Tinggalkan komentar

Pengiring Hujan – Cerpen Adhita Didiet Prawatyo

PENGIRING HUJAN

Cerita Pendek Adhita Didiet Prawatyo

Hujan yang semula hanya gerimis kecil-kecil, kini deras menumpahkan bergalon-galon air dari langit yang gelap. Pagi yang seharusnya ceria hanya menyisakan kesal yang tiada surut. Tarie masih termangu di ranjangnya. Di tengah guyuran hujan, ia memandang pesan masuk di HP-nya. Hampir tak dimengerti olehnya harus sedih, senang atau terganggu melihat begitu banyak pesan singkat memenuhi inbox HP-nya. Pagi ini pesan singkat terbaru bertuliskan Rinai sibak pekatnya mendung, libas awan hitam nan berarak. Satu per satu luruh rebah ke tanah, hujam tepat ulu hatiku.

Belakangan ini selalu masuk sms, dari satu nomor yang tidak dikenalnya. Selalu juga bertepatan waktu hujan. Gerimis ataupun deras. Pesan singkatnya selalu bernada-nada puistis. Anehnya, selalu tertulis (Abass) diakhir pesannya. Tarie sudah mengingat-ingat nama ini terus-menerus, namun tidak memunculkan ingatan kepada siapa pun yang dikenalnya. Yang ada baginya kini hanya pasrah, jengkel juga, lantas hanya membiarkan pesan si Abass itu bermunculan di HP-nya.

Tanggal 4 Maret menjadi puncak keheranannya. Tanpa sepengetahuan orang rumah, pagi itu, di teras sudah tergeletak rangkaian bunga yang sangat indah dan menawan. Semerbak wanginya langsung menyebar di sekitar rumah. Ada kertas yang tergantung di salah satu tangkai bunga yang terangkai. Kalimat puistis bernuansa ulang tahun tertera di situ. Hari ini merupakan ulang tahun Tarie yang kesembilan belas.

”Lagi-lagi Abass. Siapakah sih kamu ini?” Tarie bertanya sendiri. Dipalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan mencari sosok pemberi bunga menawan ini.  

Segera diraih rangkaian bunga yang tergeletak persis di depan pintu ruang tamu rumahnya.  Dibawanya masuk dan segera menggantikan bunga di meja tamunya dengan bunga segar yang barusan turun dari langit. Aneh, dalam keadaan hujan seperti ini, bunga itu tetap kering dan segar. Setiap hujan, si Abass ini selalu muncul, pikir Tarie yang mulai memahami aksinya.

Begitu hujan reda, Tarie bersiap ke kampus. Sebuah motor berhenti di depan rumahnya. Terlihat  Kinanti, sahabatnya datang menjemput. Persahabatan Tarie dan Kinanti dimulai sejak mereka sama-sama menjadi mahasiswa baru di Akademi Akuntansi Danoegraha. Keduanya makin akrab setelah Tarie pernah diselamatkan oleh Kinanti dari penjambretan di sekitar kampus, pada awal mereka kuliah. Diam-diam, dibalik kecantikan dan gemulainya, ternyata Kinanti jagoan beladiri pencak silat.  

Dua minggu terakhir ini, kuliah sore dimulai pukul 4. Sejak motor Kinanti masuk bengkel, Tarie dan Kinanti selalu diantar pulang Setiawan. Cowok lucu yang pintar mendongeng teman mereka satu kampus. Kebetulan rumahnya searah dengan rumah Tarie dan kos Kinanti. Dia berbaik hati  mengantar pulang kedua sahabat ini. Diam-diam, sorot mata Tarie tak pernah lepas memandang Setiawan.

Hari ini, seminggu setelah ulang tahunnya pada 4 Maret yang lalu, Tarie memberanikan diri bercerita kepada Setiawan dan Kinanti mengenai sms si Abass. Sudah diduga oleh Tarie, keduanya hanya tersenyum, sesekali mereka meledeknya juga. Ada lelaki pengecut yang naksir kamu, kata Kinanti, tapi nggak berani menampakkan dirinya. Setiawan hanya diam tatkala Kinanti berkomentar lelaki pengecut. Matanya memandang Tarie yang tersenyum dan malu-malu. Ini semua gara-gara mata mereka saling mengirimkan sinyal yang sesuatu sekali.

”Sudah pernah kautelepon atau mengirimkan balasan padanya?” tanya Kinanti.  Tarie mengangguk. Tak kurang upayanya untuk mengetahui siapa si Abass itu.

”Telponku pernah tersambung. Jawabnya …,” ucap Tarie agak malu-malu. Kedua tangannya menutupi bibirnya, enggan melanjutkan cerita.

”Emang si Abass ngomong apa padamu?” Kinanti mulai penasaran.

Setelah didesak terus, Tarie mau bicara terbuka. ”Terakhir dia menyapaku, ’hai sayang’, dan klik teleponnya dimatikan.” Rona pipi Tarie memerah ketika menjawab pertanyaan Kinanti. 

Mereka bertiga sedang duduk di lobby auditorium saat mendengarkan cerita Tarie.  Mendung yang menggelembung dari tadi, akhirnya benar-benar memuntahkan isi perutnya. Genangan air mulai muncul di halaman auditorium begitu curahnya turun tiada henti. Deras sekali !

”Wan, kamu kok diam aja sih? Komentar dong, beri dukungan sahabatmu ini?” ucap Kinanti.

Setiawan terkejut karena sedari tadi memperhatikan Tarie. Desiran halus menyergap perlahan ke semua aliran darahnya. Di sisi lain, Tarie merasakan tatapan Setiawan seolah-olah ingin meremas jantung hatinya. Entah kenapa, ia juga merasakan dalam hati sesuatu yang berdesir perlahan.

”Tarie,” panggil Kinanti kedua kalinya setelah panggilan pertamanya tak digubris.  Yang dipanggil menoleh, seakan paham yang hendak disampaikan padanya.

”Hujan, Rie! Hujan nih!” seru Kinanti mengingatkan Tarie.

Hujan pertanda si misterius Abass akan mengirimkan pesannya. Tapi, ke mana si Abass ini, pikir Tarie, karena sudah lewat 15 menit tak ada sms yang masuk. Biasanya, begitu rinai hujan mengguyur, secepat itu pula pesan untuknya muncul.

”Iya. Masih di kampus. Nanti ku-sms nomornya,” suara Setiawan terdengar sedang menjawab pertanyaan seseorang yang menghubunginya.

”Maaf, sebentar ya…. Aku kirim sms dulu,” ucap Setiawan meminta izin. Kinanti dan Tarie hanya bisa mengangguk pelan.

Selagi Setiawan sibuk dengan HP-nya, Tarie dikejutkan dering sms masuk.  ”Tarie, dia datang,” suara lirih Kinanti. Hanya anggukan kepala Tarie yang buru-buru membuka inbox-nya, membaca dengan seksama pesan di HP-nya. Seandainya hujan menyapu, menerpa wajahmu yang ayu, tetap saja pesonamu takkan pernah luntur. Hujan takkan pernah mengusik keindahanmu. (Abass).

”Lihatlah Kinan, lihat ini,” kata Tarie sambil memperlihatkan pesan yang masuk.

”Setiawan, kau juga harus lihat ini,” ajak Kinanti kepada Setiawan yang masih terlihat asyik dengan HP-nya.

”Tentu kulihat. Sebentar lagi,” jawabnya sembari terus mengetik, ”Kuselesaikan dulu mengirim sms ini kepada ibuku.”

Begitu HP dimasukkan ke saku celananya, Setiawan mendekati Tarie. Ia juga ingin melihat pesan yang dibuat oleh laki-laki pengiring hujan yang sudah mengusik ketenangan hari-hari Tarie. 

”Rie, Abass ini laki-laki romantis, sebetulnya. Buktinya, hujan telah menginspirasinya. Ia jatuh cinta padamu, tampaknya,” kata Setiawan terlihat bersemangat. Setiawan memandang Tarie sungguh-sungguh. Ada gelora dimatanya yang tak berani ditatap lama-lama oleh Tarie.

”Justru aku inginnya tidak melalui sms, Wan…. Aku ingin inspirasi hujannya dikatakan langsung di depanku. Itu kalau dia sayang padaku.” Mata Setiawan dan Kinanti terbelalak mendengar penuturan Tarie barusan.

”Kamu beneran, Rie, dengan ucapanmu barusan,” tanya Kinanti tak percaya. Setelah terdiam sesaat, Tarie tersenyum manis.

”Mengapa tidak?” jawabnya pasti.  

Angan-angannya menjulang tinggi. Teringat sosok lucu yang sering mengantarnya pulang bersama Kinanti. Kini, orang itu ada di hadapannya. Ikut menemaninya mencari si pengiring hujan yang romantis bernama Abass. Andai itu kamu, Wan, gumam Tarie. Terdengar lembut helaan nafasnya.

Sabtu, 18 Maret,  pukul 1 siang. Usai kuliah manajemen, Setiawan dan Tarie mengantarkan Kinanti ke stasiun kereta api. Siang ini Kinanti hendak pulang ke Solo. Setelah kereta api yang membawa Kinanti lenyap di ujung timur Jembatan Kewek, Setiawan mengantarkan Tarie pulang. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, Setiawan mampir ke sebuah warung bakso.

”Aku ambil pesanan ibuku sebentar, ya.” Setiawan minta izin kepada Tarie. Anggukan diikuti senyuman Tarie mengiringi langkah Setiawan masuk ke warung.

Beberapa menit kemudian, mobil Setiawan tiba di depan rumah Tarie. Diserahkannya bungkusan dalam kresek berwarna putih kepada Tarie.

”Titip untuk orang rumah, ya!” Tanpa sengaja, tangan Setiawan menyentuh tangan Tarie. Mata mereka saling bertatapan, memercik sinyal penggendor jantung kesekian kalinya.

”Makasih ya, sudah antarkan aku,” ucap Tarie perlahan.

Honda Jazz berwarna merah metalik bernomor  AB 4 SS, segera berlalu dari hadapannya. Gerimis pun turun perlahan. Tarie tertegun memandang mobil Setiawan yang berbelok di perempatan jalan, kira-kira 20 meter dari tempatnya berdiri. Ringtone sms HP-nya berbunyi.

Aku sayang kamu, Tarie. (Abass)

Sebaris kalimat sayang itu muncul dilayar HP-nya. Jantungnya berdegup kencang kemudian. Nafasnya sedikit tersengal.

“Ternyata….” Gumam lirih suara Tarie tertelan hujan yang mulai deras mengguyur.

Catatan: sudah dimuat di koran Minggu Pagi edisi nomor 25 Minggu III September 2013 pada CERMA (cerpen remaja)

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: