Tinggalkan komentar

Senyum Indah Sumarni – Cerita Pujie Lestary

SENYUM INDAH SUMARNI

Cerita Pujie Lestary

Masih duduk di depan pintu kamar ku tiba-tiba seorang gadis dengan rambut panjang muncul. Senyum nya selalu lebar, hampir tidak memiliki beban. “Mbak Pu,,,,,” sapa dia dengan riang

“Wah Marni, cantik banget, dari mana?” tanya ku berbasa-basi.

“Beli makan tapi warung tutup” jawab dia masih dengan senyumnya yang khas. Sebenarnya dia bukan termasuk gadis cantik, bahkan bisa di bilang dia tidak cantik. Sumarni gadis lulusan SMK asal klaten. Sama-sama bekerja d pabrik tempat ku bekerja, Dia lawan shift dengan ku. Kita satu kost. Bisa ketemu ya kalo pas sama-sama gak overtime.

Awalnya risih saya melihat penampilannya. Kulit gelap cenderung dekil, rambut panjang gak pernah di sisir, baju selalu kumel dan yang parah di depan kamar nya selalu ada aroma pesing. Bahkan teman sekamarnya dulu sampe bilang kalo dia ngompol. Entahlah,,,, Buat saya tidak penting. Yang saya tau dia selalu ramah dengan ku,

“Koq gak beli di warung lain?” tanya ku lagi .

“Di warung lain mahal mbak” jawb dia dengan sedikit malu,

Memang di sebelah kost ku ada warung makan “lothek ijo” tapi itu bukan kelas kami. Pemilik warung Markamah namanya selalu memandang kami cuma buruh pabrik paling belinya cuma nasi rames. “Sekali sekali gak papa Mar ,OT (overtime) terus mo di pake buat apa uangnya”cerocos ku

“Tak tabung mbak” kata dia riang.

Wah hebat ya, pikirku. Dia masih karyawan magang, udah kepikiran nabung, Aku berapa tahun kerja di sini uang selalu habis terus,

Di sela candaan aku dan Yuni, tiba-tiba  muncul banyak sekali pertanyaan, Aku dan Yuni sama-sama penasaran. Bertanya tentang wanita yang ada di kamar dia dulu. Kita mengira ibunya. Ternyata dia bilang, bukan. Itu ibunya Septi teman sekamarnya dulu. Ibunya gak mau di ajak ke kost lebih milih kerja.

Rasa penasaran semakin kuat dan hati juga semakin nyesek, ketika dia bilang ibunya bekerja mencari besi di pinggir jalan, di depan pabrik-pabrik. Dia bercerita dengan bangga dan tidak malu dengan pekerjaan ibunya. Sumarni bilang, ibunya kadang dapet Rp.30.000, tapi kadang juga bisa Rp.50.000 sehari.

Tiba tiba dengan nada berat dia bilang sering ibunya pulang gak bawa uang. Rasanya pengen nangis dengar secuil kisah hidup sumarni. Bahkan dada ini terasa sesak menahan haru. Sumarni kembali melanjutkan ceritanya atau mungkin sedikit curahan hati nya.

Sebulan lagi dia tanda tangan kontrak. Itu artinya dia mendapat rapelan uang saku selama dia magang. Dengan mata berbinar dia bilang uang itu mau dipake beli tv untuk ibunya. Dada ini semakin sesak, ternyata d jaman modern ini masih ada yang belum punya televisi. Dia bilang selama ini kalo mau nonton tv ya di tetangga. Ibu nya tidak pernah tahu tv itu seperti apa, Cuma lihat sekilas milik tetangga, Hal yang membuat kami sangat terharu, ternyata sejak kecil ayahnya sudah meninggal. Dia tidak pernah tahu sosok ayah dan bagaimana rasanya punya ayah.

Saya dan Yuni hampir tidak bisa menahan air mata haru ini. Memang ayah kami berdua juga sudah meninggal, tapi kami masih tau sosok ayah, merasakan kasih sayang ayah. Kenapa kami sering mengeluh.kadang sering marah sama ibu.

Di kamar kami berdua cuma diam dan air mata menetes. Ingin rasa nya segera pulang memeluk ibu dan bilang aq sayang banget sama ibu, meminta maaf atas semua kesalahanku terhadap beliau. Sempat aku malu pada diri sendiri, kenapa memandang sebelah mata sosok Sumarni, gadis kumal itu. Dia baik, tidak seburuk penampilannya. Bahkan dia gadis yg menginspirasi kami berdua. Menginspirasi untuk tetap bersemangat menghadapi hidup ini.

Senyum lebarnya, kepolosannya, keluguan dan secuil kisah hidupnya membuat kami terbuka. Senyum lebar itu memang senyum termanis yang pernah kami lihat. Senyum indah Sumarni bukan hanya ejekan yang selama ini keluar dari mulut teman-teman kami. Tapi buat kami berdua senyum itu memang senyum yang terindah.

***

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: