Tinggalkan komentar

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Indonesia

Puisi Murya Arta*):

INDONESIA

Angin penghabisan dari pantai laut selatan
mengheningkan cipta bagi segala pejuang
keraguan telah mati
kesangsian hilang
persatuan di atas kebangsaan
meluap ke atas meninggikan derajat bagi tanah air
lalulah musafir yang hanya menangis

Lihat!
fajar tiada lagi
telah tiba giliran matahari beraja di kota siang
penuh kesabaran dan ketabahan melawan awan hitam
dan lingkaran dunia-murca tinggal memandang sendu
satu persatu diam
beku dan berkorban menjadi air untuk menyiram bibit
serta bunga yang harus mekar sekarang.

Diantara putus dan rusak
tunas muda muncul dengan umat sedunia
bebas
pun anggapan
maruto zaman
perihal agama dan keyakinan
bebas
anggapan kaum di sebelah barat bagi kita
buktinya nihil, kita berada di muka sekali

Laut selalu bebas, gelombang dan ombak
darat selalu sedia, gunung, bukit, rumput kering
adalah bahan-bahan perjuangan menyambung hidup
bersama ini asam garam
yang datang dari: “laut dan darat”
ia – s a t u

Sudah lama budaya kita di atas pancasila n o o r
sejak angin timur dan kipasan angin dari H I n d u –
I n d I a ……………………………………
datanglah kini saatnya dalam lambaian bunga
kapas putih …………………
mencari lawan, bersaing untuk mati bersama
maut menentang, gemas sehari-hari
T u h a n
dan m a k h l u k
hanya membuka jalan empat teduh yang abadi

Selama hembusan angin dingin tapi keras kemauannya
yang menggalang tertelungkup
yang tinggi patah
yang rendah di bawah
ombaklah selalu menang
untuk kapal, perahu layar
bagi nelayan yang berlabuh
o, semuanya perlu ombak sekalipun perang cinta angin
singgah pada: d a m a I

Yang berpangkal di tanah air, ratna permata
dan menjadi alam tempat kaum pelancong kemari
hasilnya dan kekayaannya, selalu jadi rebutan
jadi rebutan

Dan……
Indonesia……… sendu dalam duka
dulu dan sekarang
rakyatku, rakyatku, r a k y a t k u
menyambung rahman dan rahim
………………………………
kini kepala pusing

Sumber: Majalah Indonesia, Nomor 5 tahun II, mei 1951, halaman 19-20  

*) MURYA ARTHA, dilahirkan di Desa Parincahan, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, 20 Agustus 1920 dengan nama aslinya M. Husrien.  Banyak menggunakan nama samaran, antara lain Bujang Jauh, Emhart, HR Bandahara, M.Ch. Artum, M.Chayrin Artha, dan Arthum Artha. Ia meninggal dunia di Banjarmasin, 28 Oktober 2002

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: