Tinggalkan komentar

Cerpen – Catatan Achmad Munjid

CERPEN

Catatan Achmad Munjid

Di awal tahun 1990-an, sewaktu nasib kuliahku di Fakultas Sastra UGM seperti ‘kerakap tumbuh di batu’, setiap hari kesibukan utamaku hanyalah ngobrol kesana-kemari, sedikit membaca dan banyak menulis, terutama cerpen (cerita pendek). Karena aku hanya bisa menyewa kamar kos di daerah yang paling murah dekat Pesantren Wahid Hasyim di pelosok kampung Gaten yang  berjarak cukup jauh dari kampus, aku lebih sering tidur di Fakultas Sastra atau menumpang pada seorang teman di sekitar Bulaksumur. Yang penting, di sana aku bisa pinjam mesin ketik pada siapa saja yang mau berbaik hati, entah di pagi buta atau lewat tengah malam, ketika sang pemilik tidak memakainya. Seminggu bisa kutulis sampai enam cerpen dengan tema apa saja yang hinggap di kepala. Sampai-sampai ada sebagian temanku yang agak curiga kalau aku dekati, “takut di-cerpen-kan”. Biasanya yang begitu itu adalah mereka yang sebagian kisah dirinya mungkin ingin ditutup-tutupi karena suatu alasan. Tapi ada juga yang sepertinya sengaja mendekatiku dan bercerita tentang liku-liku hidupnya, biar “kucerpenkan”.

Setelah selesai menulis, segera kukirim tulisanku kemana saja, ke semua koran yang punya lembar sastra untuk edisi hari Minggu. Tentu saja, sebagian besar tulisan-tulisan itu terutama kukirim ke koran di Jogja, karena aku bisa mengantarnya langsung ke kantor redaksi dengan naik sepeda atau pinjam motor seorang teman dan tak perlu keluar uang untuk beli perangko. Saking rajinnya kirim tulisan, kudengar ada seorang redaktur budaya koran di Jogja yang jengkel padaku. Tulisan yang kemarin belum sempat dia baca, sudah kukirim tulisan lainnya, bahkan sering sampai dua judul pula. Biar saja, itu masalah dia. Urusanku adalah menulis dan mengirimkannya.

Setiap hari Minggu tiba, dengan dada berdebar-debar, ketika seantero UGM masih berselimut kabut, aku langsung menggenjot sepeda onta andalan hidupku satu-satunya ke pangkalan loper koran di boulevard kampus untuk mengobrak-abrik semua koran yang datang. Tujuanku cuma satu: mencari tulisanku sendiri. Kadang pedagang koran itu jelas terlihat dongkol juga, karena semua koran kuacak-acak. Padahal aku hampir tidak pernah membeli satu eksemplar pun. Apalagi, orang-orang sejenisku di boulevard UGM itu jumlahnya tidak sedikit. Untuk informasi saja, bagi banyak penulis ketika itu–dan mungkin juga sampai sekarang–sebuah koran itu penting dan harus dibaca, kalau perlu sampai berulang-ulang, ketika tulisannya dimuat di sana. Kalau tidak, tidak ada koran yang penting dan tidak ada tulisan yang bermutu. Semua sampah!

Tapi sungguh sialan, dari ratusan tulisan yang kubombardir ke setiap koran di mana-mana, tulisanku jarang sekali keluar. Padahal aku sudah mengerahkan segenap kemampuanku sekuat tenaga, sepanjang hari, sepanjang malam. Sedang nyawaku masih bisa bertahan sampai hari itu tidak lain karena kebaikan para penjual di kantin Sastra yang mengijinkan aku untuk “mencatat” setiap habis makan. Harapan satu-satunya untuk menebus “hidup yang tergadai” itu adalah honor tulisan. Kalau cuma ada satu tulisan yang keluar dalam setiap satu, dua, bahkan tiga bulan, harus kemana kubuang mukaku ketika perut lapar? Makanya, lebih sering aku pulang dari boulevard UGM di hari Minggu seperti itu dengan mengumpat-umpat dan dada yang sesak dan panas. Aku akan merasa sedikit lebih baik kalau sudah mengisi perut entah di mana dan dengan cara apa serta kembali sibuk menulis untuk pertaruhan hari Minggu berikutnya.

Karena nama penulis yang kerap muncul di koran-koran cuma berputar-putar yang itu-itu juga, akhirnya aku benar-benar curiga. Ini pasti ada kongkalikong antara redaktur sastra dan penulis yang sudah punya nama. Aku pun segera punya gagasan cemerlang. Akan kutulis cerpen sebanyak-banyaknya dan kukirimkan tulisan itu dengan menggunakan nama-nama mereka yang dianggap besar: Umar Kayam, Putu Wijaya, Hamsad Rangkuti, Budi Darma, Ikranagara, Danarto, Seno Gumira Ajidarma, dll. Kalau nanti dimuat, aku akan teriak sekeras-kerasnya: “Kalian memang brengsek. Memuat karya bukan atas pertimbangan kualitas, tapi karena mitos palsu yang dibikin-bikin sendiri dan ditempelkan pada nama-nama yang bisa dipakai sebagai barang dagangan. Kapitalis rakus, yang dihitung cuma bagaimana menjual komoditas! Bagaimana kita akan punya karya sastra yang bermutu kalau para pelakunya adalah penipu?!”

Tapi sebelum aku sempat mewujudkan gagasan cemerlang itu, suatu kebetulan (lebih tepatnya mungkin: kebenaran) terungkap. Beberapa minggu kemudian, salah satu cerpenku, berjudul Kisah Seorang Lelaki Tua dimuat secara serentak di empat koran yang berbeda. Tadinya aku kirim cerpen itu ke sebuah koran di Jakarta. Setelah menunggu berbulan-bulan tidak ada kabar, aku ketik ulang dan kukirim cerpen itu ke koran lain di Bandung. Lama juga tidak ada kabar beritanya. Sambil mengirim cerpen baru lainnya, kukirim tulisan itu ke koran yang berbeda di Surabaya. Jancuk….! Juga tetap tidak ada tanda-tanda. Sambil terus menulis dengan membabi-buta, akhirnya kukirim cerpen itu bersama entah satu atau dua cerpen baru lainnya sekaligus ke sebuah koran di Jogja. Ternyata, cerpen yang kukirim ke koran di Jakarta, Bandung dan Surabaya itu dimuat pada saat yang bersamaan dengan pemuatan cerpen itu oleh koran di Jogja.

Hari itu aku pulang dari boulevard UGM dengan dada yang membusung hingga nyaris meledak. Kubeli empat koran paling penting yang memuat cerpen paling bermutu itu hingga uang di dompetku nyaris tanpa sisa. Aku segera meluncur di atas sepedaku dan ingin cepat-cepat kuumumkan ke segenap penjuru: kalian wajib membaca cerpen terbaik yang baru terbit hari ini! Tak kupedulikan cercaan teman-teman penulis lain yang menyumpahi dan mencaci-makiku sebagai penulis yang tak punya etika.

“Kalian cuma iri, bisanya hanya menghujat!,” bantahku. “Kalau ada empat koran yang memuat satu karya sekaligus, itu adalah bukti yang tak bisa dibantah oleh siapapun bahwa karya itu bermutu. Catat itu! Siapa yang bisa menandingi apa yang kulakukan hari ini, akan kutraktir sampai busung!” Aku pergi meninggalkan boulevard kampus dengan terbahak sekeras-kerasnya, hingga suaraku menggema mencapai puncak Merapi yang menjulang tinggi di sebelah utara kota. Mentari pagi di atas pucuk-pucuk cemara boulevard UGM kurasakan hangat berpendar-pendar turut merayakan kemenanganku. Minggu-minggu itu, kemana pun aku pergi, aku merasa semua orang membicarakanku. Senyum gadis-gadis di Fakultas Sastra jadi terlihat beda. Rambutku yang panjang berkibar-kibar seperti hendak mengajak tubuhku yang kerempeng terbang melayang-layang.

Walhasil, selain untuk mentraktir teman-teman penulis lain biar sikap mereka kembali normal dan tidak terus-menerus mencibirku sinis, honor tulisan itu bisa kubelikan komputer ‘jangkrik’, sebuah benda ajaib yang sebenarnya aku sendiri belum tahu persis bagaimana cara mengoperasikannya. Dengan komputer itu, aku makin kencang menulis. Kutulis apa saja yang tertangkap dalam obrolan, dalam diskusi, dari apa yang kulihat; dari rintik hujan, otak yang membusuk, skripsi, perselingkuhan, tiranisme, kiamat; apa saja. Aku tak mau berpikir soal kuliah, kecuali di akhir semester, ketika aku harus mendaftar ulang untuk bisa memperoleh kartu mahasiswa dengan tanda tangan rektor UGM yang entah sudah berulang kali ganti. Lagi pula, lulus dari Fakultas Sastra, mau jadi apa?

Tidak mengapa empat koran yang serentak memuat cerpenku itu rupanya kemudian memasukkan aku ke dalam “daftar hitam” penulis yang dicekal. Toh masih banyak koran-koran lain. Dunia tidak selebar daun kelor! Tak ada yang bisa menghentikan aku menulis dan tak ada yang berhak merampas kemerdekaanku untuk menentukan bagaimana menghargai karyaku sendiri. Asal masih ada koran yang mau memuat dan aku bisa makan, tidak jadi soal. Jangan pernah tunduk pada aturan kaum pemilik modal! Berkilo-kilo tulisan yang kubuat bisa kusimpan sendiri atau kupamerkan pada orang-orang tertentu, yang aku kehendaki. Syukur-syukur kalau ada gadis cantik yang terpikat.

Kutulis semua yang melintas. Kutulis semua yang terpikir, juga yang semula tak terpikir atau tak boleh dipikirkan. Kutulis semua yang mungkin dan apa yang dianggap mustahil. Kadang kutulis suatu kisah menjadi beberapa cerpen dari sudut yang berbeda, puisi dan naskah drama sekaligus, seperti Nyai Ludirah yang kemudian dipentaskan oleh Sanggar Shalahuddin UGM dan lalu juga dibajak oleh sebuah kelompok teater entah apa dalam suatu pementasan di Taman Budaya Surakarta. Sebagian teman mendorongku untuk mengusut apa yang mereka sebut sebagai kasus pelanggaran hak cipta itu. Tapi aku tak mau. Aku tak ambil pusing, buang-buang tenaga dan waktu. Kalaupun aku labrak sampai pelakunya bertekuk lutut, terus mau apa? Maling pikiran tak akan pernah besar. Cepat atau lambat ia akan mampus digerogoti penyakit kerdilnya. Biar saja. Beberapa koran juga tak mengirimiku honor tulisan. Setelah kutagih atau kusumpahi dan kukutuk seperlunya, segera soal itu juga tak lagi kupedulikan. Aku hanya mau terus menulis.

Sekarang, lebih dari dua puluh tahun kemudian, aku sudah jarang menulis karya sastra kecuali sekali-sekali saja, karena kesibukanku sudah berbeda. Kecuali beberapa teman dekat dan segilintir orang yang setia mencatat perkembangan dunia kesusasteraan Indonesia, mungkin tidak ada lagi yang mengingatku sebagai seorang penulis cerpen. Dengan segala pergumulan itu, betapapun aku memang tak pernah benar-benar menjadi seorang cerpenis maupun penyair seperti sebagian temanku yang kekeraskepalaan cintanya pada dunia itu sungguh luar biasa. Aku tak pernah menjadi bagian penting di dunia itu, tapi kesusasteraan jelas adalah bagian amat penting dari hidupku. Begitu banyak aku belajar dan mendapat tempaan melalui dunia sastra, juga dari pribadi-pribadi yang demikian setia pada pilihan hidupnya di sana. Kini, justru ketika aku tak lagi punya waktu, beberapa redaktur koran kadang meminta tulisanku. Tentu saja, aku tak sanggup memenuhinya.

Apa boleh buat.

Seperti kenangan para mantan kekasih yang terpaksa saling berpisah, pergumulanku dengan dunia sastra menyimpan begitu banyak makna. Dengan pergumulan pada tahun-tahun itu, kurasa aku termasuk orang yang beruntung, mungkin bahkan bahagia;)

Leiden, 26 Maret 2012

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: