1 Komentar

Olenka dan Sukab – Cerpen Ikun Sri kuncoro

OLENKA[1] DAN SUKAB[2]

cerpen  ikun sri kuncoro

Namanya, Sukab. Lahir di Boston, … … … Tadinya, kukira seorang pembual. Nyatanya, bajingan.

Ia telah mencuri Olenka. Mendandaninya; menjadi penari telanjang. Mungkin ia pula yang membunuhnya setelah suatu malam ia jatuh cinta. (Email yang pernah ia kirimkan, menulis: “Suatu malam aku jatuh cinta[3] dan bla … bla … bla …; Suratnya yang lain mengabarkan: “Matinya seorang penari telanjang[4].” Dan bla… bla… bla…)

Semalam aku mendengar pengakuan Jane[5]; (Ketika ia menyebutkan namanya, aku jadi teringat Marno[6], orang udik dari Ngawi Jawa Timur, yang berselingkuh dengan bule perempuan bernama Jane, dan keder untuk ngenthot: menyeterika perempuan itu dan menggelarnya di pinggir ketinggian jendela apartemen sambil memandangi lampu-lampu kota Manhattan yang seperti seribu kunangkunang); “Dia bisa memegang tilpun. Omong ini dan itu sambil menggerincingkan kassa. Bukan hanya itu. Matanya juga main. Lalu dia meloncat menggambilkan bir. Kembali lagi dia omong di tilpun, sambil menari sementara pantatnya tetap di kursi. Dia masih juga sempat melucu.[7]

Tentu saja ketika Jane menceritakan itu aku belum percaya sepenuhnya. Malah ketika ia mengucapkan bagian: “Omong ini dan itu sambil menggerincingkan kassa”; yang terbayang olehku bukanlah Olenka tapi Peggy[8]. Apaboleh buat, di mataku, kelicahan itu adalah milik Peggy: … … … Peggy menuangkan kopi, Peggy menyambar donat, Peggy menekan mesin hitung, cring-cring, Peggy di mana-mana[9] … … … Tapi, apakah Peggy telah migrasi dari New York[10] ke Kirkwood Avenue[11], Bloomington[12]? Dari FluffyDonut Coffee House[13] ke kelab malam: [14]Nick English Hut? Apakah Peggy telah bercerai dari Bung Kakatua[15] lalu berpindah pada pelukan [16]Fanton Drummond? Dan mengganti namanya menjadi: Olenka?

Drummond Fanton masih menatap lekat wajah Jane. Sejam lalu kami berjabat tangan dan ia menyebutkan namanya, aku menyebutkan namaku. Dan di meja bar itu, di dekat Jane bekerja sebagai kasir, kami tak bercakap. Ia asyik dengan lamunannya, aku asyik dengan minuman dan asap rokokku. Sesekali, kami, saling melempar senyum basa-basi ketika sama-sama terpergok saling memperhatikan. Aku memang telah lebih dulu datang, melihat dan memperhatikan Jane menerima berkali-kali telpon yang menanyakan Olenka. Aku belum berani bertanya, mengapa begitu banyak orang ingin tahu Olenka? Aku masih menebak-nebak, siapa Olenka? Dan, Drummond Fanton, tiba-tiba telah menanyakannya.

Jane kemudian menebak, Fanton Drummond adalah orang baru sehingga tak tahu siapakah Olenka? Tapi instingku mengatakan, Drummond Fanton justru bagian dari orang lama, persis seperti orang-orang yang menelpon dan menanyakan kabar Olenka. Fanton Drummond, malah lebih dari itu. Ia pasti orang yang romantis dan menyukai tragedi. Aku menebaknya dari caranya meremas jari-jari tangan dan matanya yang sayu dan pasi. Ia berlagak tak tahu, tapi ketenangannya menandakan betapa tak ada yang perlu dicemaskan. Pernyataan dan pertanyaannya mengalir tertata. Dan yang paling membuatku jengkel, begitu percakapannya dengan Jane terjadi dia mengeluarkan HP dan menekan berkali-kali tombol lalu meletakkannya di meja, di antara kami: aku, dia, dan Jane. Dan yang aku duga: ternyata; ketika aku menggeser toples berisi bungkusan camilan sambil memperhatikan HP itu, dan mencoba menggesernya, dia sangat geragapan. Aku tersenyum mengangguk padanya. Matanya sesaat blingsatan. Aku segera mengalihkan pandangan ke arah minumanku dan tidak memperhatikannya. Tapi aku tahu, HP itu telah merekam segala suara yang berkisaran di sekitarnya.

Ketika percakapannya dengan Jane tertunda, Fanton Drummond mencoba mengajakku ngobrol. Ia mengaku seorang tekstolog yang bekerja secara independen. Punya kemampuan menulis, memotret, yang dijualnya pada rubrik-rubrik surat kabar. Dan yang mengagumkanku, ia juga seorang pemalsu lukisan. Dari pekerjaannya yang terakhir itulah ia bisa mendapatkan uang lebih untuk perjalanan-perjalanan yang disukainya. Ia pernah mengembara ke Kentucky, melawat ke Chicago, Aliquippa[17]; dan terdampar semalam di Indianapolis[18]: semacam selingan perjalanan[19] kalau aku mengingat selembar surat Sukab yang pernah diemailkan kepadaku tentang penjual sate Madura yang ditinggal minggat suaminya ke Kalimantan.

Dan di warung sate itu, lamunan Sukab justru berbalik kembali ke Jakarta, ke sebuah kelab malam tempat istrinya bekerja menjadi penyanyi. Sukab pernah sekali bersandiwara, di kelab malam itu bersama istrinya yang sebagai penyanyi. Istrinya harus mengaku belum berkeluarga atau bersuami, juga kepada bosnya. Ketika itu, Sukab bermaksud menjemput. Tamu lagi rame dan istrinya harus memberi jam ekstra untuk pekerjaannya. Sukab pun menunggu. Ia diberi meja dan disuguh minuman. Bos istrinya itu, entah siapa namanya, tiba-tiba mengakui kemampuan bernyanyi dan aksi panggung kakak Sukab. Cepat, Sukab pun harus berpura-pura menjadi adik istrinya. Itulah selingan perjalanan Sukab, atau bolehlah disebut semalam di warung sate Madura. Hampir mirip, tentu saja, pola dasar bangunan selingan perjalanan Sukab dengan semalam di Indianapolis.

Antara mendengarkan omongan Drummond Fanton dan teringat Sukab, Jane sudah kembali berceloteh. Fanton Drummond menghentikan omongannya ke arahku, wajahnya bergairah memperhatikan cerita perempuan bertubuh panjang yang menyukai bekerja di kelab malam karena lebih suka tidur siang[20] itu.

“Apakah dia suka melukis?[21] Tanya Fanton Drummond tentang Olenka.

Saya tidak pernah melihat dia melukis[22]” jawab Jane pendek. Wajahnya mendekat ke wajah Drummond, melangkahi meja, hingga tinggal sejengkal tangan. Fanton mengatupkan matanya. Entah apa yang dipikirkannya.                                                        

“Tapi kalau dia mau, tentu bisa” lanjut Jane. Kalimat panjangnya pun kemudian meluncur, “Tangannya dapat bergerak bagaikan tangan tukang sulap. Dia juga bisa menari mulai jam delapan sore sampai dengan jam empat pagi. Tanpa berhenti. Semangatnya tetap tinggi. Tanpa loyo. Pernah dia menari sampai kancingnya copot, zippernya bedah, bajunya robek, pantat celananya juga robek. Tapi dia masih bisa meloncat sampai ubun-ubunnya mencapai langit-langit. Kemudian dia melengkungkan tubuhnya di lantai. Tahu-tahu dia sudah melesat ke pangkuan seseorang. Kepala orang ini botak, kontan saja dipergunakan Olenka untuk tetamburan jari-jarinya. Orang ini tertawa terbahak-bahak. Mungkin orang ini ingin melihat wajah Olenka. Tapi karena matanya juling, yang dilihat jurusan lain. Pantas saja ketika dia mau mencium Olenka, yang dicium hanya angin. Sementara itu Olenka sudah melesat. Semua orang bertepuk-tangan gemuruh. Kalau dia menari, saya tidak tahu apakah dia mengikuti musik, ataukah musik mengikuti dia. Kalau musiknya yang mengikuti dia, tentu gerak-geriknya dapat melahirkan pencipta-pencipta musik. Yah, saya tahu semuanya karena saya mengintip. Itu, lho dari belakang sana. Kan di sana ada lobang, tokh? Nah, saya mengintip dari sana. Oho, pendeknya sampean jatuh cinta pada Olenka kalau sampean mengenal dia. Sekarang dia sudah pergi, sementara kelab malam sudah terlanjur laris. Maka saya naik pangkat, menggantikan dia.”

Aku mulai mengerti, dulu, sebelum menjadi kasir, Jane adalah pekerja dapur. Orang yang duduk di tempatnya adalah Olenka. Olenka membuat kelab malam ini: Nick English Hut, laris. Olenka kemudian pindah. Entah pindah ke mana. Jane, karena itu, menggantikan Olenka. Entah karena ia mengagumi Olenka, atau karena ia tahu cara kerja Olenka, ia ingin juga meniru Olenka menjalankan kerjanya.

Tiba-tiba, Jane, sambil menuang pesanan ke dalam gelas mengatakan, bahwa Olenka pernah rerasan akan pindah ke Chicago[23]

“Chicago?” sergap Fanton Drummond[24].

“Ya, Chicago. Oho, sampean akan ngluruk ke sana, ya?” 

Jane menutup mulutnya yang terbahak dengan dua tangan, hingga suaranya tak jadi keluar. Matanya melotot. Drummond Fanton tak memperhatikan. Wajahnya tertekuk seperti mencari ujung sepatunya yang hilang di gelap kelab malam.

Sedang aku, dengan yakin harus mengutuk Sukab.

Sukab adalah bajingan. Lebih dari sekedar pembual yang suka mengirimkan email aneh-aneh tentang orang-orang yang pada mulanya kupikir adalah orang-orang yang kebetulan ditemuinya. Aku yakin, ia, Sukab, telah pernah sampai di sini: di Nick English Hut, di Kirkwood Avenue, Bloomington; lalu menculik Olenka. Jika tanpa kekerasan, setidaknya, ia pasti telah mengibulinya. Sehingga Olenka tertarik, atau terpaksa tertarik dan bersedia ikut ke Jakarta.

Dan hampir pasti, di Jakarta, Olenka tak bisa menemukan pekerjaannya. Jika Jane benar, bahwa kalau mau, bisa saja Olenka melukis. Atau, mungkin Drummond Fanton pernah mengajarinya melukis dan memalsu lukisan sambil menidurinya, pasti tak ada karya lukisan yang bisa dipalsukannya dan laku di Jakarta. Siapakah pelukis Indonesia yang layak dipalsukan oleh orang bule? Raden Saleh, Basuki Abdullah, Sudjojono, Afandi, Agus Wage, FX Harsono? Sindrom postkolonialisme tentu tak bisa memberikan tempat kedua bagi orang bule. Tak mungkin penjajah memalsu lukisan seniman bekas terjajah. Atau, adakah orang Jakarta yang sudah bersedia atau mau membeli lukisan orang kulit putih? Bahkan, jika pun itu lukisan palsu?

Mau bekerja di kelab malam, pasti tak ada yang sanggup menjadikannya kasir. Sebagai kulit putih, lagi-lagi, dia harus diletakkan setara supervisor. Maka, pasti, Sukab telah mendandaninya. Sebagaimana ia bersandiwara bersama istrinya yang penyanyi kelab, ia pun bersandiwara dengan Olenka. Mungkin Olenka diakuinya keturunan Sunda, Solo, dan campuran Korea-Amerika, sebagai buyut-cicit dari orang-orang kreol yang pernah tinggal di wilayah Jawa atau Indonesia. Mungkin juga, Olenka didandani dengan pewarna kulit yang membuatnya berubah coklat.

Pengakuan Jane, bagiku, sungguh menteror: “Tangannya dapat bergerak bagaikan tangan tukang sulap. Dia juga bisa menari mulai jam delapan sore sampai dengan jam empat pagi. Tanpa berhenti. Semangatnya tetap tinggi. Tanpa loyo. Pernah dia menari sampai kancingnya copot, zippernya bedah, bajunya robek, pantat celananya juga robek. Tapi dia masih bisa meloncat sampai ubun-ubunnya mencapai langit-langit. Kemudian dia melengkungkan tubuhnya di lantai. Tahu-tahu dia sudah melesat ke pangkuan seseorang. Kepala orang ini botak, kontan saja dipergunakan Olenka untuk tetamburan jari-jarinya. Orang ini tertawa terbahak-bahak. Mungkin orang ini ingin melihat wajah Olenka. Tapi karena matanya juling, yang dilihat jurusan lain. Pantas saja ketika dia mau mencium Olenka, yang dicium hanya angin. Sementara itu Olenka sudah melesat. Semua orang bertepuk-tangan gemuruh. Kalau dia menari, saya tidak tahu apakah dia mengikuti musik, ataukah musik mengikuti dia. Kalau musiknya yang mengikuti dia, tentu gerak-geriknya dapat melahirkan pencipta-pencipta musik. Yah, saya tahu semuanya karena saya mengintip.” 

Ah, Sukab memang bajingan.

Pasti ia tak hanya mencuri atau menculik lalu mendandani Olenka. Pasti ia menidurinya. Mungkin, malah, memperkosanya dan merayu atau malah memaksanya menjadi penari telanjang. Dan ketika ia makin jatuh cinta, ia membunuhnya agar tak ada orang yang bisa memiliki Olenka.

Yogyakarta, 2011.


[1] Olenka adalah tokoh dan sekaligus judul novel karya Budi Darma.

[2] Nama ini beberapa kali digunakan oleh Seno Gumira Ajidarma sebagai tokoh dalam beberapa cerpennya.

[3] Judul cerita pendek Seno Gumira Ajidarma. Pernah di muat di Majalah Matra sebelum diterbitkan sebagai buku.

[4] Judul sebuah cerpen Seno Gumira Ajidrama dalam kumpulan Manusia Kamar. Kemudian digubah menjadi skenario (diekranisasi), dari skenario itu tampaknya dibesut lagi menjadi sebuah novel-pendek, dan dijadikan judul dalam kumpulan yang baru menggantikan Manusia Kamar.

[5] Jane adalah nama salah satu tokoh di dalam novel Olenka. Dalam cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Umar Kayam juga menggunakannya sebagai nama tokoh.

[6] Pasangan tokoh Jane dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan.

[7] Dialog Jane. Olenka (PN. Balai Pustka, 1983. Hal: 102)

[8] Peggy adalah tokoh cerpen Secangkir Kopi dan Sepotong Donat karya Umar Kayam.

[9] Satu kalimat panjang Umar Kayam dalam Secangkir Kopi dan Sepotong Donat.

[10] Kota yang menjadi latar cerpen Umar Kayam, Secangkir kopi dan Sepotong Donat.

[11] Nama tempat yang menjadi latar kelab malam tempat Olenka bekerja.

[12] Kota yang menjadi salah satu latar cerita Olenka.

[13] Tempat Peggy (tokoh dalam Secangkir Kopi dan Sepotong Donat), bekerja

[14] Tempat Olenka (tokoh dalam novel Olenka), bekerja.

[15] Pacar Peggy (Secangkir Kopi dan Sepotong Donat).

[16] Salah satu pasangan selingkuh Olenka, yang sekaligus menjadi “aku naratif” di dalam novel.

[17] Judul-judul bagian cerita Olenka karya Budi Darma.

[18] Masih sebuah judul dari bagian cerita Olenka karya Budi Darma.

[19] Selingan Perjalanan adalah salah satu judul cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan  Manusia Kamar. Dalam cerpen aslinya: Selingan Perjalanan, nama Sukab tidak hadir sebagai tokoh. Akan tetapi adegan cerpen tersebut memang sebuah warung sate Madura, dan sebuah kelab malam Jakarta.

[20] Cetak miring kalimat ini menunjuk pada deskripsi asli dari Budi Darma untuk Jane. (Lihat Olenka, hal: 101)

[21] Kalimat tanya ini milik Fanton Drummond. (Lihat Olenka: hal. 103)

[22] Dialog Jane, yang saya beri cetak miring pada bagian ini dan seterusnya adalah asli milik Jane. (lihat Olenka, hal: 103)

[23] Kalimat tidak langsung (bagian cetak miring) dari Jane ini dipetik dari Olenka. Hal: 103.

[24] Pada novel Olenka pertanyaan Fanton Drummond tidak disertai deskripsi mengenai tokoh yang bicara, sebagaimana jawaban Jane.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

One comment on “Olenka dan Sukab – Cerpen Ikun Sri kuncoro

  1. tulisan anda menarik sekaligus melelahkan, mengingatkan saya akan sebuah novel yang ditulis orang Rusia warganegara Amerika yang berjudul LOLITA. sekali lagi saya suka membacanya tetapi tak pernah selesai sekali baca. salam kenal dari saya Bintang Rina . selamat dan teruslah berkarya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: