Tinggalkan komentar

Puisi Kiswondo: Tangisan Tanah Rawan

TANGISAN TANAH RAWAN

Puisi Kiswondo

(untuk kecintaan pada bumi Indonesia dan degradasi ekologi akibat pembangunan)

Pidie,aku mendengar jerit tangismu.memenuhi rongga dadaku. Mengalirkan air mata, penuh sekatan mengiris. Kau teriak serak ketika banjir menghajarmu habis. Pidie.Tuhan hujan ini, rahmat ataukah petaka bagi kami.anak-anak kami menangis sampai ke kerak mimpinya. Sawah tak panen kerna banjir. Mereka kelaparan. Mereka tak boleh mengambil kayu di hutan untuk mendatangkan sesuap nasi. Untuk mulut-mulut lapar yang butuh hidup padahal ada raksasa yang lebih ganas. Mereka tak dilarang. Dengan mulutnya yang lebar dan rakusmemakani pohonan. Suaranya meraung-raung,membabi buta. Berdebaman suara kayu tumbang. Unggas berlarian. Dan bagi kami pemilik tanah ini,anak-anak syah Pidie, merenggang kelaparan. Banjir, banjir hadiah terbaik bagi kami. Pidie, Pidie aku mendengar tangis gerammu.

Aku mendengar gemertak api yang keluar dari hutan. Pohonan dibakari dengan sengaja, demi alasan memabukkan.PEMBANGUNAN. Aku mendengar sawah-sawah menjerit ketika ke rahimnya ditancapkan tiang-tiang beton kokoh.dan orang-orang di halau dari tanah lahirnya. Mereka teriak. Mereka teriak. Hingga serak.

Udara penuh keping-keping timbal hitam. Permukaan air penuh busa racun. Tanah terbungkus plastik. PENGAP. Beri kami ruang bebas, untuk bernafas. Untuk bicara lepas. Sesungguhnya aku ingin berkata padamu. Bahwa telah terjadi kekacauan di sini. Manusia kehilangan ibu kandungnya. Melata. Keseimbangan telah dirusakkan. Borok-borok telah ditanam di mana-mana.Di mana mana. Sampai ke dalam jiwa kita. Retak. Retak. Retak. Retak.

Habis sudah semuanya. Ibu kandung kita diperkosaoleh raksasa dari sebrang lautan. Beramai-ramai. Dengarkanlah jeritan kesakitannya yang mengiris hati. Sedangkan bapak kita tertawa puas tertawa terkekeh-kekeh melihat kemaluan sang ibu terkoyak robek. ”lihatlah Ibu Pertiwi terajam dalam sepi.” Persekongkolan ini harus dihentikan.

Coba kau jawab pertanyaanku saudaraku: apa lagio yang akan terjadi? Masihkah akan dilanjutkan kegilaan ini? Masihkah gedung akan terus ditanam menggantikan pohonan dan burung-burung jiwa tak mendapat tempat berkicau bebas?ataukah akan kau datangkan lagi borok radiasi nuklir kepada ibu kami yang sekarang? Dan kau buat kami anak-anaknya terbuang dan terlantas. Coba kau jawab pertanyaanku saudaraku.

Kami butuh pembangunan, tetapi kami juga butuh ketentraman dan kedamaian. Kami butuh pabrik-pabrik, tetapi juga butuh rumah jiwa. Tetapi bagaimanapun senangnya seekor burung pada sangkar, ia lebih butuh hutan terbuka. Di mana dia bebas berkicau, main asmara dan mengasuh anak-anaknya. Kami benci pembangunan yang menyengsarakan.

Yogyakarta,Indonesia: Januari (27) 1991

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: