Tinggalkan komentar

Puisi Rudi Heru Suteja: Tanah

TANAH 

Puisi Rudi Heru Suteja

Tanah memerah di lading-ladang nanah
menyebarkan bau busuk bagi setiap pelayat
yang mengirimkan sesaji, doa, kidung dan gumam mantra
bagi kepompong-kepompong yang letih.

(Tanah hanya diam pasrah, sebab itulah
kemanusiaan yang paling murni)

Lalu setangkai bunga bangkai menggugurkan
putik sarinya pada tumpukan kerangka,
dan malam melolong mencari persembunyian
abadi bagi anak telurnya

(Tanah hanya diam merenungi wajahnya
yang terjajah, sambil mendekap erat
kaki setiap pelayat yang lewat)

Yogya, 11 Mei 1993

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: