1 Komentar

Cinta Tertunda dari Seberang Kelenteng Tua – Cerpen Selsa Rengganis

CINTA TERTUNDA DARI SEBERANG KELENTENG TUA

Cerpen Selsa Rengganis

Terbayang dulu saat aku sering menemaninya mencari bunga menur di samping kelenteng tua. Disana aku selalu setia menemaninya mengumpulkan bunga bunga putih itu. Kebetulan kelenteng tua yang satu kawasan dengan sekolahku itu  bersebelahan dengan sekolah Tyas. 

” Koh A Seng ya…? ” seorang gadis tersenyum menyapaku.

” Iya…, siapa ya…?” tanyaku kebingungan karena merasa tidak kenal dengan gadis berlesung pipit ini.

” Wah sombong, masa lupa sih ?” dia mencandaiku, sedang otakku berputar keras tuk bisa menemukan jawaban siapa nama gadis ayu ini. ” Aku teman kecilmu koh” lanjutnya, “yang suka embun dan senja itu” jelasnya kemudian, aku terlonjak, kaget. Bagaimana tidak, sudah hampir 6 tahun aku tak pernah berjumpa gadis yang dulu pernah dekat denganku itu, kini telah menjelma menjadi perempuan dewasa yang aura kecantikannya sangat jelas terlihat.

” Ya ampun……. Tyas ! ” seruku kaget ” Kemana aja selama ini, aku selalu bertanya pada teman temanmu tentangmu tapi mereka nggak tahu, kenapa pergi nggak kasih tahu aku ” aku mencercanya dengan banyak pertanyaan.

” Wah satu satu dong tanyanya Koh, aku ikut paman di Jakarta dan sekolah di sana koh ” jawabnya Tyas ceria. Ah gadis itu, dulu aku sangat sayang padanya, dari rasa sayang itu tumbuh menjadi cinta. namun aku tak berani mengatakan padanya karena takut dia malah akan menjauhi aku jika dia tak mencintaiku. Terbayang dulu saat aku sering menemaninya mencari bunga menur di samping kelenteng tua. Disana aku selalu setia menemaninya mengumpulkan bunga bunga putih itu. Kebetulan kelenteng tua yang satu kawasan dengan sekolahku itu  bersebelahan dengan sekolah Tyas.  Jadi  di waktu jam istirahat sekolah, Tyas selalu menyempatkan diri ke kebun singkong yang berada di samping kelenteng tua itu, dia  senang sekali mengumpulkan bunga menur yang lembut lalu meniupnya ke udara dan berteriak kegirangan manakala serpihan bunga itu berterbangan tertiup angin.

” Koh…malah melamun “  panggilan Tyas membuyarkan lamunanku.

” Hehehe ingat dulu waktu kamu suka cari bunag menur Yas…” jawabku jujur.

” Hmmm….” entah mengapa  Tyas cuma menggumam.

***

Sudah seminggu sejak pertemuan kembali dengan Tyas itu, membuat aku gelisah. Dua hari lagi aku harus ke Yogya karena jadwal kuliahku sudah mulai kembali. Dan hari ini aku sudah putuskan untuk bicara jujur pada Tyas bahwa aku memendam cinta padanya. Aku sudah bertekad apapun ayng akan aku ahdapi nanti, dari pada aku menyesal seumur hidup memendam rasa ini. Memang semenjak Tyas pergi setelah kami sama sama lulus SMP itu aku pernah mencoba menjalin cinta dengan gadis lain, namun sudah berakhir, dan kini setelah bertemu lagi dengan Tyas, benih benih cinta yang tertunda itu kembali bersemi.

” Tyas ada sesuatu yang mau aku bicarakan nih ” kataku setelah bertemu dengan Tyas di rumahnya.

” Apa koh, kayak serius nih ” goda Tyas.

” Tapi jangan di ketawain ya..?” kataku tak menghiraukan candanya.

” Ya koh, aku mendengarkan deh ” Tyas lalu  duduk persis di hadapanku.

” Tyas, sebenarnya sejak dahulu aku menyimpan rasa buatmu ” langsung saja aku katakan tentang perasaanku padanya, karena aku tidak bisa berbasa basi.

Ku lihat wajah Tyas berubah sendu, bersahabat dengan dia selama tiga tahun lebih telah membuat aku mengenalnya luar dalam.

” Jawablah dengan jujur Yas,.akan aku terima jawabanmu ” kataku dengan sedikit ragu.

” Koh…. sejak dulu aku juga sangat menyayangimu, aku menganggap koh A Seng sebagai kakak. Walau pada akhirnya rasa itu berubah, namun aku juga tak berani bilang sama koh A Seng. Aku selalu menunggu koh A Seng mengatakan cinta padaku, namun sampai kepergianku itu tidak kau lakukan. ” jawab Tyas, aku tahu dia menahan tangisnya.

” Kau mungkin tak tahu koh, alasanku tiap jam istirahat sekolah tuk mencari bunga menur di samping kelenteng tua itu hanyalah caraku agar bisa berjumpa denganmu ” lanjutnya masih terbata bata.

” Oh maafkan aku Tyas, aku pengecut, aku tak pernah mengatakan cinta padamu sebelumnya itu karena aku takut kau tak mencintaiku, lalu kau akan menjauhiku, aku takut ” aku jelaskan padanya alasan mengapa aku tak mengatakan cinta padanya dahulu.

” Hmmm kita berdua salah koh, tidak menuruti kata hati kita masing masing ” kata Tyas kemudian.

” Trus gimana dengan sekarang Tyas, maukah kau menerima cintaku yang tertunda ini ? tanyaku dengan masih menyimpan was was.

” Dengarkan dulu ceritaku ya koh ” kata Tyas, aku menghela nafas pelan, berharap cerita yang dia sampaikan berpihak kepadaku dan cinta ini.

” Setelah lulus SMP itu aku ikut di tempat paman, dan sekolah disana sampai lulus SMA. Setahun kemudian aku bekerja di pabrik tekstil dan tidak melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Setahun kerja disana, aku dilamar oleh seorang atasanku di pabrik itu. Semula aku menolak, tapi pamanku mendesak agar aku menerima lamarannya walau untuk dijadikan istri kedua ” Tyas bercerita dengan sesenggukan, kali ini dia tak bisa menahan jatuhnya airmata. Aku mencoba bersabar tuk mengetahui cerita selanjutnya, walau dengan perasaan yang tak menentu.

” Akhirnya demi membalas budi baik paman aku menerima lamaran atasanku itu, dan kami menikah ” lanjut Tyas.

” Jadi sekarang statusmu sebagai istrinya…? sudah berapa bulan ? ” tanyaku kaget.

” Sudah tiga bulan ini koh…, sengaja aku tak mengatakan pada siapapun dan aku juga minta orang tuaku merahasiakan pernikahanku dengan suami, aku malu jadi istri kedua koh ” kali ini isak Tyas mulai terdengar. ” Maafkan aku ya koh, sebetulnya aku mencintaimu ” kata kata Tyas ini sangat menyayat hatiku.

” Sudahlah Tyas, kita harus terima takdir ini ” aku mencoba menguatkan hatinya, ” toh kita berdua sekarang tahu bahwa ada cinta di hati kita berdua, namun toh cinta tak harus bersatu khan…? kau masih bisa anggap aku sebagai kakakmu seperti dulu lagi ” jelasku lebih lanjut.
Kulihat Tyas masih tertudnuk sendu, sepertinya dia masih menyembunyikan sesuatu.

” Hmmm mana suamimu..? kenalkan dong padaku ” aku mencoba mencairkan suasana sedih ini.

” Dia nggak ikut koh, kami sudah bercerai ” jawab Tyas lirih. Tentu saja aku kaget setengah mati.

” Baru dua bulan usia pernikahanku, istri tua suamiku tahu dan nggak rela suaminya menikah lagi, akhirnya aku minta cerai saja, dan kini aku pulang lagi kesini.” beber Tyas.

Tyas, perempuan cantik itu kini tertunduk sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh ke pipinya dengan sapu tangan. Melihatnya larut dalam sedih, aku ingin sekali  memeluknya dan membenamkan dia dalam kehangatan yang akan mendamaikan hatinya.

” Tyas, aku tak peduli statusmu, kini jawablah dengan jujur, masihkah kau mau menerima cintaku? ” aku bertanya lagi padanya. ” Nggak usah kau jawab sekarang, mungkin kamu masih dalam suasana sedih dengan keadaan yang baru saja menimpamu, tapi aku ingin mengatakan kesungguhanku bahwa aku ingin kita berdua membenahi keinginan hati yang pernah ada di hati kita berdua. ” jelasku lanjut.

Ku lihat mata Tyas berbinar layaknya pelangi di senja hari, dan itu sudah cukup membuatku mengerti bahwa diapun menerima ajakanku tuk kembali merajut cinta yang tertunda. Aku berjanji dalam hati kecilku, akan membahagiakan Tyas sebagai ungkapan cinta yang teramat dalam padanya.

***

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

One comment on “Cinta Tertunda dari Seberang Kelenteng Tua – Cerpen Selsa Rengganis

  1. kisah cinta yang belum berakhir….
    salam kenal dari saya Bintang Rina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: