Tinggalkan komentar

Kematianku Hampir Menjemput – Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

KEMATIANKU HAMPIR MENJEMPUT

 Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

Kembali tanganku bergerak lincah, mengulek sambal, meski tidak sekuat dulu. Aroma lombok mentah dan bau khas terasi menyeruak memengarkan hidung menggelitik selera. Asap hitam bergulung ditingkah suara gemrengseng ikan basah terpanggang panasnya wajah yang menandai aktivitas rutin kehidupan seorang wanita, ibu rumah tangga.

Berpuluh-puluh kali, bahkan beratus kali, kenyataan hidup seperti itu harus kujalani, kuterima sebagai seorang wanita, ibu dari anak-anakku dan istri bagi suamiku. Aku tidak tahu, apakah rutinitas semacam ini juga dialami oleh semua kaumku?! Ah………. kenapa aku harus bertanya lagi. Untuk apa? Toh nyatanya semua kujalankan, kukerjakan dengan baik. Suamiku menganggap aku wanita ideal sebagai ratu rumah tangga dan anak-anakku merasa bangga dengan hasil masakan yang kusuguhkan kepadanya.

Klop sudah. Lalu kenapa saat ini aku menanyakan lagi perananku? Apakah aku tidak puas dengan penghormatan dari mereka? Aku sendiri bangga setelah bersusah payah membesarkannya, mendidiknya hingga mereka dapat mandiri seperti sekarang. Bahkan di antara anakku yang wanita menyandang title kesarjanaan. Mestinya aku patut bersyukur atas anugerah yang besar ini.

Rasanya aku seperti telah berbuat munafik dengan bertanya begitu. Tapi …. Hati ini senantiasa berbisik dan aku tak ingin mengingkari apa yang tengah bergolak di sana. Tidak! Aku tak sanggup berlaku demikian terus menerus, meskipun aku sendiri sebenarnya tak menginginkannya. Lantas apa sebenarnya yang kumauui? Aku tak tahu. Aku tak mengerti. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari diriku. Tapi apa…….?

Suara-suara itu selalu  berdengung, lebih-lebih pada saat aku sedang sendiri. Pada saat seperti itu aku  berdialog, bercengkerama, bercanda dalam sunyi. Kesunyian yang membawaku dalam damai, tenang serta asyik. Keasyikan yang kudamba yang tak pernah kutemukan dalam kehidupanku selama ini. Tidak juga bermesra bersama suami di kala muda dan tidak pula saat menimang cucuku.

Ah……… kehidupan memang aneh. Pada saat orang menginginkan suatu upaya sebagaimana yang kulakukan terhadap keluargaku, aku justru tengah menanyakan apa yang pernah kukerjakan. Ada yang tidak aku mengerti tapi aku kerjakan dan ada pula yang aku mengerti tapi aku tak sanggup melakukannya. Keadaan semacam itu telah berlaku bertahun-tahun sampai kematian hampir menjemput.

Dulu ………… Sewaktu Mas Rudiana meminangku, hati kecilku bersorak, senang, karena saat itu adalah awal dari realisasi cinta kasih kami yang menyatu secara utuh, konkret, terestui sebagaimana adat yang berlaku. Kala itu aku membayangkan suatu kehidupan yang penuh keindahan, kemesraan, ketentraman serta damai. Khayalku pun melambung, membumbung menjenguk indahnya surga loka di kedalaman cinta kasih yang belum pernah kunikmati dan senantiasa dalam belaian mesra tanpa beban. Akan tetapi, setelah peresmian, pesta ria pernikahanku, aku tersadar dari lamunan panjang seorang gadis dungu.

Apalagi setelah mendengar petuah Wak Haji Lubis dalam tutur, pernikahan yang terasa mendoktrin bagai sampur kasat mata yang membelit, mengikat kesempurnaan prasyarat perkawinan. Aku semakin tergugah bahwa perkawinan bukanlah apa yang kubayangkan sebelumnya. Detik itu pula hatiku bertanya, mampukah aku sebagai aku memerankan diri dalam kehidupan sebagai kami, sebagai kita nantinya?!

Empat puluh lima tahun lebih berselang. Suatu kurun waktu yang panjang. Cucu pun berturut-turut lahir. Kehidupan keluarga pun telah mapan, bahkan berlebih. Mestinya, aku selaku orang tua, dan telah menyandang predikat nenek, layaklah berbahagia mendapati kenyataan hidup semacam itu. Ucap syukur pun tentunya mengalir tak henti dari hati dan bibir sebagai hamba yang berTuhan. Yah…….. setiap saat itu kulafalkan dan tak pernah kering dari bibirku.

Namun pada senja usiaku, saat aku berkesempatan berdialog dengan diriku sendiri setelah tugas keistrian dan keibuan hampir pungkas meski belum berakhir, aku dapati diriku terasing, tersisih dari diriku sendiri. Aku merasa kehilangan jati diriku yang paling fitri, yang merupakan aku sebagai aku, bukan aku sebagai istri ataupun ibu. Walaupun kenyataannya satu, aku sendiri.

Pada saat berdialog dengan diriku, hatiku bergemuruh emosi kewanitaanku menggelepar, seluruh jiwa ragaku bergetar menahan badai yang menghempas, mengguncang nuraniku, menyibak kedek yang selama ini menghijabi diri. Aku pun tersadar dari ketiduran yang melenakan. Air mataku tercucur, meski tak berarti. Kenapa semua itu terjadi? Mengapa aku tak sanggup berlaku sebagai diriku sendiri? Mengapa? Mengapa?

Tidak salah bunda mengandung, buruk suratan tangan sendiri. Memang! Semua ini gara-gara aku sendiri. Aku terlampau berkeinginan untuk memiliki mereka. Memiliki suamiku, memiliki anak-anakku. Akhirnya aku harus merelakan kehilangan diriku sendiri. Kehilangan kepribadianku sebagai istri dan ibu. Tindakanku selama ini tidak lebih dari bayangan suamiku dan pelayan anak-anakku. Inikah yang dikatakan pengorbanan, kesetiaan, kasih sayang kepada suami dan anak-anak? Atau suatu mediasi bunuh diri secara lambat? Membunuh kepribadian kewanitaanku selaku wanita yang menyedihkan.

Ternyata, aku salah dalam menafsirkan makna perkawinan, keliru dalam mengartikan kebahagiaan, meleset dalam mengejawantahkan pemilikan dan gagal dalam mengekspresikan kasih sayang. Bagaimana aku dapat memiliki bila diriku lebur? Bagaimana aku berbahagia bila diriku hanya sebagai bayangan? Bagaimana aku dapat mengasih-sayang jika diriku tidak exist sepenuhnya?

Aku benar-benar terkejut  di kala menemukan diriku yang terlempar, tersisih, terkucil  dalam keterasingan. Apa harus dikata, semua telah terjadi, kualami. Biarlah. Untuk kesekian kalinya aku memaklumi. Memaklumi diriku sendiri.

Ya……….. lagi-lagi aku dipaksa untuk mempermaklumkan kenyataan hidup, yang bukan dalam mimpi. Dan tidak pula dalam lamunan. Mempermaklumkan berarti mengerti, memahami dan menerima kenyataan sebagaimana adanya, secara jujur, meskipun kadang terasa pahit, getir, namun harus tertelan juga. Inilah hidup. Inilah kehidupan. Kehidupan seorang wanita dalam suatu keluarga. Mungkin ini sudah suratan taqdir. Atau aku hanya seorang wanita!

Lega rasanya setelah Yoppy tidur. Anak itu selalu begitu menjelang tengah hari. Rewel, ada-ada saja yang dimaui. Persis seperti ibunya sewaktu kecil. Lagi-lagi aku harus memaklumi, harus mengerti. Itulah kehidupan. Kehidupan suatu keluarga. Setidak-tidaknya yang kualami.

***

*) Penulis adalah cerpenis dan penyair, yang bergabung dengan komunitas sastra kalimalang, Bekasi. Tinggal di Jakarta, karya-karyanya sudah banyak dimuat di beberapa media massa.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: