komentar ibu sambil sesekali menoleh ke arahku.

“nggak papa, capek aja”.

 “capek apa…kamu kerjaannya tidur terus gitu, mau capek dari bagian mananya?”.

Aku diam. Menurutku perkataan ibuku barusan sama sekali tidak memerlukan jawaban. Mengertilah bu, anakmu ini sedang capek hati capek pikiran..

Baru juga dua minggu resmi menjadi anak kelas 3 SMA, berat badanku sudah turun 6 kg. Entah karena sedang puasa, atau aku memang sudah kena stres gara-gara tekanan-tekanan yang aku dapatkan sebagai siswa kelas 3 SMA. Ah, atau jangan-jangan karena aku terlalu mencemaskan dirinya? Aku ingat saat dia sedang berjuang menjalani UN 2013, aku terus menerus ikut cemas dan khawatir hingga aku jatuh sakit selama 4 hari berturut-turut. Siapa yang ikut UN, siapa yang cemas setengah mati. Lucu.

Aku memandang keluar jendela dengan tatapan hampa. Jalan Jawa di malam hari selalu ramai. Seandainya aku bisa bertemu dengannya disini….ya, seandainya. Bermain-main dengan kata ‘seandainya’ memang menyenangkan. Tapi pahit juga saat tahu mana yang benar-benar kenyataan dan mana yang hanya angan-angan. Rangga, kamu sedang apa malam ini?

Aku masih berharap. Masih saja berharap. Berharap diantara ratusan kendaraan bermotor yang malam ini sedang meramaikan jalanan, salah satunya adalah dia. Aku tahu betapa bodohnya aku berharap seperti ini. Karena kalaupun dia memang ada diantara mereka malam ini, aku mungkin saja tak bisa melihatnya. Tidak, dengan gelapnya kaca mobil ini. Tidak, dengan hanya kedua mataku ini. Tidak, dengan begitu ramainya jalanan malam ini. Semenit yang lalu. Atau mungkin semenit sehabis ini? Kami mungkin saja berpapasan, tapi tidak ada menyadarinya. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu, Rangga….

Mungkin saat ini dia justru sedang bergelung di dalam selimut hangat di dalam kamarnya ketika aku sedang menajamkan mataku pada setiap kendaraan yang lewat. Mungkin dia sedang melantunkan melodi-melodi indah dengan gitar kesayangannya itu. atau mungkin dia sedang tertawa-tawa menonton acara komedi di televisi. Bisa saja. Aku tidak tahu. Semua kemungkinan itu mungkin dan bisa juga tidak mungkin. Aku benar-benar tidak tahu. Ya, aku sadari jika ternyata aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Tidak, karena bahkan aku merasa ada jarak diantara kami. Dia memang tak pernah melarangku, tak pernah mengusirku, tapi aku merasa aku belum diijinkan untuk masuk ke dalam dunianya.

Entah sudah berapa puluh ribu alasan yang aku gunakan agar bisa tetap berhubungan dengannya. Entah sudah berapa puluh ribu cara aku pikirkan agar setidaknya aku bisa melintas dalam benaknya. Pernah ada yang bilang, kalo kangen, jangan keterlaluan, nanti bisa sedih…

Yang namanya harapan ya tetap harapan. Walau aku berharap untuk bisa berhenti dan melepaskan harapan itu, harapan itu akan tetap jadi harapan. Walau aku berharap harapan itu mati, sebenarnya aku tidak benar-benar ingin harapan itu mati. Aku lelah berharap dalam ketidakpastian. Rangga, aku lelah tapi entah kenapa aku tetap saja terus berharap.

Aku melihat buku-buku soal di pangkuanku. Ini mengingatkan akan janjiku kepadanya. Aku sudah berjanji padanya untuk tidak buang-buang waktu terlalu lama di depan laptop hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak penting. Aku sudah berjanji padanya untuk belajar lebih giat. Aku sudah berjanji padanya untuk menuruti permintaannya. Walau awalnya aku agak berontak. Walau awalnya aku udah mikir negatif-negatif, semisal dia minta itu karena dia pengen ngejauh dari aku. Tapi kemudian aku sadar, dia pasti ngelakuin itu karena nggak ingin aku juga gagal seperti dia. Dia peduli sama aku, makanya dia ngelarang aku buat nggak terlalu sering online di socmed. “gagal itu nggak enak. Nggak keterima itu nggak enak. Kamu nggak tau rasanya kaya gimana kan?”. Kata-katanya terngiang-ngiang di telingaku.

Aku membuka lembar demi lembar buku latihan soal miliknya. Tanpa nama. Tapi ada tanda tangannya yang diakhirannya ada gambar bintangnya. Bintang. Aku suka sekali bintang. Dan dia, adalah bintang terindah yang pernah aku lihat. Aku mengambil pulpen dan memutuskan untuk menuliskan nama ‘Rangga Adriatmoko’ di sampulnya.

Air mataku menetes melihat coretan-coretan yang dia buat di dalamnya. Buku-buku soal ini yang menemaninya begadang untuk belajar. Buku-buku soal ini yang selalu dia bawa-bawa. Dan sekarang, buku-buku soal ini ada di tanganku. Aku mendekap mereka erat. Sekarang, buku-buku soal ini yang akan gantian menemaniku belajar. Mungkin aku memang tidak bisa memintanya terus menerus menemani dan menyemangatiku belajar, tapi dia memberiku buku-buku ini sebagai penggantinya. Iya, penggantinya. Aku diam dan tersenyum kecil. Menoleh keluar jendela, membayangkan senyum manis yang terbentuk di wajahnya sewaktu dia berpamitan pulang padaku. Aku kangen….

Rangga, berjanjilah, kalau kita akan sama-sama berjuang. berjanjilah, kalau tahun depan kita akan sama-sama menjadi mahasiswa institut yang lambangnya gajah tangan empat itu (amin ya Allah). Berjanjilah, untuk tetap disini dan tidak pernah pergi. Berjanjilah, untuk tetap menjadi cahaya harapan bagi hidupku..

Rangga aku kangen-kangen-kangen-kangen-kangeen banget sama kamu. aku cuma pengen ketemu kamu. apa permintaan itu terlalu muluk-muluk buat diwujudkan?

***

Penulis adalah siswi SMA 1 Jember

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: