Tinggalkan komentar

Bu Guru Sumi – Cerpen Achmad Munjid

BU GURU SUMI

Cerpen Achmad Munjid

 

Sumi masih berdiri di situ, mendekapkan buku-buku ke dadanya. Matanya menatap lurus ke depan. Terpicing, memandangi pantulan sinar matahari pada bongkahan-bongkahan aspal yang makin terburai, terlindas roda-roda truk yang meraung-raung penuh muatan pohon kelapa dari arah utara. Debu yang mengepul dari lubang-lubang di tengah jalan itu setiap kali terangkat, berpusing dan langsung menampar-nampar setiap wajah yang ditemuinya. Segalanya telah berubah, dan memang akan terus berubah, pikir Sumi.

“Baru pulang, Bu?” seorang perempuan muda yang tampak sangat kerepotan mengendalikan sepedanya, berusaha sedikit membungkukkan badan dan melirik ke arah Sumi. Tapi tiba-tiba perempuan tadi, dengan jeritan kecil yang tertahan, kembali sibuk dengan dua kerombong besar penuh berisi barang-barang belanjaan yang hampir saja membuatnya terperosok ke dalam lubang.

“Iya. Hati-hati, Nem.” Sumi menyahut.

Nggih, Bu. Mari…”

“Iya. Iya.” Painem memang bekas muridnya. Agak lamban sebenarnya kemampuan berpikir anak itu dulu. Bahkan dua kali ia pernah tinggal kelas. Tapi, nyatanya, sekarang cukup berhasil juga hidupnya. Warungnya laris. Bisa beli sepeda motor baru. Dua anaknya juga sudah masuk es-em-pe. Pokoknya, sekarang Painem bisa hidup seperti orang-orang. Sedang ia sendiri, bekas gurunya? Ah!

Selalu ia rasakan ada yang mengelupas dalam dadanya, ketika tanpa sadar ia telah membanding-bandingkan keadaannya sekarang dengan keadaan bekas murid-muridnya. Padahal dulu, boleh dikatakan anak-anak itu tidak tahu apa-apa. Untuk mengerti bahwa ini seharusnya begini, bahwa itu seharusnya begitu, supaya kelak mereka bisa menjadi orang yang mau bekerja keras dan mandiri, dulu ia sering terpaksa harus menjewer telinga mereka. Bahkan, sesekali ia harus menghukum salah seorang supaya berdiri di depan kelas, agar mereka tahu arti dan pentingnya disiplin. Karena disiplin itulah modal yang sangat berharga dalam hidup. Ia yang menuntun segalanya, agar mereka bisa berhitung, membaca, agar mereka berani bicara di depan kelas. Ia yang mengajari, bahwa bersaing itu baik, agar mereka tidak canggung menunjukkan kemampuan masing-masing diantara teman-temannya, sehingga nanti mereka akan jadi orang-orang yang berhasil.

“Belum pulang, Bu?” seorang lelaki kurus dengan kulit yang hitam terbakar, sambil membungkuk menyapa dari balik capingnya.

“Oh, kamu, Man. Iya, ini Ibu baru mau pulang. Panas sekali, ya?”

“Lebih-lebih di sawah, Bu.” Kasman memang juga bekas muridnya yang sejak dulu sering punya jawaban tak terduga. Ia tergolong anak yang cerdas. Makanya ia dipilih jadi ketua kelas. Setiap pagi dan siang, anak itulah yang dulu memimpin teman-temannya memberi hormat. Suaranya yang lantang selalu terdengar keras: “Siaaap grak! Berdoa mulai. Beri hooormat!” Dan anak-anak yang lain menyahut: “Selamat Pagi, Bu Guruuuu!”

Dulu setiap guru memuji-mujinya. Tapi apa yang terjadi dalam gelanggang kehidupan rupanya memang selalu banyak yang luput dari perkiraan. Ternyata nasib Kasman tidak secemerlang otaknya. Warna hidupnya tidak lebih dari apa yang terlihat dari kulit tubuhnya yang kelam.

Monggo, Bu.”

“Ayo, Ibu juga mau pulang sekarang,” ia pun melangkah. Tapi, dengan mencuri-curi, masih sempat diamat-amatinya juga punggung Kasman yang dibiarkan terbuka dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari. Kamu terlalu cepat tua, Kasman, pikirnya. Dan ia pun menjadi sadar. Bukan cuma Kasman, tapi juga dirinya.

Memang, dua puluh lima tahun lebih ia telah menyandang predikat yang dulu demikian menjadi kebanggaannya itu: Guru, orang yang setiap tingkah lakunya digugu lan ditiru, dipercaya dan dijadikan teladan, oleh masyarakat. Dialah satu-satunya gadis yang pertama kali berhasil menyandang predikat terhormat itu di kampungnya yang terpencil. Waktu itu, di sana juga baru ada satu sekolah, yaitu tempat Sumi mengajar sampai sekarang. Anak-anak yang lulus SD pun masih bisa dihitung dengan jari. Ketika jalan yang dilaluinya sekarang masih lebih sering seperti kubangan kerbau di musim penghujan dan lumpurnya yang hitam secara tidak senonoh sering menjilati betisnya yang muda dan bersih. Kadang malah mencapai bagian atas, hingga banyak orang merasa begitu kasihan melihatnya.

Sumi demikian mencintai pekerjaannya itu, karena setiap orang juga memuliakannya. Kemana ia pergi, orang selalu menyambut dengan senyum dan punggung yang membungkuk penuh hormat. Ketika orang-orang membesarkan hati anak gadisnya, ia yang seringkali dijadikan contoh. “Lihat, itu, Bu Guru Sumi. Kepingin nggak, kamu seperti dia? Kerjanya enak, gaji bulanannya jelas. Begitulah orang pintar.”

Orang-orang juga ikut tersenyum, ketika Sumi mulai sering dibonceng Subardi, teman mengajarnya yang berasal dari Solo. Begitulah, kalau priyayi tentu pasangannya juga priyayi, kata orang-orang lagi. Pulang pergi mereka selalu bersama. Naik de-ka-we, kalau hari kebetulan terang. Jalan kaki dan membersihkan lumpur bersama di sumur belakang sekolah, ketika hari turun hujan. Sumi makin jadi buah bibir orang-orang tua ketika ia kemudian menikah dengan Subardi itu. Seperti yang sudah diduga orang-orang, mereka segera membangun rumah, membeli pesawat teve. De-ka-we itu pun segera diganti dengan sepeda motor kreditan ketika jalan kampung mulai diaspal dan listrik masuk desa mereka. Hidup Sumi terlihat berpendar-pendar menakjubkan setiap mata yang mamandangnya.

Tapi rupanya aspal dan listrik itulah yang kemudian mengubah semuanya. Desa yang dulu tenteram dan menyenangkan, tiba-tiba menjadi gelisah. Semua orang berjalan tergesa-gesa. Ke pasar, ke sawah, ke ladang. Pagi, petang, siang, malam. Jalan memang telah halus dan terang. Truk-truk hilir mudik. Mengangkuti apa saja. Orang-orang dengan cepat mengalami perubahan. Rumah-rumah tembok tampak banyak dibangun di kanan-kiri jalan. Pagar-pagar dibuat rapi. Halaman diberi taman-taman. Antena teve dengan cagak batang bambu makin banyak kelihatan. Radio dan tape recorder yang dihidupkan keras-keras terdengar hampir dari setiap rumah. Segala macam barang bagus-bagus dan mahal berdatangan dari kota.

Kebutuhan pun muncul bertubi-tubi, tanpa jeda, tanpa ampun. Harga-harga segera naik membubung. Jumlah uang makin sepele. Anak-anak muda, sebagian memang dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Tapi mereka kemudian lebih banyak yang menganggur atau memilih pergi ke kota, kalau tidak jadi TKI ke luar negeri. Entah kerja apa saja mereka di sana. Sementara sebagian yang lain hanya terus-menerus mengancam orang tua mereka supaya segera membelikan sepeda motor atau nongkrong sambil bermain gaple di emperan pasar hingga larut malam. Kalau dulu, setiap orang suka saling tolong dan memberi, meskipun sedikit, kini semua orang seperti berlomba untuk saling pamer, saling bersaing. Setiap orang gelisah dan tak saling peduli.

Dan keadaan itu pulalah yang juga tiba-tiba telah mencengkeram Sumi dan Subardi. Dengan tiga anak-anak yang sudah masuk sekolah lanjutan, gaji mereka yang dulu mencukupi segalanya, sekarang hampir tidak lagi berarti apa-apa. Ketergesaan itu jugalah yang pada suatu pagi mengejar Subardi hingga ia tidak bisa lagi mengendalikan kendaraannya ketika berpapasan dengan truk yang mengangkut pohon jati di sebuah pertigaan. Tabrakan tak terelakkan. Jeritan rem dan suara-suara perempuan melengking bersamaan. Kepala Subardi terbanting membentur aspal. Pecah, bersimbah darah. Sumi segera menjadi janda, dengan kesedihan yang dalam dan amat panjang. Dengan himpitan kebutuhan yang terus membengkak. Mulut anak-anaknya seakan tak pernah berhenti meminta uang SPP, BP3, uang gedung, uang buku, seragam, uang jajan, sumbangan wajib, biaya ujian, study tour, biaya UMPTN, registrasi, uang kos, ganti sepatu, beli tas, uang jalan, macam-macam. Semua datang memberondong, tanpa peduli pada kebutuhan belanja sehari-hari yang mutlak harus dicukupi.

Padahal ia tidak tahu, apakah setelah selesai sekolah mereka nanti bisa mendapat pekerjaan. Padahal gaji yang diterimanya terus-menerus terpangkas di tengah jalan. Oleh biaya kenaikan pangkat otomatis, pengurusan SK, iuran PGRI, dana dharma wanita, simpanan koperasi, dana pensiun, arisan….

Di mata masyarakat, predikat guru tidak berharga seperti dulu lagi. Sumi tidak pernah menjadi sorotan seperti dulu-dulu, kecuali dengan nada tidak enak didengar. Dan semua itu, justru dirasakan di usianya yang kian menua. Saat rambutnya kian berubah warna. Setelah ia setia menekuni pekerjaannya hampir dari separuh hidupnya.

“Kasihan, ya, Bu Sumi itu. Sudah tua begitu, harus jalan kaki setiap hari. Padahal, katanya, orang-orang yang seangkatannya hampir semua sudah jadi kepala sekolah dan punya kendaraan baru, lho…”

“Kamu seperti tidak tahu saja?! Anak-anaknya itu yang menghabiskan gajinya. Tiga-tiganya, nakal-nakal tidak ketulungan. Anak guru, tapi kelakuannya? Huh….!,” begitu kadang ada orang yang saling berbisik-bisik sewaktu ia pulang mengajar. Sesekali ia juga mendengar omongan itu, tapi biarlah. Lebih baik diam. Sebagian orang memang begitu. Ketika hidup kita senang mereka cemburu. Kala hidup kita susah, mereka mencibir.

Sumi terus melangkahkan kakinya pulang. Tapi, di bawah terik siang itu, ia kembali dibuat tertegun-tegun. Dari kejauhan, seseorang anak kecil tanpa baju yang bertengger di atas pohon salam dengan suara yang sangat lepas, terdengar menyanyikan lagu yang sangat dihafalnya. Seakan memang ditujukan khusus kepadanya.

Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku…

Ah, anak siapakah itu?

Sumi erat-erat kembali mendekapkan buku-buku ke dadanya.

Yogyakarta, 2 Mei 1995

***

Cerpen ringan yang aku tulis tahun 1995 silam. Dedikasi untuk seorang guru SD-ku di kampung, juga untuk para pendidik. Selamat menghayati hari Pendidikan Nasional!  Pernah diterbitkan di suatu koran yang aku sudah lupa namanya pada tahun itu.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: