Tinggalkan komentar

(Siasat, 1951) Puisi Sum Suradinata: Rumah yang Ditinggalkan

Puisi Sum Suradinata:

RUMAH YANG DITINGGALKAN

sejak angin pagi membersit kecil, menghela embun
di lembah hati: lalu mendaki gunung-gunung menghijau
sayu berkabut, sampai pulang mendayu kembali
meninggalkan senja menyepi diri, rumah ini
rumah yang ditinggalkan.

tak ada tawa mengepak gelak.
tak ada tangis meratap iba.

lalu nyanyi unggas membawa kenangan-mati ke alam
hidup dan rumah ini, rumah yang ditinggalkan
belum lagi mau membuka.

jika hujan menguak panas, pernah
kuncup-kuncup itu merengkah senyum:
bila bunga-bunga gugur ditiup angin musim,
anak dari padang hijau ramai berebut-rebutan
tapi,
rumah ini, rumah yang baru ditinggalkan
belum lagi mau membuka

Sumber: Majalah Siasat, Nomor 208 Tahun V, 18 Maret 1951, halaman 11

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: