Tinggalkan komentar

Siti Menunggu Nasib – Cerpen Edy Priyatna

SITI MENUNGGU NASIB

Cerpen Edy Priyatna

Siang itu terasa sangat panas sekali. Matahari bulat melolong menyoroti tanah berpasir yang gersang. Sesekali terlihat angin bertiup menyebabkan debu berterbangan. Ranting patahpun berserakan melintasi halaman rumah. Dikejauhan terlihat adanya fatamorgana, seperti air yang mendidih diatas tanah. Siti memandang tajam dari ruang kamarnya melalui jendela disudut sisi dinding. Ia sedang merapihkan pakaian yang baru saja dicucinya. Tampak wajahnya terlihat murung dan sedih. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.

“Siti………..Siti, ayo keluar !!”

“Iya….Nyonya”, sahut Siti langsung keluar dari kamarnya.

“Sedang apa kamu, pemalas?!”, tanya seorang perempuan setengah baya yang baru saja kembali mengantar anaknya ke sekolah. Dia adalah majikan Siti.

“Saya sedang merapihkan baju, Nyonya”

“Di dapur banyak pekerjaan yang belum kamu selesaikan??! Ruang tamu juga belum kamu bersihkan, kenapa belum juga kamu kerjakan??”

“Iya….Nyonya”, sahut Siti lagi menunduk sedih. Sebenarnya sejak ia shalat Subuh tadi pagi semua yang menjadi pekerjaannya sudah dia lakukan semuanya, namun majikannya itu selalu saja menganggapnya belum dikerjakan. Sudah sebulan ini peringai majikannya itu telah berubah. Dulu dia sangat baik dan ramah sekali terhadap Siti. Tetapi sejak Siti minta izin cuti pulang kembali ke kampung halamannya, majikannya selalu marah-marah. Dan Siti tidak diizinkan cuti untuk pulang.

Setahun lebih Siti bekerja di tempat itu, selama ini ia telah bekerja dengan baik. Ia selalu melaksanakan semua pekerjaannya. Bahkan dapat dikatakan hampir setiap waktunya di rumah majikannya itu adalah bekerja, kecuali istirahat makan, shalat dan tidur saja. Dalam setahun itu ia baru tiga kali keluar rumah, itupun pergi dengan keluarga majikannya. Belum pernah ia keluar rumah sendirian atau bertemu dengan teman-temannya di kota tempat ia bekerja.

Awalnya Siti merasa kerasan bekerja disana, namun belakangan ini ia tiba-tiba menjadi tidak betah dan ingin segera pulang. Tetapi entah kapan harapannya itu dapat terlaksana. Siti tidak tahu mengapa, sudah beberapa kali mengajukan untuk pulang selalu ditolak majikannya. Kini Siti hanya merasa sedih, ia rindu sekali dengan anak, ibu, paman dan saudaranya yang berada di kampung halamannya.

Pada hari itu Siti telah merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan dirinya, karena ia telah dipukul oleh majikannya. Ia bertengkar dengan majikannya.

***

Ketika langit telah gelap dan malam mulai larut, kesedihanpun terus berjalan memasuki relung hati Siti. Kerap hal itu berlangsung setiap hari semenjak dirinya seperti dipenjara oleh majikannya. Tak ada yang dapat dia perbuat di rumah itu kecuali bekerja, bekerja dan bekerja. Bila ada kesalahan dalam bekerja dia harus menerima cacian dan makian yang terkadang sangat melukai hatinya. Namun Siti tetap bertahan mejalankan tugas yang sudah ia emban selama hampir dua tahun.

Malam itu Siti merasakan sesuatu yang lain dari pada biasanya. Gelisah yang selama ini selalu menghampirinya, kini dirasakan lebih dahsyat lagi. Tak ada yang dapat ia lakukan kecuali hanya berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar penderitaannya itu dapat segera berakhir. Setiap saat tanpa ia sadari air mata selalu jatuh. Hingga akhirnya ia terjaga dan mulai menggoreskan tinta merahnya.

Siti merasakan rindu yang mendalam ketika menuangkan rasa di dalam tulisan. Berhari-hari ia menulis surat untuk saudaranya di kampung halaman. Sudah banyak surat-surat Siti yang dikirim ke kampungnya, namun ternyata menurut surat balasan yang ia terima justru hanya beberapa surat saja yang telah sampai disana. Siti heran kemana surat yang lainnya. Selama ini ia selalu menitip saudara tiri majikannya untuk dimasukan ke kotak pos pengiriman yang ada sekolahnya. Entahlah! Tetapi kemarin ia berhasil mengirim sebuah surat kepada tukang pos yang kebetulan lewat tanpa diketahui oleh sang majikan. Kemudian ia selalu menulis surat kembali dan kadang iapun tertidur dalam suratnya.

Akhirnya pada keesokan harinya ketika tiba waktu Subuh, Siti terjaga. Ia langsung bangun dari tidurnya menuju ke kamar mandi dan segera melaksanakan shalat Subuh. Lalu usai shalat Siti memasak air di dapur. Tiba-tiba tanpa sepengetahuannya, sang majikan perempuan memukul kepala Siti dari belakang, lalu menjambak rambutnya yang kemudian dilanjutkan dengan mencekik leher hingga dia mau mati. Siti tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi. Pada Saat Siti mau mati tangannya berusaha meraba-raba mencari apa yang dapat menghentikan penganiayaan itu hingga menemukan pisau dapur yang langsung ditusukkan ke perut majikannya.

***

Ytc. Bunda Milah
Di rumah

Assalamualaikum wr. wb.
Bunda, Alhamdulillah berkat doa semua, Siti dalam keadaan sehat walafiat ketika menulis surat ini. Mudah-mudahan juga keluarga di kampung pada sehat semua terutama Bunda, Paman dan buah hatiku Syafiuddin serta Ali Ridho, serta saudara-saudaraku yang lain.

Siti saat ini sudah tidak kerasan bekerja disini, tapi sudah lama Siti minta ijin pulang namun hingga hari ini masih belum diijinkan oleh majikan. Sepertinya Siti harus menyelesaikan waktu kontrak kerja baru boleh pulang. Itu berarti Siti baru boleh pulang akhir bulan Maret ini, nanti untuk lebaran besok Siti akan kirimkan uang pada bulan Ramadhan. Mudah-mudahan uangnya cukup untuk merayakan lebaran di kampung ya, Bunda….

Siti rindu sekali dengan keluarga di Bangkalan. Setiap hari Siti selalu menangis, apalagi bila majikan perempuan dan anaknya yang laki-laki selalu memarahinya. Bunda kan sudah tahu kalau majikan Siti itu baik sekali, seperti yang pernah Siti ceritakan beberapa bulan yang lalu. Namun sudah sebulan ini semua itu berubah total. Siti tak mengerti kenapa tiba-tiba jadi begitu. Sekarang ini sepertinya semua pekerjaan Siti tidak ada yang benar dan selalu saja ada kesalahan. Kadang Siti merasa apapun yang Siti kerjakan pasti dianggapnya salah. Padahal Siti sudah memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, namun sepertinya majikan Siti itu mencari-cari kesalahan walaupun hanya masalah kecil sekalipun. Lalu bila siti melakukan yang dianggap salah mereka mencaci maki dengan agak kasar. Siti selalu berusaha sabar, sabar dan sabar. Tetapi Siti selalu ingat pesan Bunda, agar tidak larut dalam kesedihan. Siti berupaya untuk selalu tegar dan tidak lupa berdoa agar Siti selamat dunia dan akhirat.

Oiya bagamana keadaan Bunda, Paman dan keluarga di Bangkalan? Sudah lama sekali Siti tak mendapat surat dari kampung. Siti jadi sedih bila menunggu surat dari kampung tapi tak kunjung datang. Namun Siti lebih sedih lagi ketika ternyata surat-surat itu dibuang oleh saudara tiri majikan yang laki-laki itu, Bunda. Sakit sekali rasanya hati Siti ketika akhirnya tahu soal surat itu. Siti secara tidak sengaja memergoki dia menerima surat dari tukang pos lalu dibuangnya jauh-jauh, bahkan dirobek terlebih dahulu sebelum dibuang. Lalu lebih sakit lagi pada saat Siti menanyakan kenapa membuang surat kiriman dari kampung, Siti malah dimaki-maki bahkan dipukulnya. Sejak itu Siti tak ingin menanyakannya lagi.

Bunda, doakan Siti ya. Semoga Siti dapat tabah menghadapi cobaan yang berat ini. Siti akan berusaha menjadi orang yang baik walaupun sering disakiti oleh majikan dan keluarganya. Mungkin ini sudah suratan takdir Allah SWT sehingga Siti harus menerimanya. Setiap hari Siti selalu berdoa untuk keselamatan kita. Juga untuk rasa bersyukur bahwa selama ini kita masih diberikan nikmat untuk hidup. Akhir kata maafkan Siti ya Bunda. Ikhlaskan Siti dan anak-anak Siti. Salam buat semua anak-anak, saudara-saudara, dan paman. Tak lupa buat Bunda. Sampai jumpa lagi di Bangkalan.

Timur Tengah, 02 September 1999
Wassalamu’alaikum wr. wb,
(Siti Zaenab)

Surat itu merupakan surat Siti yang terakhir yang diterima ibunya, Milah, di kampung. Sejak saat itu tidak pernah ada kabar dari Siti maupun teman-teman Siti yang suka membantu mambawakan titipan Siti. Kiriman yang dijanjikan Siti dalam suratnyapun tidak pernah datang. Terakhir kiriman Siti datang sebulan sebelum bulan Ramadhan. Sudah berbulan-bulan sejak ibu Milah menerima surat Siti belum mendapatkan kabar berita tentang Siti lagi. Entah berada dimana dia sekarang.

***

Sungguh siang itu terasa sangat panas sekali. Lebih panas dari hari biasanya. Padahal matahari masih bergerak sesuai jalurnya, menyoroti tanah berpasir yang gersang. Sesekali terlihat angin bertiup menyebabkan debu berterbangan. Ranting patahpun masih terlihat berserakan melintasi halaman rumah. Dikejauhan terlihat adanya fatamorgana, seperti air yang mendidih diatas tanah. Lama tak pernah ada hujan turun di kampung Bangkalan ini.

Hari ini tanggal 10 Maret 2000, sudah lebih dari enam bulan Ibu Milah, Paman dan kakak-kakaknya Siti menerima surat yang terakhir. Selama waktu tersebut mereka selalu berusaha mencari tahu kabar keberadaan Siti di Timur Tengah. Namun selama itu pula mereka tidak pernah berhasil. Bahkan ada kabar dari tetangga Siti, Maksum yang pulang kampung kemarin, bahwa Siti telah meninggal dunia.

Sejak mendengar berita itu semua keluarga Siti mencari informasi ke berbagai sumber hingga akhirnya diketahui bahwa Siti ditahan polisi setempat tanpa jelas apa alasannya. Hasan, kakak kandung Siti pun langsung berupaya mencari adiknya itu. Dengan berbagai cara ia telah lakukan, hingga akhirnya dalam waktu dua minggu Hasan mampu bertemu dengan adiknya di sebuah penjara kota di Timur Tengah, tempat Siti bekerja.

Hasanpun langsung memberi kabar ke kampungnya bahwa Siti ternyata telah ditangkap oleh pihak yang berwajib dan ditahan dengan tuduhan telah membunuh majikannya serta terancam hukuman mati dengan cara dipancung. Hukuman pancung tersebut saat ini masih ditunda waktunya. Menunggu ahli waris korban berusia akil baligh, yang saat ini masih berusia empat setengah tahun. Usia akil baligh adalah pada umur tujuh belas tahun. Sungguh malang nasibmu Siti.

Mendengar kabar yang pasti dari Hasan, ibu Milah, pamannya, kakak-kakaknya dan anak-anaknya Siti, menangis sedih. Akhirnya mereka saat ini hanya bisa pasrah menunggu dan berharap adanya pembebasan. Kemudian ibu Milah meminta dengan sangat jika pembebasan Siti tidak dapat dikabulkan, agar jenazahnya dipulangkan ke Tanah Air. Mereka semuanya setiap saat senantiasa berdoa kepada Allah SWT karena hanya Dia yang dapat menentukan semua itu, bukan yang lain. Mereka telah ikhlas, apapun keputusannya nanti merupakan hal yang terbaik bagi Siti. Subhanallah.-

(Pondok Petir, 25 Desember 2011)

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: