Tinggalkan komentar

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Satu Urat Waktu

SATU URAT WAKTU

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim 

Bulan pucat tenggelam
ketika angin malam menyapaku
warna hati t’lah memudar
hanya suara jengkrik yang terdengar dan
burung-burung malam
kita bertanya membisu tiada yang bicara
kutatap bulan semakin pucat
seolah menjadi saksi
malam itu
kau ucapkan sepatah kata
lalu kutatap langkahmu yang semakin menjauh

goresan itu tak pernah sirna
sekalipun taufan menghadang
dan melempar tubuhku 

kucari wajahmu dalam kderemangan malam
kita bertemu lewat sukma
kini saatku bicara padamu

Kawan, kau dan aku adalah satu urat
waktu menggulung kita
luka telah tercacar di wajahku
tataplah
kau tak pernah mengerti kawan
resahnya hati dalam langkah tak menentu 

Harlan City, 05 Mei 2013

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: