Tinggalkan komentar

(Konfrontasi, 1958) Puisi Armaya: Balada Sritanjung

Puisi Armaya:

BALADA SRITANJUNG

Satu tahta kerajaan sepi dilingkungan gunung
terpijak pada lembahnya tanah subur
sejak mentari pertama mendukung cinta
ter-babad-lah cinta di kehidupan yang agung

Sritanjung istri setia intipan setiap lelaki
segenap perintah suami lunas di sari wajah pendar ikhlas
keagungan cinta membakar darah gaibnya
setiap pandang terasa pingsan di warna iklim

Lahirlah atas wajahnya yang bersih laknat dunia
karena lelaki dengan nafsunya
Sritanjung tersisih dari kedamaian diri
dan suaminya nyelesaikan peperangan tanpa sebab

Kerinduan dan nyala birahi membenam dada
ronta hari jauh surup sore
raja rampas keagungan dari dunia cintanya
mengelak setiap kata-kata manis Sritanjung jelita

Kegarangan peperangan di wilayah asing
dewata dan setan-setan hitam yang berimba mimpi
kemenangan jauh kasih sayang
tertumpah darah pahlawan tanpa cinta

Canang berunyi kemenangan yang tiada tara
peperangan tanpa sebab di pusar bumi
Sritanjung jelita menyongsong sang suami
panglima perang dari dahsyat maut gumul kasih sayang

Sinar mentari yang biru duka
menepis nasib dari kehidupan yang beda
sebab wajah cantik menimpa bencana atas dirinya
Sritanjung, istri setia di warna bumi

Di suatu pagi, Sritanjung diiringi kesunyian
karena dunia pingsan di pendar mata suami
karena hasutan lelaki dan nafsunya
membakar darahnya hitam kebenaran

Suatu janji membersit dari mulut mungil
menampar wajah suami deru kasih sayang
darah wangi setia yang lebur bagi dunia
karena setia kepada suami dan alir sungai

Terhunus keris dengan gelap dendamnya
berakhir Sritanjung yang membakar bening udara
sang suami gila, keris siap hunus nyala waktu
sinar mentari mendera hitam duka

Dari segenap pandang jauh kasih sayang
terkurung dera dirinya nyala rindu
dan terhabisi sekali dalam pandang penghabisan
lebur di Selat Bali, suami yang malang

Sinar mentari membakar warna bumi
laknat dewata membakar segenap dendam
angin berpasangan menyebar di ruang waktu
raja yang tertikam wajah Sritanjung

Dan leburlah lembab kerajaan karena dendam
dari hari penghabisan laknat muntahnya nafsu
di satu sungai deras alir wangi dendam yang hitam
dan pedusunan bertanah wangi tangan dunia padanya kini

Sumber: Majalah Konfrontasi No.24 Mei-Juni 1958, halaman 26-27.
*) Armaya, bernama lengkap Haji Abdul Kadir Zaelani Armaya

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: