Tinggalkan komentar

Tanggal Satu Januari Tahun Satu – Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

TANGGAL SATU JANUARI TAHUN SATU

Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

Hari ini tanggal 31 Desember 2249. Dan besok sudah memasuki hari pertama tanggal 1 Januari tahun 2250. Sebutlah tahun duaribu seperempat.

Dulu, sebelum aku lahir, entah tahun berapa pastinya aku tak tahu, nenek moyang pernah meramalkan bahwa tahun duaribu dunia ini akan sangat semrawut. Ialah dikarenakan oleh ledakan penduduk yang tiada mampu dikendalikan.

Bahwa beberapa ahli, sebutlah sosiolog, pernah bilang, bahwa di tahun duaribu itu manusia harus menerima nasibnya untuk tidur berdiri. Karena dunia betul-betul sudah sesak. Tapi apa lacur, ramalan itu sama sekali meleset. Tahun duaribu tak banyak kejadian-kejadian yang menarik. Ada memang kejadian yang akhirnya menjadi catatan sejarah. Ialah meledaknya perang anti-koruptor bangsa.

Ya. Di petak tahun duaribu telah terjadi perang dunia ketiga, keempat, kelima, dan ke-sekian kalinya, untuk memberantas para pelaku-pelaku koruptor bangsa. Tapi untuk yang kesekian kalinya ramalan nenek moyang tidak cocok dengan kenyataan. Kalau dulu nenek moyang khawatir akan terus melahirkan orang-orang yang murka kepada duniawi dengan cara menghalalkan undang-undang yang dibikin sendiri yang akan menelan nyawa bangsa dan menyengsarakan ummat manusia yang berjumlah ratusan juta, maka ternyata tidak demikian kenyataannya. Perang anti-koruptor di tahun duaribu telah “meletus” dengan santai saja. Artinya jumlah korban manusia kurang berarti bila dibandingkan dengan jumlah manusia yang ada di dunia.

Toh di tahun duaribu itu aku belum lahir. Mamak pun belum muncul di dunia. Tapi sejarah selamanya setia pada catatannya. Kiranya ramalan nenek moyang itu baru akan nyata pada dasa warsa terakhir ini. Sekarang manusia hampir-hampir kehabisan udara untuk bernafas. Dan tidur pun hampir-hampir harus berdiri. Aku dengar di beberapa benua telah terjadi kepadatan penduduk dan mereka menderita kelaparan.

Bah!

Di satu malam, tepat bulan sedang purnama, radio-radio yang disiarkan secara internasional memberitakan akan adanya  kejadian yang menakjubkan. Kejadian itu diperkirakan akan terjadi di penghujan malam.

Gempa! Orang seluruh dunia tentu jadi panic. Aku yakin bahwa tak seorang pun bisa memejamkan mata untuk tidur. Kecuali bayi-bayi yang belum tahu menahu akan adanya kejadian yang bakal menghancurkan dunia. Ialah sebuah gempa yang luar biasa dahsyatnya. Aku sendiri bingung. Hampir-hampir aku mau ikut-ikutan bunuh diri.

Raung tangis terdengar dimana-mana. Tetangga berteriak-teriak ketakutan. Teriakan-teriakan histerispun tak kunjung henti. Radio terus memberitakan bahwa di beberapa negeri telah terjadi bunuh diri massal. Mereka takut sekali menunggu pagi yang menakutkan itu. Sayup-sayup dari radio kudengar raung tangis juga. Dan diberitakan bahwa limapuluh penyiar telah mati lemas karena sebab yang sama: takut menunggu pagi datang.

Mama, papa dan seluruh penduduk kampung tak henti-hentinya berdzikir. Perasaan berdosa muncul menteror mereka.

Tapi aku segera menjatuhkan vonis pada diriku sendiri. Bahwa mau tidak mau, takut tidak takut, dan mesti takut, aku harus menerima apa saja yang akan terjadi.

Kiamat! Kiamat! Kiamat!

Mereka meneriakkan kata-kata itu. Dan karena waktu terus berjalan, maka tibalah pada saat yang ditunggu-tunggu. Kokok ayam terdengar berulangkali. Pertanda pagi telah tiba.

Benar, bumi bergoncang sangat hebatnya. Teriakan-teriakan semakin panjang gemanya. Mereka tak berpikir tentang orang lain. Mereka berteriak-teriak sendiri. Tapi aneh. Justru aku merasa tenang. Sehingga suara-suara manusia yang tak tentu itu dapat kudengar dengan seksama. Tapi pada saat goncangan bumi semakin kuat, aku pun turut teriak-teriak juga.

Kepalaku terasa pusing. Aduh!

Sementara mayat-mayat telah bergelimpangan di mana-mana. Aku mencoba berdiri dari jatuh untuk segera ikut lari bersama mereka yang masih hidup. Mayat-mayat yang tak sempat kukenali itu kuinjak-injak begitu saja. Aku terus berlari. Terus, terus, terus dan sampai akhirnya aku terbanting.

Aku masih memejamkan mata. Mungkin pingsan.

Secara perlahan-lahan suara jeritan menghilang. Dan akhirnya sama sekali tak kudengar. Aku siuman. Kutengok ke kiri  dank e kanan. Suasana sangat sepi. Pohon-pohon tumbang. Tapi udara sangat sejuknya. Mayat-mayat yang sebentar lagi membusuk terdapat di mana aku berpaling.

Ngeri! Sungguh ngeri pemandangan dimana-mana. Dan ketika kutemukan mayat mama dan papa, aku kembali pusing. Aduh!

Aku kembali pingsan. Dan ketika siuman, sayup-sayup kudengar suara orang membangunkanku.

“Tisan……….Tisan…….”

Aneh.

Kubuka mata. Aku terperanjat. Dadaku berdesir. Rohah telah berada di sisiku.

“Kau, Rohah?” kataku tak percaya.

“Ya. Kok ….. kok di sini?”

“Kok juga kok di sini?”

Rohah tersenyum. Dan aku ingat peristiwa dua tahun yang lewat. Aku pernah bilang hendak mengawini Rohah. Dan aku melamarnya. Tapi lamaranku ditolak oleh kedua orangtuanya. Dengan alasan entah apa. Pokoknya lamaranku ditolak.

“Kita jadi kawin sekarang.” Kataku penuh nafsu.

“Kawin?”

“Ya. Kita kawin sekarang.”

“Kita?”

“Ya. Kita. Siapa lagi kalau aku dan kamu tidak kita sebut “kita”?”

“Aku tak mau kawin denganmu.”

“Lho, kenapa? Kau mau kawin sama siapa?”

“Jangan bertanya soal kawin.”

“Tapi di dunia ini yang hidup tinggal kita berdua. Apa kau dan aku akan hidup sendiri selamanya?”

“Apakah kau yakin bahwa semua manusia lainnya kita telah mati semua?”

“Kenapa tidak yakin.”

“Dari mana kau yakin.”

“Pokoknya semua manusia lainnya kita telah mati.”

“Kemudian siapa yang akan mengawinkan kita?”

“Kita sendiri.”

“Tidak bisa.”

“Bisa. Kita kawin sendiri. Dan kemudian hari ini kita jadikan hari baru. Juga tahun baru. Kalau dulu nenek moyang memberi tanda tahun dengan Masehi kita memberi tanda dengan Tisan-Rohah. Maksudku tahun baru ini kita sebut tidak lagi tahun Masehi tapi tahun Tisan-Rohah. Setuju?” Rohah tertawa giginya nampak rapi. Aku ingin mengecupnya. Tapi takut dosa.

“Kita jadi ibu bapaknya manusia baru?” Rohah tertawa renyah.

“Otomatis begitu. Dan kita bikin peradaban baru. Tatanan baru.”

“Asyik sekali kalau begitu.”

“Siapa bilang tidak asyik.”

Tahun duaribu seperempat telah berlalu. Hari ini adalah hari baru. Tanggal baru. Bulan baru. Hari ini tanggal 1 Januari Tahun 1. Hidup tahun baru. Merdeka! Merdeka!

Catatan; Jakarta – Saung, Sastra Kalimalang Bekasi, 25 Agustus 2013.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: