Tinggalkan komentar

Sebuah Pertukaran – Cerpen Endah Raharjo

SEBUAH PERTUKARAN

Cerpen Endah Raharjo

Rasanya aku tertimbun gunung. Jelas itu metafora yang berlebihan, sebab gunung bisa menimbun kota dan aku yakin di kota ini hanya aku yang merasa begitu. Berjuta bayangan buruk menabrakku. Antara tertimbun gunung dan tertabrak jutaan bayangan, sungguh sulit kugambarkan perasaanku.

Pertama kali bertemu Wisnu, aku seakan anak ingusan yang mencoba ciu: mabuk. Saat kami berjabat tangan, jantungku berhenti bekerja, terhunjam sorot mata dan senyumnya. Aku yakin tidak sendiri. Tanpa mengedarkan pandangan, aku tahu semua perempuan di ruang rapat serentak memperbaiki posisi duduk mereka. Rapat pembahasan rencana kerja sama antara dua perusahaan itu tiba-tiba jadi ajang perebutan perhatian.

Di kantorku ini, sebagai lajang 39 tahun – dan sangat ingin menikah – aku bagai ikan tua kegemukan di dalam akuarium kecil. Ketika Wisnu mendekatiku, ia kusambar begitu saja, khawatir akan dikerumuni oleh ikan-ikan muda bersirip warna-warni yang doyan dan melahap apa saja yang melayang di sekitar mereka.

Di hati teman-teman kantor – yang perempuan – bersemi dengki. Ada yang menuduhku menebar guna-guna. Ada yang menyindirku pasang susuk. Ada yang percaya aku membeli cintanya dengan proyek kerja sama. Lelaki setampan itu musykil jatuh ke pelukan perempuan sepertiku, pikir mereka. Namun aku tengah berenang dalam sungai madu, jadi derasnya gosip dan tudingan itu tak menenggelamkanku.

Setahun kurang tiga hari dari saat perkenalan, kami menikah secara sederhana di masjid kecil di ujung jalan. Bukan aku yang tergesa, namun Wisnu. Katanya ia telah menemukan belahan jiwanya. Mungkin, beginilah cara Tuhan menambal luka hatiku karena terlalu lama menunggu cinta. Saat itu aku merupa putri cantik paling beruntung di muka bumi. Orang tuaku tak henti-henti memanjatkan doa syukur karena anak gadisnya yang disangka bakal sendiri akhirnya menemukan pasangan.

Belum genap enam bulan menjadi suami istri, sesuatu mulai mengganggu kebahagiaanku. Wisnu kerap pulang larut malam. Aku tahu ia sibuk mengurusi tiga proyek pembangunan hotel, yang dituntut selesai sebulan sebelum sebuah hajatan internasional digelar di kotaku. Namun aku tak suka membukakan pintu untuknya diiringi kokok jago tetangga.

“Itu karena dia sangat sibuk, Dien. Kamu gelisah karena bawaan bayi,” hibur ibuku sewaktu aku mengeluh.

Ya. Bisa jadi Ibu benar. Kehamilanku mungkin memicu perubahan hormon di tubuhku. Membuatku sensitif. Mudah curiga. Cengeng. Manja. Dan hal-hal feminin semacam itu.

“Aku ingin anak kita hidup sejahtera, Dien,” ujar Wisnu.

Kuputuskan memercayai kata-kata Wisnu. Sebagai staf baru yang ditugaskan mengawasi konstruksi, dia ingin menunjukkan prestasi prima di perusahaannya, agar cepat naik jabatan. Apalagi ia tak berubah sikap terhadapku. Bila mau, dengan kelebihan fisiknya itu, pasti sudah dari dulu-dulu ia merenteng perempuan. Mengapa harus menunggu beristri dulu, pikirku.

Sabtu dini hari. Kubiarkan Wisnu mengetuk pintu depan berkali-kali. Kulirik jam bundar di atas meja rias: pukul 1.16. Sengaja aku berlama-lama bangkit dari tempat tidur. Punggungku terasa pegal. Sebelum berangkat kerja, sudah kupesan agar dia membawa kunci rumah. Tapi dia tidak mau. Katanya, hal pertama yang ingin dia lihat ketika pulang adalah wajahku. Ah. Dia memang pintar merayu.

“Kalau Sabtu ini lembur lagi, bawa kunci rumah. Aku mau nginap di rumah Ibu,” sungutku, membuka pintu.

Wisnu merespon dengan rangkulan sembari mengangsurkan bungkusan. Dari aromanya aku tahu isinya: mi jawa.

“Aku nggak lapar. Perutku mual.”

“Ini ditaburi rajangan cabe ijo,” bujuknya, memamerkan senyum yang melumerkan kejengkelanku.

Calon ayah anakku itu lalu menuju ruang makan yang jadi satu dengan dapur. Membasuh tangan dan mukanya di wastafel. Berikutnya, kami menikmati mi goreng diiringi cerita tentang kesibukannya di proyek dan repotnya menjamu tetamu penting dari Jakarta.

Kejadian semacam itu berulang, beberapa kali seminggu. Kadang ia membawa wedang ronde, kadang sate, kadang jadah bakar. Ia berkilah bisa menebak keinginan si jabang bayi. Caranya itu sungguh majas. Selain tak marah, aku bertambah cinta.

Kurutuki kecengenganku. Ketampanannya itu bagai bahan bakar yang menyalakan cintaku sekaligus mengobarkan api cemburu. Aku jadi merasa rentan, belingsatan tanpa alasan. Meskipun aku terbiasa mandiri, jarang diserang ragu setiap memutuskan perkara penting di kantor, namun aku melemah saat berhadapan dengan suami di rumah.

Suatu sore, Wisnu pulang lebih awal. Aku masih memimpin rapat divisiku ketika ia mengirim pesan. Seusai rapat aku buru-buru pulang, ingin santai berdua sambil mendengarkan musik, seperti hari-hari awal pernikahan kami dulu.

Wisnu sedang mandi ketika aku masuk ke rumah. Kulihat ponselnya tergeletak di atas tempat tidur. Tiba-tiba, sesosok setan yang sabar mengeram di hatiku selama berminggu-minggu menggeliat. “Intip isinya,” bisiknya, langsung ke gendang telingaku.

Tubuhku beku. Janinku yang sesorean bergerak-gerak ikut kaku. “Cepat! Lihat isinya!” bisikannya berubah perintah. “Ayo! Sebentar lagi dia selesai mandi!” hardikan itu menggerakkan tanganku. Kujangkau ponselnya. Kubaca pesan-pesannya.

Rasanya aku tertimbun gunung.  Jelas itu metafora yang berlebihan, sebab gunung bisa menimbun kota dan aku yakin di kota ini hanya aku yang merasa begitu. Berjuta bayangan buruk menabrakku. Antara tertimbun gunung dan tertabrak jutaan bayangan, sungguh sulit kugambarkan perasaanku.

Kurebahkan tubuh penatku ke tempat tidur. Kuletakkan kembali ponselnya ke tempat semula. Kukatupkan mataku.

“Kamu kenapa, Dien? Capek, ya?” Kurasakan tangan Wisnu memijat telapak kaki kiriku. Aroma lidah buaya menguar dari tubuhnya.

Gunung itu makin menekanku. Jutaan bayangan buruk itu mengejarku.

***

Aku punya banyak waktu sebelum Wisnu pulang. Kukeluarkan semua isi laci meja kerjanya. Kubongkar barang-barang pribadinya, termasuk kotak-kotak sepatu. Kubuka semua yang ada tutupnya, yang bisa untuk menyimpan sesuatu. Aku ingin tahu siapa perempuan yang berinisial HS yang saling bertukar pesan-pesan mesra, cenderung cabul, dengan suamiku. Hasilnya nihil.

***

Seminggu sejak itu semua tampak jungkir balik. Amarah, sakit, malu, benci, dan penasaran – juga jijik – silih berganti menyerbuku. Bisa kurasakan cemooh yang bakal dilemparkan basah-basah ke wajahku oleh teman-teman perempuan di kantorku, juga di kantornya. Sementara kuputuskan menelan semuanya sendiri. Aku tak mau jantung Ibu melemah bila mendengar kabar buruk ini. Kalau bukan karena jabang bayi di rahimku, aku pasti sudah menenggak obat agar bisa terlelap di malam hari.

Oleh-oleh Wisnu yang ia sodorkan tiap pulang larut malam tak lagi kunikmati. Kupaksa ia membawa kunci. Aku tak mau menyambut suami sepulangnya dari meniduri perempuan lain. Wisnu tak menyadari perubahan sikapku. Bisa jadi ia mengira itu hanya akibat kehamilanku.

Dari salah satu pesan yang dikirim HS ke ponsel Wisnu, aku tahu mereka telah berhubungan lama. “Kita ketemu di kamar 322. Kamar pertama yang kita tempati 10 th lalu. Masih ingat, kan?” Kuhapal luar kepala pesan itu.

Sepuluh tahun. Bukan waktu singkat. Mereka sudah berhubungan lama sebelum Wisnu mengenalku. Mengapa mereka tidak menikah saja? Aku tahu jawabnya: HS pasti sudah bersuami.

***

Minggu kedua sejak kubaca pesan-pesan cinta di ponselnya, aku tak tahan lagi. Kuputuskan cuti beberapa hari untuk membuntuti Wisnu. Sampai aku tahu siapa perempuan berinisial HS itu.

Hari pertama tak kulihat sekalipun ia bersama perempuan. Menjelang pukul 8 malam, ia keluar proyek bersama atasannya, menuju sebuah café. Meskipun perutku terasa hampir kram, dan bayi di rahimku tak bergerak sejak sore, kutunggu mereka di luar. Kuparkir mobilku kira-kira 10 meter di belakang mobil Wisnu.

Tak sampai sejam kemudian mereka keluar. Kerlap-kerlip hiasan pintu depan café dan temaram lampu jalan menambah rona ceria wajah Wisnu. Pak Miko – atasannya yang tinggal di Jakarta dan menengok proyeknya di Jogja beberapa kali seminggu itu – tertawa-tawa.

Mobil suamiku meluncur ke selatan pelan-pelan. Untung lalu lintas sudah lega, jadi aku bisa mengekor dengan leluasa. Wisnu berbelok ke sebuah hotel bintang lima. Sejenak aku kebingungan. Ia pasti akan memergokiku kalau aku masuk ke halaman hotel tepat di belakangnya. Kuputuskan parkir di seberang jalan.

Sambil melintasi jalan otakku kupaksa terus bekerja. Menebak-nebak apa yang hendak dilakukan Wisnu selanjutnya. Mungkinkah pacarnya menunggu di hotel itu? Mengapa menemuinya bersama Pak Miko? Atau ia baru akan menemui pacarnya sehabis mengantar bosnya?

Sehabis diperiksa satpam, mobil Wisnu langsung masuk ke basement, tidak diparkir di halaman depan.

Ragu-ragu kumasuki lobi bersamaan dengan putaran otakku yang menumbuk sesuatu. Sebuah nama: Hadi Sujatmiko. Nama lengkap atasan suamiku. Tenggorokanku seolah tersumbat bola pingpong. Tengkukku mengejang.

***

Tak ada rasa bersalah atau tanda-tanda semacam itu di wajah Wisnu. Kami hanya diam, duduk di ruang tamu rumah kami, sesekali saling memandang. Kokok ayam jago tetangga tak lama lagi akan disusul suara adzan.

Wisnu seperti sudah tahu, cepat atau lambat saat ini akan tiba. Aku, istrinya, akan memergoki perilakunya.

“Mengapa kamu menikahiku?” Keluar juga pertanyaan itu dari mulutku yang kering dan lengket. Sekuat tenaga kubancang amarahku.

“Aku ingin punya keluarga, punya anak, seperti umumnya laki-laki. Aku ingin tampak normal di mata keluargaku. Kamu butuh suami dan aku tahu kamu putus asa ….” Senyumnya menjelma seringai. “Kupikir ini pertukaran yang adil. Kita sama-sama punya kelemahan. Saling membutuhkan. Sekarang kita sama-sama mendapatkan yang kita maui. Menurutmu?” Suaranya serupa kapas: halus, ringan, bersih. Seolah perbuatannya itu mulia.

Luar biasa lelaki yang kunikahi ini. Ia memang sudah mempersiapkan semuanya. Ia memilihku jadi istrinya, perempuan yang dicap perawan tua. Ia yakin aku tak bakal menolak.

Harga diriku tercabik. Pertukaran gila ini harus cepat-cepat kutampik.

“Aku akan ke rumah Ibu. Hanya barang-barang penting saja yang kubawa. Pakaian. Buku. Dokumen. Sisanya akan kuambil nanti setelah urusan perceraian kita beres.”

“Dien? Apa kita ….”

“Jangan kuatir. Ini tetap anakmu.” Kuelus bulatan perutku. “Nanti kita bahas lagi. Aku harus segera ke rumah Ibu.”

Aku berdiri. Wisnu menatapku.

***

 

 

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: