Tinggalkan komentar

Dewi Kunang-kunang – Cerpen Hsu

DEWI KUNANG-KUNANG

Cerpen Hsu

Malam… 30 Desember 1943…

Beberapa hari setelah Jakarta Ken (Pusat Pemerintahan Jakarta) dipindahkan oleh Pemerintah Jepang ke Tangerang…

Beberapa orang Tentara Jepang mendobrak paksa pintu sebuah rumah dan segera menyergap seorang wanita cantik berambut panjang berwajah oriental, wanita yang tak mampu berteriak kencang namun tak ayal kegaduhan membangunkan suaminya yang tengah berbaring dalam kamar… namun malang tanpa sempat melakukan apapun lelaki suami wanita itu  yang baru saja keluar dari pintu kamar langsung terbelalak matanya karena sebuah pedang panjang menancap menembus perutnya hingga ke belakang pinggang… meregang nyawanya seketika itu juga. Dalam bekapan lengan-lengan kekar… wanita itu hanya bisa menyaksikan suaminya terkulai bersimbah darah… tak lama sesosok gadis kecil sekitar umur 6 tahunan tampak keluar dari sebuah kamar dan begitu melihat sang papa bersimbah darah langsung menjerit dan berlari ke arah mamanya yang dalam keadaan terbelenggu lengan-lengan perkasa…

Yiinngggggg Siieeennnnnn terdengar juga akhirnya teriakan wanita itu begitu sebilah pedang menembus pula tubuh gadis kecil yang akan berlari menyongsong mamanya… kekuatan yang tiba-tiba hadir menyaksikan putrinya pun meregang nyawa di tangan tentara Jepang yang tadi telah melakukan hal yang sama terhadap suaminya. Kekuatan sesaat yang hadir dan akhirnya terkalahkan kembali oleh kekuatan lengan-lengan kekar penuh hawa nafsu.

Tiada lagi rontaan berarti… kepedihan yang meliputi jiwa wanita itu… terseret oleh lengan-lengan kekar… yang kemudian akan menjadikannya seorang Jugun Ianfu (wanita yang dijadikan budak seks oleh tentara Jepang pada masa Perang Dunia II).

***

69 Tahun Kemudian…

“Haloooo… Ya Toni… ini Deni… Besok aku akan ke rumahmu… aku tiba dari Surabaya 5 hari yang lalu… hari ini aku masih di rumah pamanku Ton… kebetulan pamanku ada sepeda motor yang tak digunakan dan akan dipinjamkan untukku selama aku belum membeli kendaraan. Tunggu aku besok ya Toni… Sore jam 3 an aku pasti ke tempatmu”Deni mengakhir pembicaraannya di telepon dengan Toni rekannya yang juga berasal dari Surabaya dan telah hampir 10 tahun menetap di Tangerang Utara. Setelah itu Deni memacu motor pinjaman dari pamannya menuju rumah kostnya. Kelelahan akhirnya menidurkan Deni.

Mendung rupanya tak menghalangi niat Deni berkunjung ke tempat Toni di Tangerang Utara… berbekal sebuah peta Tangerang… ia pun memacu motornya dan setelah sempat beberapa kali bertanya, ia pun tiba di rumah Toni. Berbincang tentang pengalaman masing-masing hingga senja turun. Akhirnya Deni berpamitan sekitar jam 6 sore.

Beberapa kilometer memacu motornya menyusuri jalan yang di sisi kirinya adalah anak sungai Cisadane… petir tiba-tiba menggelegar dengan awan hitam yang cepat sekali menyebar dan beberapa menit kemudian hujan pun turun dengan derasnya yang akhirnya memaksa Deni menepikan motornya.

Sebuah rumah tua yang tampak gelap dan tak berpenghuni dan rusak di beberapa bagian atapnya… hanya tersinari oleh lampu jalan yang ada pada tiang listrik. Deni masih dalam posisi duduk di atas jok motornya sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya agar hangat… terdiam memandang hujan…

Dalam lamunannya menunggu hujan… tiba-tiba Deni seperti mendengar suara anak kecil perempuan yang menangis… Deni celingukan… jarak tempatnya berteduh dengan rumah berikutnya ternyata jauh… Deni sedikit mengernyitkan dahinya… beberapa menit kemudian terdengar kembali suara tangisan anak kecil…

Deni akhirnya turun dari posisi duduknya… ternyata setelah benar-benar disimak… suara tangisan bersumber dari dalam rumah itu… Deni memberanikan diri untuk memasuki rumah yang sudah tak berpintu… di sudut ruangan yang seperti ruang tamu dekat meja yang sudah sangat lapuk dan di lantainya ada tumbuh rumput… Sesosok gadis kecil tampak menangis dan menundukkan wajahnya…

Legalah pikiran Deni yang tadi sempat merasakan ketakutan karena mendengar suara tangisan… pelan di hampirinya gadis kecil yang sedang menangis itu…

Deni menyentuh dan mengusap rambut gadis kecil itu… si gadis mengangkat wajahnya yang tampak basah oleh air mata…

“Siapa namamu cantik?” Deni membuka pembicaraan

“A Sien… Ying Sien biasanya mama memanggilku… kalau papa memanggilku A Sien!”Gadis itu menjawab pertanyaan Deni sambil sesenggukan dan lengannya mengusap air matanya sendiri.

“Mamamu ke mana? Dan Papamu?” Deni bertanya kembali kepada A Sien.

Kali ini A Sien hanya menggeleng-gelengkan wajahnya dan tampak kembali air matanya mengalir…

Deni akhirnya diam… diam dan hanya memandangi gadis kecil itu sambil sesekali mengusap-ngusap rambut gadis kecil itu.

Hujan pun reda… Ketika Deni akan beranjak menuju keluar bermaksud melanjutkan perjalanan pulang…

Gadis kecil itu berdiri… “Mama… Bantu aku cari Mama!”

Deni menoleh mendengar suara A Sien… dan melangkah kembali ke arah A Sien, kemudian menuntunnya sambil berkata-kata… “Ayoo ikut aku ya besok kita laporan ke kantor polisi agar kamu bisa ketemu Mama dan juga Papamu… ayooo” Deni menuntun A Sien dan menaikkannya di jok belakang motornya.

“Pegangan ya Sien…” Deni meminta A Sien untuk memegang pinggangnya ketika ia akan mulai memacu motornya. Motor melaju pelan karena jalanan yang licin akibat hujan… hingga tiba di rumah kost.

“Ayoo turun kita sudah sampai Sien…” Deni mematikan motornya dan turun lebih dulu… namun begitu ia turun… Tiada lagi A Sien… Tiada lagi gadis kecil yang tadi di boncengnya…

Deni yang kebingungan baru merasakan tubuhnya menjadi dingin terutama di bagian leher… segera saja ia menuju kran air yang ada di halaman depan kostnya… membasuh kaki, lengan, dan juga wajahnya sambil sesekali menoleh ke arah motornya… tak ada sosok A Sien… Gadis kecil yang tadi ia temukan di rumah kosong…

Sambil memegangi lehernya dan wajah yang masih basah… segera saja Deni memasukkan motornya ke dalam rumah… dan kemudian menuju bagian dapur… membuat teh hangat untuk menghangatkan tubuh dan menenangkan pikirannya yang mendadak menjadi seperti kebingungan dan… segaligus muncullah rasa takut…

Belum habis teh hangat dan tersisa setengah gelas… Deni meraih handuknya lalu menuju kamar mandi… Selesai mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk… kembali ke ruang depan dan meraih kembali gelas tehnya tanpa memperhatikan isinya… ia dekatkan ke mulutnya untuk meneguk… namun tak ada air teh yang masuk ke mulutnya… Deni mengangkat gelasnya… kosong… Deni mengernyitkan dahinya… “tadi masih setengah teh dalam gelas ini”… celingukan Deni dan melangkah keluar karena memang tadi pintu depan tak ia tutup… tak ada siapapun di teras kost termasuk di teras tetangga kostnya…

Tak mau ambil pusing… Deni segera mengambil selimutnya dan merebahkan tubuhnya di sofa lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya… lelah dan tertidur.

“Bantu aku cari Mama… aku mau Mama…” A Sien kemudian merebahkan wajahnya di atas dada Deni dan tertidur….

Deni terbangun dalam keadaan kaget luar biasa… mengusap-ngusap bagian depan tubuhnya… “Aaaahhhh mimpi yang aneh”

***

Beberapa hari sejak pertemuannya dengan sosok gadis kecil bernama A Sien… berusaha melupakan kejadian aneh malam itu. Deni pun mulai sibuk dengan pekerjaannya… sibuk beraktivitas hingga tak menyadari beberapa wajah di komplek yang ia lewati setiap pagi dan sore yang selalu tersenyum dan mengarahkan pandangannya ke bagian jok belakang motornya…

Dan ketika Deni berjalan-jalan kaki sore hari melepaskan lelah dengan berkeliling komplek pun tak menyadari posisi sebelah lengannya yang sedikit terangkat seolah sedang menuntun sesuatu… dan beberapa wajah yang tampak tersenyum melihat Deni… tersenyum manis tatkala melihat Deni sedang menuntun seorang gadis kecil yang cantik…

***

Suatu sore di hari minggu… Deni menuju Pasar Lama bermaksud mencari kuliner malam… kemudian Deni memesan Bubur Ayam khas Pecinan Tangerang… Setelah memesan… dan mata Deni kelihatan mencari tempat untuk duduk… suara penjual bubur terdengar begitu menyengat telinganya…

“Pak… itu putrinya tidur ya… kasian dia pasti lelah sekali ya Pak hingga tertidur di gendongan bapak di punggung Bapak”… Demikian suara si penjual bubur…

Deni diam dan baru kemudian menyadari jika posisi ke-dua lengannya memang seperti sedang menggendong seorang anak di belakang punggungnya…

Tak bisa menyembunyikan kekagetannya… Deni pun membatalkan pesanananya… segera ia hidupkan motornya dan memacunya ke arah Tangerang Utara… tak peduli akan tiba malam atau bagaimanapun…

1 jam kemudian… Deni mulai mengurangi laju motornya… perlahan dan akhirnya melewati rumah kosong tempat ia pernah berteduh sepulang dari rumah Toni sahabatnya… ia lewati rumah itu… terus menyusuri hingga tiba di rumah berikutnya yang tampak tak berbeda jauh dengan rumah kosong tempat ia bertemu sosok A Sien… Deni menghentikan motornya… ada cahaya lampu yang lumayan terang di rumah yang ia akan singgahi ini… legalah pikiran Deni…

“Tok… Tok… Tok… Selamat Malam…” Deni mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

Sesosok pria tua tampak duduk bersama isterinya di temani juga dengan beberapa orang anak-anak dan cucu-cucu mereka… Melihat ada tamu pria tua di rumah itu pun menghampiri Deni… “Adek ini siapa ya…?”

Deni akhirnya mengetahui kisah yang terjadi di rumah kosong tempat ia bertemu sosok A Sien atau Ying Sien dari pria tua itu. Setelah mengetahui segalanya dan mendapatkan titik terang dari kebingungannya… Deni pun pamit dan segera pulang.

***

Di sofa ruang depan tempat Deni biasa tidur dengan selimut tebalnya… malam itu tak lupa ia berdoa sebelum tidur… dan selesai berdoa ia berucap pelan…

“Ying Sien…. jika kau memang ada dekat aku dan mau ikut aku… ya sudah ikutlah dan nanti kita cari Mamamu ya… tapi jangan nakal ya Sien!” selesai berucap, Deni segera menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya.

***

Fiksi Wantutri, Pada Waktuku di antara pukul 01-03

 

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: