Tinggalkan komentar

(Merdeka, 1955) Permainan Penyair dan Sajak

Permainan Penyair dan Sajak

Oleh: Soerachman RM

Soerachman RM-551210-Merdeka-50-VIII

DALAM salah satu sajaknya, pernah Sitor Situmorang menyatakan bahwa “Besar penyair karena duka”. Kemudian Rendra lebih tegas lagi berkata dalam “Ciliwung” yang manisnya” (KISAH/November MCMLV)

Maka segala sajak yang baik
Adalah terlahir dari nestapa
Kalaupun bukan
Adalah dari yang sia-sia
Ataupun ria yang berarti kerna papa

MENURUT saya sajak yang baik tidak akan cukup lahir dengan berhasi hanya oleh kedukaan saja. Juga tidak biar sudah ditambah dengan faktor lain seperti misalnya dia memiliki pengalaman yang dalam dan banyak membaca. Masih ada satu hal lagi yang perlu dipunyai oleh seorang penyair yaitu cara mempermainkan apa yang sedang diciptakannya. Dan memang umumnya, penyair itu pandai mempermainkan kata-kata dalam ciptaannya.  Bahkan bukan hanya kata-kata saja yang dipermainkannya melainkan suara sajak, irama dan isi, jadi singkatnya saja: seluruh ciptaan. Perlu saya jelaskan lebih lanjut, bahwa teori dalam kenyataannya tidak terlihat. Tanya saja misalnya Aji[ Rosidi atau Harjadi S hartowardojo atau Toto Sudarto Bachtiar dan siapa saja penyair kita lainnya yang terkemuka: “Bung, bagaimana cara mempermainkan apa-apa yang akan dilahirkan dalam ciptaan-ciptaan saudara?”

Pastilah jawaban mereka tidak akan ada yang mutlak menguraikan harus begini, begitu, dan lain-lain. Mungkin ada juga yang akan menjawab: “Ah, entah, saya mencipta hanya dengan pemikiran dan perasaan serta bakat saya sendiri.” Apalagi kalau mengingat pelajaran kesusastraan yang biasa diberikan di sekolah-sekolah dalam mana diterangkan bahwa puisi Indonesia sejak Chairil Anwar bersifat bebas baik dalam bentuk maupun isi, maka pembaca akan berkata: “Si Soerachman  doyan isap jempol buat cari duit melulu!”

Sekali lagi, saya peringatkan, bahwa teori yang saya uraikan di atas tadi tak terlihat wujudnya tapi hanya mengendap dalam batin sang penyair. Sebenarnya penyair adalah orang yang pandai memilih kata-kata dan meletakkanya dengan tepat dalam kalimat-kalimat yang padat. Tentu ini tidak berarti bahwa si penyair hanya menyusun kata-kata muluk dan indah semata. Kata-kata yang kotopun jika diletakkan dalam ___ yang langsung dengan pengucapan jiwanya dan mencerminkan seuasana yang tepat dapat menimbulkan gelagak di relung jantung pembaca. Ardan menggunakan dialek Jakarta dalam kumpulan cerita pendek “Terang BulanTerang di Kali”nya justru untuk membawakan suasana yang tepat dan apabila ia mengisahkan kaum pelacur tidak segan-segan ia memakai kata-kata kotor. Dia berbuat begitu alam bentuk prosa. Dan penyairpun sama saja, hanya tentu bentuk curahan hatinya dapat berbeda. Sebagian sajak Sobron Aidit (? Red) “Tjatatan di Lembar Kedua” (Indonesia /April MOMLIII):

Siapa mau kenangkan lagi
Kepahitan zaman penggenggam awan ratapan
Setan gundul kenyang-kenyang telan nyawa
Serak tengkorak campur lumpur tak bernilai

Perhatikanlah, mana kata-kata yang indahnya? Sepintas tak beraturan sekali sajak tersebut. Akan tetapi kalau lebih lama meresapkannya terasa ada kegentaran dan kengerian terbit daripadanya. Terbayang kembali kesukaran hidup akibat perang Asia Timur ditambah pula oleh kekejaman serta kebengisan “setan gundul” (Jepang). Bangsa kita kurus kering kurang pangan mati kelaparan atau karena penderitaan jadi Romusha. Masa pendudukan Jepang yang berlangsung tiga setengah tahun itu deras mencucurkan air mata: penggenggam awan ratapan.

Kesegaran sajak ini tampak pula dengan karyanya akan semuanya itu termasuk akibat sajak akhir seperti: kenangkan, kepahitan, zaman, awan, ratapan, setan, telan. Kemudian; serak, tengkorak, dan campur. Adapula asonansi e-a tiga kali berturut-turut. Kenyang-kenyang, telan. Sajak Sobron diakhiri dengan:

dan lantang nanti dialun lagu mendendang
tunas sekarang pemilik hari yang datang!

Bait tersebut mengingatkan saya kepada bait terakhir dari sajak W Wishnukun Tjahjo yang berkepala “Aku Tunas Zaman Sekarang”. Begini bunyinya:

aku tunas zaman sekarang
yang tumbuh dan terus mengembang
pemilik hari yang datang

(Indonesia/April MCMLII)

Perhatikanlah: “pemilik hari yang datang”. Di sini penyair tergelincir pada permainan kata orang lain. Atau dengan kata lain: Sobron tidak sadar mempergunakan kata-kata yang setahun sebelumnya telah dipergunakan oleh penyair lainnya. Hal demikian memang kadang-kadang dialami oleh penyair. Tuduhan plagiat yang dilemparkan orang kepada Chairil-pun sebagian besar sebenarnya semacam yang kita temui di atas ini. Hal ini disebabkan karena kurang hati-hati nya si penyair dalam mempermainkan apa yang hendak diucapkan dalam ciptaannya. Ia mengeluarkan curahannya tanpa pencernaan yang teliti. Apalagi seorang penyair biasanya suka menelaah sajak-sajak hasil orang lain. Seperti pada permulaan tulisan ini saya kemukakan faktor-faktor yang perlu dimiliki oleh seorang pengarang (baca: penyair) yaitu harus dalam pengalamannya. Bagaimana mungkin ia akan berhasil menggambarkan orang sekarang sedang ia belum pernah memperhatikan orang yang tengah melepaskan nyawanya? Jadi untuk memperoleh pengalaman itu kita harus banyak mendengarkan, memperhatikan, dan menyelidiki, Dan bukanlah membaca itu sesunggunya mendengarkan, memperhatikan dan menyelidiki pula.

Untuk lebih meyakinkan bahwa penyair adalah orang yang pandai mempermainkan kata-kata, baiklah perhatikan pula dua buah fragmen sajak di bawah ini:

diladangpadi sekeping bumi
kering makin retak meretak
dijantung penghuni rindu
dan dahaga tetak menetak

(Taufiq AG: Kemarau di Desa Bengkirai)

Terhampar, telanjang kering kelabu
Pecah pecah menengadah kelu
Dan padi tinggal batang beracungan

(Sukono Wakidjan: Sawah Kering)

Keduanya berhasil melukiskan suasana kemarau yang kering: tanah belah seolah menengadah minta disirami air, padi-padi tinggal batang beracungan kepanasan sedang penduduk merindui hujan.

Irama yang mendayu-dayu pada sajak pertama mengantarkan kelesu-jengkelan lebih-lebih dijiwai oleh bunyi “I” yang menggetirkan dan diikuti suara “a” yang bersifat hampa. Perhatikan pula suku “tak” pada “retak meretak” dan “tetak menetak” serta asonansi “e-a”/”e-a-a”.

Pada sajak yang kedua iramanya berderap pandak sesuai dengan kepekatan kalimatnya. Di sini sajaknya lebih kaya. Kelesuan terpantulkan oleh sajak akhir “ah”,  pada “pecah-pecah menengadah”. Aliterasi terdapat dalam kata terhampar dan telanjang; kering dan kelabu; batang dan beracungkan .  asonansi tampak pada kata terhampar dan telanjang (e-a-a). Dan dari permainan penyair permainan memilih/menyusun kata-kata. Permainan penyair yang tidak terlihat oleh mata lahir tapi hanya terkandung oleh batin saja. Penyair menghemat kata-kata dan juga mempermainkan irama.

Kedua penyair tadi tepat sekali memilih irama yang menyentak-nyentak. Buat melukiskan suasana yang rindu sayu irama demikian itu terang kurang enak apabila dipergunakan. Begitulah Sitor situmorang memilih irama yang lembut mengalun untuk melukiskan suasana ketika ia baru berkumpul lagi dengan keluarganya setelah bertahun menuntut ilmu di Eropa:

Pada tengah hari
Titik perahu timbul didanau
Ibu cemas kepantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu

(bait: Pertama)

Malam tiba ibu tertidur
Bapa lama sudah mendengkur
Dipantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang
(bait: terakhir)

Fragmen di atas ini di kutip dari “Si-Anak Hilang” yang termuat dalam kumpulan sajak Sitor yang kedua.

Dalam Sajak

Perhatikanlah aliterasi “t” pada terik, tengah, titik, timbul dan “r” pada tertidur, mendengkur, pasir berdesir, memantulkan getaran hati penyair yang dalam menikmati suasana malam pertama kali ia ada di daerahnya lagi dihubungkan dengan kenangan semasa kanak-kanak. Sajak ini ditutup dengan dissonansi “o-u” dan “u-a”: tahu-pulang; sedang diantara kedua patah kata tersebut terdapat assonansi: si-anak tiada (i-a-a).

Mengenai isi sajak tak perlu selalu tak perlu selalu mengambil pokok-pokok filsafat dan penuh mistik. Asal si penyair penuh kesanggupan mempermainkan irama, badingan-bandingan dan kata-kata yang sudah benar-benar diolah dan diletakkan dalam susunan yang tepat, maka kehidupan tukang ciopipun dapat dilukiskan menjadi sajak yang bermutu, tidak kalah oleh gubahan Kartamihardja yang pelik bermistik itu. Baca dan resapkanlah sajak Ajip Rosidi,, yang bernama “Tojip” Kisah pedagang tjikopi (Majalah Indonesia/Maret MCMlV). Dongengpun semacam Lutung Kasarung atau Sangkuriang misalnya, dapat digubah oleh penyair menjadi suatu ciptaan yang indah. Dalam Majalah INDONESIA/September MCMLII dapat kita temui dua tangkai sajak baik yang bahannya diambil dari dongeng itu, “DJAKA TARUB” dan “HIKAJAT SAMIRAMIS” buah tangan P. Sengodjo.

Disamping soal-soal yang sudah saya bahas di atas, masih ada permainan penyair yang lain, yakni kesukaan akan mencari kebaruan. Kebaruan dalam memakai kata-kata dan bandingan-bandingan. Kebaruan dalam seluruh pelontaran ilhamnya. Dan apa yang baru itu, biasanya penuh daya tarik. Betapa menariknya personifikasi semacam ini: bulan terpancang kedinginan (WS Rendra), bulan tua bukan miliknya, melenggang lewat jendela” (Winarna SS), “anging-angin terbangun dari tidurnya (Basuki Gunawan). Dan rasakan pula metafora seperti: “Jalanmu gerobak kehabisan minyak” (S. Wakidjan), Kuharap tangan nasib menguluru ke kemahku” (Toto Sudarto Bachtiar). Juga bandingan-bandingan berikut tak kurang gaya getarnya: “Ada duka naik seperti pasang” (Sitor Situmorang). Atau “demam membakar disudut kamar” (Agam Wispi).

Akhir-akhir ini ada penyair yang suka mengulang-ulang kalimat atau baris sajaknya dan pada baris yang kedua, satu atau beberapa patah kata diubah. Jadi setelah mereka melihat atau menceritakan sesuatu berasosiasikan soal lain. Mereka ingat akan peristiwa lain. Perulangan demikian, pertama kali saya temukan dalam “Seorang Temanku” , sajak Rendra.

Kesepian malam terbujur pada kota
Kesepian malam bertarung pada hatinya

Perhatikanlah kata-kata terbujur dan kota diganti oleh terbaring dan hatinya.Sungguh sangat mengagumkan bandingan yang semacam itu. Memang yang baru itu pada umumnya menimbulkan kesegaran. Kemudian perulangan yang bernafaskan kebaruan ini saya temui pula dalam sajak FL Rissakotta yang bernama: “Sajak Satu Hari”.

Air sungai kesayangan keruh dalam lumpur
Air sungai kesayangan keruh dalam hati

Dalam ‘Genta” (nama rubrik kebudayaan majalah Merdeka),  baru-baru ini pernah saya menemukan lagi, yaitu dalam “Malam dan Bulan” tukilan Saleh Latief.

Kilau bulan dilangit biru
Kilau mata Mimi dalam hatiku

Dan dalam sajak “Gitar dan Air Pasang” buah tangan Abd. Malik Oesman:

Perahu didukung pasang naik
Perahu didukung pasang dihati

Tentu saja sesuatu yang baru itu lama-lama akan menjadi karatan dan basi membosankan. Sebab seperti kita ketahui di Marcapada tiada satupun yang abadi. Kesegarannya akan memudar dan lenyap sama sekali. Meskipun demikian pengalaman telah membuktikan bahwa barang yang usang dapat disukai lagi apabila diperbaharui.

Begitulah dalam persajakan kita  lahir kata-kata yang diperbaharui untuk membangkitkan kembali zat penariknya. Adapun caranya dapat beranekawarna. Kadang-kadang dengan mengurangi sesuku kata atau satu huruf, misalnya:

Tjahaja                 menjadi               tjaja
Matahari
            menjadi               matari
Istirahat
              menjadi               istirah
Rahasia
               menjadi               rahsia

Sebaliknya, kata usang tadi ditambah dengan satu suku kata:

Duka                      menjadi               dukana

Mungkin dengannmengubah kata berulang-ulang menjadi sepatah kata:

Rerumput           menjadi               rumput-rumput

Dedahan              menjadi               dahan-dahan

Dedaun                menjadi               daun-daun

Adakala kata biasa diganti oleh sinonim yang jarang dipakai seperti:

Laut       diganti menjadi samudra
Taufan
diganti menjadi prahara
Kelana
diganti menjadi kembara
Danau
diganti menjadi welahar

Perlu pula dicatat gabungan kata-kata baru yang sekarang sedang disukai oleh penyair kita:

Batuhari (Sum Suradinata)
Pintuhati (Ajip Rosidi)
Telinga jiwa (Er Yanti)
Palung dada (Hartojo Andangdjaja)
Gurun nafsu (Toto Sudarto Bachtiar)
Anggur darah (WS Rendra)

Tentang lama atau tidaknya kesegaran sesuatu kata atau bandingan baru adalah terserah pada jarang atau seringnya ia dipergunakan. Karena itu penyair-penyair yang benar-benar penyair dengan penuh semangat mencari-cari kebaruan tadi. Tak mau ia terdahului oleh kawan-kawannya. Tidak puas rasanya kalau ia mempergunakan kata dan bandingan baru hasil pencarian penyair lain. Karenanya seakan mereka berlomba-lomba mengolah kata-kata, mempersenyawakannya atau memisahkannya. Sungguh seperti laku seorang ahli kimia dalam laboratoriumnya saja atau bagaikan seorang ekplorater tidak  jemu-jemunya mencari ingin menemukan sesuatu. Diantaranya tak sedikit yang karena kurang pemikiran yang teliti timbul kata-kata atau bandingan-bandingan yang menggelikan. Mereka terlalu lena, teramat dibius oleh permainannya yang sangat menarik itu. Umpamanya saja ada seorang yang karena ingin menjaga keindahan bunyi mengatakan dalam sajaknya: kemuning kuning, darah merah, dan sebagainya. Padahal bunga kemuning itu warnanya putih (?? Red), kata merah menerangkan darah sebetulnya tak perlu. Sebab darah ya memang merah. Seperti juga kalau kita berlebihan mengatakan lutung hitam. Seolah lutung atau monyet hitam itu ada yang berwarna lain.

Sajak yang baik adalah hasil dari kepandaian si penyair mempermainkan seluruh ciptaannya, hasil dari pencernaan yang cukup sempurna serta dituangkan ke dalam saluran-saluran yang sewajarnya. Tidak heran, kalau seseorang sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hafal akan kalimat-kalimat sajak orang lain  karena keindahannya. Dalam cerita pendek Rijono Pratikto yang berkepala WADJAH ada terdapat sebuah kalimat: “Aku maunya engkau hijau”. Kalimat itu sebetulnya adalah sebaris kalimat dari terjemahan sajak ROMANCE RABAN ciptaan Federico Garcia Lorca yang diterjemahkan oleh Ramadahan KH. Mungkin  Rijono pernah memcabanya atau mendengarkannya dari radio tatkala sajak tersebut dideklamasikan oleh Kasim Mansur. Saya sendiri kalau mendengar atau membaca nama DODONG DJIWAPRADJA maka dengan diam-diam hati kecil saya mensitir beberapa kalimat dari “GETAH MALAM” sajak penyair tersebut:

Kuhisapi udara malam
Sebab ia bagian dari  kehidupan
Kusukai cinta di malam sunyi sebab suatu pengharapan
Juga dimalam gelisah sebab suatu perpisahan

Dan satar sajak Harijadi S Hartowardojo yang di bawah ini masih mengendap di sudut relung tempurung otakku:

Hidup yang dihiasi dengan warna dan wangi
Memegah perlahan selama malam
(Kembang Djambangan)

Mengapa kita pula hati kita turut berderap dalam membaca atau mendengar “TJERITA BUAT DIEN TAMELA” punya Chairil? Atau sajak-sajak Asrul Sani: MANTERA dan DONGENG BUAT BAJI ZUS PANDU?  Atau oleh “ALBUQUERQUE” milik Sitor?

Mengapa pula jantung kita sedenyut akan terharu oleh soneta Trisno Sumardjo yang bernama “ADJAL HAMLET”. Atau karena mendengar “DUA PENUMPANG KAPAL TITANIC” hasil tukilan Rustandi Kartakusumah?

Semuanya itu karena hasil jerih payah usaha mereka yang pandai mempermainkan seluruh ciptaannya Semuanya itu adalah akibat permainan penyair.

Sumber: Majalah Merdeka, Nomor 30 Tahun VIII, halaman 27, 10 Desember 1955

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: